Kajian I’tikafnya Kaum Perempuan di Tengah Pandemi Corona

Syarat dan Rukun I’tikaf menurut ulama jumhur ada 4, yaitu: mu’takif (orang yang i’tikaf), niat, tempat i’tikaf dan diam di dalam masjid. Ulama dari kalangan Madzhab Hanafi hanya mensyaratkan diamnya seseorang di dalam masjid saja, sementara tiga lainnya bukan termasuk rukun. Namun, ulama’ dari kalangan Madzhab Maliki justru menambahkan 1 rukun lainnya, yaitu bahwa orang yang beri’tikaf itu harus puasa.

Alhasil, rukun i’tikaf menurut Madzhab Maliki ada lima. Bagi orang yang tidak berpuasa, maka tidak ada i’tikaf baginya.
Para fuqaha sepakat bahwa i’tikafnya laki-laki dan perempuan, baik anak-anak atau mumayyiz, adalah sah. Namun, para fuqaha’ menambahkan beberapa syarat bahwa suatu i’tikaf wajib atau i’tikaf sunnah agar menjadi sah, maka pelakunya harus: Islam, beraqal, mumayyiz, naqa’ (masa terputus dari haidl atau nifas), dan suci dari hadats besar (jinabah). Jadi, i’tikafnya orang yang berhadats kecil adalah sah. Demikian juga, i’tikafnya anak yang belum baligh juga sah, asalkan memenuhi syarat dan rukun di atas.

Kali ini kita akan membahas mengenai i’tikafnya perempuan, dengan berbekal syarat dan rukun di atas. Para fuqaha intinya telah sepakat bahwa kaum perempuan juga boleh melakukan i’tikaf dan menyatakan sah i’tikafnya. Beberapa riwayat menjelaskan bahwa para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga membiasakan i’tikaf, tidak hanya ketika Baginda masih hidup, bahkan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di dalam kitab-kitab fiqih, para ulama’ memasukkan syarat lain bagi perempuan yang menghendaki i’tikaf. Syeikh Ibnu Hajar al-‘Asyqalany di dalam Fathu al-Bari, menukil sebuah keterangan dari Ibnu Mundzir rahimahumullah:

إن المرأة لا تعتكف حتى تستأذن زوجها، وأنها إذا اعتكفت بغير إذنه كان له أن يخرجها فإن كان بإذنه هل له أن يرجع فيمنعها؟ خلاف على ثلاثة أقوال: الأول: إذا أذن لها الزوج، ثم منعها أثم بذلك، وامتنعت. وهذا قول أهل الرأي. الثاني: ليس له ذلك، وبهذا قال مالك، وهذا الحديث حجة عليهم. الثالث: له أن يرجع فيمنعها

“Sesungguhnya seorang perempuan tidak boleh i’tikaf sehingga meminta ijin suaminya. Dan bilamana ia nekad i’tikaf tanpa seidzinnya, maka boleh bagi suaminya memerintah agar keluar dari i’tikafnya. Maka jika suaminya telah mengidzinkan sebelumnya, apakah boleh suaminya itu menarik idzinnya dan melarangnya? Terdapat tiga perbedaan pendapat: 1) apabila suaminya telah mengidzinkan sebelumnya, kemudian balik ia mencabut idzin itu dan melarangnya, maka tercegahlah ia dari melakukan i’tikaf. Pendapat ini merupakan pendapat ahlu al-ra’yi (Hanafiyah). 2) Suaminya tidak berhak untuk melarang. Ini adalah pendapat Imam Malik, dan hadits tentang Aisyah itu dijadikan landasan hujjah bagi para ulama Malikiyyah. 3) Suami boleh menarik idzinnya dan melarangnya secara mutlak.” (Ibn Hajar al-Asyqalany, Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., Juz 4, halaman 323).

Berangkat dari keterangan ini, Ibnu Hajar al-Asyqalany menyatakan:

المسجد شرط للاعتكاف؛ لأن النساء شرع لهن الاحتجاب في البيوت، فلو لم يكن المسجد شرطاً ما وقع ما ذُكر من الإذن والمنع، ولاكتفى لهن بالاعتكاف في مساجد بيوتهن

“Masjid merupakan syarat utama melakukan i’tikaf. Namun, karena perempuan itu disyariatkan agar melakukan ‘iddah di rumah saja, maka andaikan saja masjid bukan merupakan syarat bagi kondisi yang telah kami sebutkan tadi, yaitu keharusan adanya idzin suami dan bila tidak maka terhalang baginya i’tikaf, maka tentu cukup baginya beri’tikaf cukup di dalam masjid rumahnya saja.” (Ibn Hajar al-Asyqalany, Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., Juz 4, halaman 323).

Maksudnya, adalah masjid tetap merupakan syarat sah dari melaksanakan i’tikaf. Akan tetapi, karena perempuan memiliki illat wajib lainnya yang harus dipenuhi, yaitu wajib adanya idzin dari suami untuk beri’tikaf, dan adanya syariat yang mengharuskannya untuk menjaga diri dari pandangan orang lain selain suami dan mahramnya, maka baginya, memenuhi perintah wajib ini adalah yang lebih utama. Dengan demikian, taraf hukum minimal agar ia tetap bisa beri’tikaf adalah memakai hukum masjid dalam scope yang paling kecil, yaitu masjid rumah. Sebagaimana qaidah:

الأمر إذا ضاق اتسع إذا اتسع ضاق

“Urusan itu kalau terlalu sempit maka diperluas, dan jika terlalu luas, maka dipersempit.” (al-Asybah wa al-Nadhair).

