28/05/2020

Ekspresi Salafus As-Shaleh di Malam Hari Raya Idul Fitri

Ketika bulan Ramadhan yang penuh keberkahan telah berakhir. Siang hari dan malam-malamnya akan turut beranjak pergi meninggalkan kita semua. Tidak akan tampak lagi lapar dan dahaga di siang hari yang akan menyelamatkan orang-orang yang berpuasa dari kobaran api neraka dan tidak akan terdengar lagi di malam hari suara merdu orang-orang bertadarus bersautan dari masjid ke masjid. Esok kala matahari berada di ufuk senja, bulan Ramadhan akan melambaikan tangan mengucapkan salam perpisahan. Bumi, langit dan alam semista akan terisak tangis karena ditinggal bulan Ramadhan.

“Selamat jalan! Bulan yang penuh ampunan dan keberkahan. Selamat jalan, semoga semua amal ibadah kami diterima dan semoga di tahun mendatang usia kami bisa menjamumu kembali dengan lebih baik lagi”. Amin

Jabir Radhiyallah ‘anhu menuturkan hadits dari Rasulullah ﷺ, bahwa Beliau bersabda:

إِذَا كَانَ آخِرُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ بَكَتِ السَّمَوَاتُ وَ الْأَرْضُ مُصِيبَةً لِأُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَ السَّلاَمُ , قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ , أَيُّ مُصِيبَةٍ هِيَ ؟ , قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : ذِهَابُ رَمَضَانَ فَإِنَّ الدَّعَوَاتِ فِيهِ مُسْتَجَابَةٌ وَالصَّدَقَاتِ مَقْبُولَةٌ وَالْحَسَنَاتِ مُضَاعَفَةٌ وَالْعَذَابَ مَدْفُوعٌ . فَأَيُّ مُصِيبَةٌ أَعْظَمُ مِنْ ذِهَابِ رَمَضَانَ فَإِذَا بَكَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ لِأَجْلِنَا فَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْبُكَاءِ وَالتَّأَسُّفِ لِمَا يَنْقَطِعُ عَنَّا مِنْ هَذِهِ الْفَضَائِلِ وَالْكَرَامَاتِ.

“Jika malam akhir bulan Ramadhan telah datang, maka menangislah langit dan bumi karena musibah yang menimpa umat Muhammad ﷺ.” Kemudian shahabat bertanya : “wahai Rasulullah ﷺ, musibah apakah itu?”, Rasululullah ﷺ menjawab : “perginya bulan Ramadhan, karena semua doa didalamnya dikabulkan, semua sedekah diterima, semua kebaikan dilipatgandakan, semua siksa dihindarkan. (Jika sudah demikian), masih adakah musibah yang lebih besar dibanding dengan perginya bulan Ramadlan?. Jika langit dan bumi saja menangis karena merasa kasihan terhadap kita, maka kita jauh lebih berhak untuk menangis dan bersedih atas terputusnya keutamaan dan kemuliaan ramadlan dari kita”.

*****

Sebagaimana kedatangan bulan Ramadhan memberikan kabar gembira, perpiasahan dengannya tentulah menyedihkan jiwa. Perpisahan Ramadhan dengan orang-orang yang beriman sebagaimana yang dilakukan para Salaf ash-Shalih adalah layaknya perpisahan seorang kekasih dengan pujaan hatinya karena dikhawatirkan bulan ini adalah pertemuan terakhir dengan mereka.

Merekalah generasi awal dan generasi terbaik umat ini. Mereka menggabungkan kesungguhan raga dalam beramal dan ketakwaan di dalam hati. Di jiwa mereka terdapat harapan besar agar ibadahnya diterima dan khawatir akan tertolak sia-sia.

Kita tahu, Para Salaf ash-Shalih telah merindukan Ramadhan, jauh sebelum kedatangannya. Mereka berdoa kepada Allah ﷻ agar usia mereka disampaikan kepada Ramadhan sejak 6 bulan sebelum bulan yang mulia ini tiba. Ketika Ramadhan berlalu, selama 6 bulan berikutnya mereka berdoa agar Allah ﷻ menerima amalan mereka di bulan Ramadhan.

Ekspresi kesedihan mereka tampak terlihat tatkala Ramadhan akan pergi meninggalkan mereka. Mereka berlomba-lomba meningkatkan dan menyempurnakan ibadah mereka lalu mereka bersungguh-sungguh dalam berharap agar amal mereka diterima dan takut amalnya ditolak. Mereka itu yang disebut dalam al-Qur’an:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ.

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 60-61).

