Gara-Gara Nguras Tandon, Umat Islam Terbelakang

Semalem, tepatnya tanggal 7 mei 2020 bertepatan dengan bulan ramadhan, saya dan temen-temen nguras Tandon air pesantren yang sudah kotor. Banyak sekali lumut dan pasir yang mengendap. Memang sudah waktunya di kuras. Setelah sekitar tiga tahun belum dikuras lagi. Waktu yang tidak cukup lama, tapi memang sangat lama.

Waktu itu kami baru selesai berbuka puasa. Menyantap nasi yang dibungkus kotak kardus. Ada juga yang atom dan kertas minyak. Lumayan, dan memang tradisi buka puasa di pesantren kami seperti itu. Buka puasa Elit, pakek nasi kotakan selama dua puluh lima hari edisi bulan ramadhan, saja.

Setelah menyedot satu batang rokok ada temen yang ngajak nguras tandon. “ayok nguras tandon! Wes rusuh lho tandone. Krane sampek mampet kakean regetan.” spontan saya mengiyakan dan “ayo wes dari pada selak kewengen saiki langsung!” cletus saya.

“traweh disek bos!” salah satu temen memotong pembicaraan. Tanpa menggubris, saya langsung menyiapkan dua buah lampu sorot beserta kabel olornya. Langsung menuju jemuran dimana tandon berada. Ayo ham, mas gass! Ayo gas! Sahut mereka. Jek! Aku tak traweh disek! Yo wes traweho..!

Dari sini ada yang canggung nggak? Pasti bertanya apa mereka (kami) nggak traweh ya? Kok nggak traweh? Eman lho, setahun sekali. Lebih baik (saya, yang) traweh dulu, pahalanya banyak. Kamu ini gimana kok nggak traweh? Dasar payah! Dan masih banyak lagi celetukkan-celetukkan yang tidak bisa saya Tuliskan. Karena argumen dikepala manusia berbeda dari yang lain.

Sepintas, pernyataan, argumen, pendapat atau apalah, yang tersebut diatas, itu, ‘baik menurut Prespektif yang mengatakan’. Tapi tunggu dulu. Di antara kita bukan guru, dosen, malaikat apa lagi Tuhan. Jadi, pernyataan tadi kalau dibuat menilai sesama jenis manusia bukan kurang baik, tidak etis.

Dus, saat ada kasus semacam ini, akal adalah panglima dari kota yang bernama manusia. Rajanya siapa? Kata Imam Al-Ghozali adalah hati. Terus bagaimana dengan ego? Nah, ini yang perlu dikesampingkan dahulu. Dalam urusan hal sepele semacam ini panglima lebih berhak menentukan keputusan.

Maksudnya, kalau memang mau dimasukkan kedalam persoalan materi, persoalan traweh atau nguras tandon, seperti matematika, misalnya. 1 + 1 = 2. Maka, hasilnya akan sama saja. Kamu shalat, jamaah, traweh, 20 rakaat, di masjid. Ya kan? Mereka nguras tandon air pesantren, yang dibuat mandi, nyuci baju, nyuci beras emak dapur, buat wudlu. Hasilnya akan sama saja. Sama-sama dapet pahala. Soal siapa yang lebih banyak tanya saja sama malaikat Rakib. Karena dia yang mencatat amal baik manusia.

Trus gimana dong? Apanya yang gimana? Itu kan, kan, kan mereka nggak traweh, nggak dapet pahala dong. Padahal setahun sekali lho traweh itu. Pahalanya juga besar, seperti hadis-hadis yang ada di status dan story media sosial ig, wa dan lain-lain.

Oke, sekarang gini aja deh. Hidup ini jangan dihitung, dipertimbangkan dengan matematika materi. Sebenarnya, saya juga setuju, sepakat alangkah lebih baiknya traweh, jamaah, 20 rakaat plus witir di masjid. Tapi bukan 1 + 1 caranya. Dengan cara, misalnya, bahwa dilihat dari kacamata etika, estetika, penguras tandon tadi kurang. Atau mungkin kita lihat dari sudut pandang sosial kemasyarakatan, pesantren utamanya, mereka kurang tepat dan kurang gatuk.

Maka, alangkah indah jika yang kita persoalkan tidak melulu seputar ganjaran yang abstrak. Soal yang abstrak, seperti pahala, sudah ada yang ngatur. Malaikat Rakib dan Atid misalnya, dalam masalah pahala dan bukti catatan amal baik dan buruk sekalian. Kita lapangkan saja pikiran kita kepada hadis Nabi yang beliau bersabda “nahnu nahkumu bi aldhawahir.” kita hukumi yang dhohir, tampak, jelas, konkrit.

Itulah sebabnya kenapa umat Islam terbelakang. Karena waktunya habis buat debat masalah yang ndak nampak dan tidak konkrit. Urusan nilai-menilai sejawat, sejenis manusia ini sebenarnya tidak disetujui oleh Islam sendiri. Apa itu? Dhan, prasangka. Inna ba’dha dhanni itsmun. Rasan-rasan, itu juga masuk kategori ini, meski sudah jadi sego jangan diantara kita. Ha, kita?

Maju, itu bukan sekedar teknologi. Kesejahteraan rakyat, umat manusia, umat muslim utamanya, itu juga kemajuan. So, ayo lah kita buka perlahan fikiran kita. Sedikit berbeda dengan Imam Al-Ghozali, Al-Farabi, kalau tidak keliru ia mengatakan bahwa rajanya kota yang bernama manusia itu akal. Akal selain dari pada hati juga berperan penting dalam sebuah keputusan hidup masnusia.

Menjadi Pokok, bahwa akal dan hati ini sama-sama harus dipenuhi kebutuhannya. Hati dengan berdzikir. Akal dengan berfikir, membaca, menganalisa. Dan kedua hal ini adalah termasuk kedalam hal yang perlu di tunaikan dalam rangka mencapai kebahagiaan. Disamping ada juga kebutuhan biologis yang sudah kita penuhi setiap hari dan waktunya saat membutuhkan.

#ngajifilsafat
#kebahagiaan
#alGhozali
#alFarabi

Related Posts