Namun, pendapat bolehnya i’tikaf di masjid rumah ini adalah pendapat yang lemah (dla’’if) di kalangan Syafiiyah. Pendapat terkuatnya (mu’tamad) adalah i’tikaf tidak sah bila tidak dilakukan di masjid dan pendapat ini merupakan pendapat yang pertama (qaul awal). Sebagaimana hal ini menjadi pendapat dari Imam Nawawi rahimahullah.

إن الاعتكاف لا يصح إلا في المسجد؛ لأن النبي -صلى الله عليه وسلم- وأزواجه وأصحابه إنما اعتكفوا في المسجد مع المشقة في ملازمته، فلو جاز في البيت لفعلوه ولو مرة لا سيما النساء؛ لأن حاجتهن إليه في البيوت أكثر

“Sesungguhnya i’tikaf tidak sah bila tidak di masjid. Karena sesungguhnya Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama istri-istri beliau dan para sahabat senantiasa i’tikaf di masjid, meski dengan susah payah dalam melaksanakannya. Andaikan dibolehkan melakukannya di rumah, maka pasti mereka akan melakukannya, meskipun itu sekali, apalagi bagi para istri, karena hajat mereka dirumah itu justru lebih besar bila dibanding di masjid” (Syarah Nawawi ‘ala Muslim, Juz 4, halaman 201)

Kalau ada qaul awwal, apakah ada qaul tsany (pendapat kedua) dan qaul tsalits (pendapat ketiga) dari Madzhab Syafii? Jawabnya adalah ada. Qaul tsany dari Imam Syafii, ditemukan pada qaul qadim Imam Syafii sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar al-Asyqalany, yaitu:

لا تعتكف إلا في مسجد بيتها، ويجوز في غيره مع الكراهة

“Perempuan tidak boleh i’tikaf melainkan di masjid rumahnya. Akan tetapi boleh bersama kemakruhan baginya bila melakukan di masjid selain masjid rumahnya.” (Ibn Hajar al-Asyqalany, Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., Juz 4, halaman 323).

Apa alasan Imam Syafii rahimahullah menyatakan mutlaknya sifat kemakruhan ini? Alasannya adalah: bila tempat i’tikafnya berada di masjid yang banyak kerumunan jamaah laki-lakinya. Dan pendapat ini merupakan pendapat yang dlaif sebagaimana telah disebutkan di muka.

وقد أطلق الشافعي كراهته لهن في المسجد ، الذي تصلى فيه الجماعة ، واحتج بحديث الباب ، فإنه دال على كراهة الاعتكاف للمرأة إلا في مسجد بيتها ؛ لأنها تتعرض لكثرة من يراها

“Imam Syafii memutlakkan sifat kemakruhan perempuan yang i’tikaf di masjid, yakni tempat di mana banyak para jamaah laki-laki sholat di dalamnya. Beliau berpedoman pada hadits Aisyah juga dan menyatakan bahwa hadits itu menunjukkan sifat kemakruhan i’tikafnya perempuan, kecuali di masjid rumahnya. Alasannya, karena ia bisa dilihat oleh banyak orang.” (Ibn Hajar al-Asyqalany, Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., Juz 4, halaman 323).

Pendapat di atas, sedikit agak senada dengan pendapatnya Imam Ahmad Ibnu Hanbal rahimahullah. Akan tetapi Imam Ahmad memberikan batasan, bahwa i’tikafnya perempuan di dalam masjid yang ramai dikunjungi jamaah pria, adalah boleh dengan catatan suaminya juga turut serta i’tikaf.

وفي رواية لهم أن لها الاعتكاف في المسجد مع زوجها وبه قال أحمد

“Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa bagi perempuan boleh melakukan i’tikaf di masjid bersama suaminya. Dan pendapat ini dinyatakan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal.” (Ibn Hajar al-Asyqalany, Fathu al-Bari Syarah Shahih al-Bukhari, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, tt., Juz 4, halaman 323).

Alhasil, menurut pendapat kedua (qaul tsany) dari kalangan Syafiiyah, dapat ditarik kesimpulannya sebagai berikut:

1. Seorang perempuan boleh melakukan i’tikaf di masjid, namun status hukumnya adalah makruh. Masjid yang dimaksud adalah masjid yang banyak dikunjungi jamaah pria lain selain suaminya
2. Bila tanpa disertai suami, maka yang utama menurut Madzhab Syafii adalah i’tikaf di masjid rumahnya sebab adanya perintah wajib lain baginya yaitu melakukan ihtijab (terhalang dari pandang orang lain selain mahram atau suaminya)
Sementara itu menurut Madzhab Hanbali, dinyatakan bahwa:
1. I’tikafnya perempuan tetap harus dilakukan di masjid
2. Bila ia menghendaki i’tikaf, maka harus disertai suaminya. Tanpa suami, maka tidak sah pula i’tikaf karena i’tikafnya dia bersifat mamnu’ (tercegah).

Kajian lebih lanjut, simak terus disitus ini! Semoga bermanfaat! Wallahu a’lam bi al-shawab

Related Posts