Sayyidana Ali Karamallaha Wajhahu berkata:

كُوْنُوْا لِقُبُوْلِ العَمَلِ أَشَدَّ اِهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِالْعَمَلِ، أَلَمْ تَسْمَعُوْنَ اللهُ ﷻ يقول (إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ).

“Jadilah kalian! Lebih bersungguh-sungguh dalam diterimanya amal dari pada amal itu sendiri, tidakkah kalian mendengar Allah ﷻ telah berfirman: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Madinah: 27).

Dikisah, Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berangkat dari rumahnya menuju tempat shalat Idul Fitri. Dalam khatbahnya, beliau mengatakan:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّكُمْ صُمْتُمْ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا وَقُمْتُمْ ثَلاَثِيْنَ لَيْلَةً، وَخَرَجْتُمً الْيَوْمَ تَطْلُبُوْنَ إِلٰى اللهِ أَنْ يَتَقَبَّلَ مِنْكُمْ

“Wahai para jamaah sekalian, sesungguhnya kalian telah berpuasa selama 30 hari karena Allah. Dan kalian juga telah shalat di malam harinya selama 30 malam. Hari ini kalian keluar, meminta kepada Allah ﷻ agar berkenan menerima apa yang telah kalian lakukan”.

Di antara mereka (para salafu ash-Shalih) ada yang tampak sedih di hari Idul Fitri, lalu dikatakan kepadanya:

إِنَّهُ يَوْمُ فَرَحٍ وَسُرُوْرٍ، فَيَقُوْلُ: صَدَقْتُمْ، وَلَكِنَّيْ عَبْدٌ أَمَرَنِيْ مَوْلاَيَ أَنْ أَعْمَلَ لَهُ عَمَلًا، فَلاَ أَدْرِيْ أَيَقْبَلُهُ مِنَْيْ أَمْ لاَ؟

“Sesungguhnya hari Idul Fitri adalah hari kebahagiaan dan suka cita”. Lalu dijawab, “Benar! Namun, aku adalah seorang hamba, Tuanku memerintahkan aku untuk melakukan suatu pekerjaan. Aku tidak tahu apakah ia menerima apa yang telah aku kerjakan atau tidak”.

Wahab bin al-Wardi pernah melihat sekelompok orang yang tertawa-tawa di hari Idul Fitri, lalu ia mengatakan:

إِنْ كَانَ هَؤُلاَءُ تُقُبِّلَ مِنْهُمْ صَيَامُهُمْ، فَمَا هَذَا فِعْلُ الشَّاكِرِيْنَ، وَإِنْ كَانُوْا لَمْ يُتُقُبِّلْ مِنْهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الْخَائِفِيْنَ.

“Seandainya amalan puasa mereka diterima, maka bukanlah demikian prilaku orang-orang yang bersyukur. Jika amalan mereka belum diterima, maka hal itu bukanlah sikap orang-orang yang takut pada Allah ﷻ.”

Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat lain mempunyai kebiasan unik, beliau berseru dipenghujung Ramadhan:

لَيْتَ شِعْرِيْ! مَنْ هَذَا الْمَقْبُوْلُ فَنُهَنِّيْهِ؟ وَمَنْ هَذَا الْمَحْرُوْمُ فَنُعَزِّيْهِ؟

Duhai siapakah di malam ini dari kita ada amalnya yang diterima lalu kita beri ucapan selamat kepadanya? Siapakah pula di malam ini di tolak amalnya, lalu kita berkabung untuknya?”

Begitulah ekspresi mereka saat Ramadhan akan berpamit pulang. Mereka berada dalam kondisi harap-harap cemas apakah amalan ibadah mereka selama Ramadhan diterima oleh Allah ﷻ atau malah ditolak? Karena bagi mereka akhir Ramadhan adalah momentum evaluasi diri selama bulan Ramadhan dan wahana untuk saling mengingatkan agar selalu beramal kebaikan di bulan-bulan yang lain.

Waallahu A’lamu

Sumber:

🍉 Durratu an-Nashihin fi al-Wa’dhi wa al-Irsyadi| Toko Kitab al-Hidayah hal 11
🍉 Latha-if al-Ma’arif fima li Mawasimi al-‘Ami al-Wadhaif | Darul al-Kutub al-Ilmiyah hal 376-377.
________________________
Posted By: Abdul Adzim
Bangkalan, 27 Ramadhan 1441 H

Abdul Adzim

Lahir di Surabaya. Domisili Bangkalan Madura. Alumni Pondok Pesantren Sidogiri. Aktif mengajar di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan.

View all posts by Abdul Adzim →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *