28/05/2020

Kangen Ibu Saya, Lebaran dan Masakannya

Ketika mau hari raya seperti ini, saya selalu ingat emak. Kangen emak. Saya sebagai orang Madura yang hidup di desa biasa memanggil “emak”, ada juga “embu'” (sebutan ibu, mama, bunda, mami untuk sebagian orang umumnya di kota). Tapi bagi saya memanggil “emak” adalah kebiasaan yang diajarkan orang tua mulai sejak lahir sampai dewasa. Sebab anak yang baru lahir nggak mungkin bisa langsung memanggil bapak-ibunya.

Jadi ini hasil dari proses pendidikan orang tua bagaimana cara memanggil orang tua yang baik berdasarkan kebiasaan yang ada lingkungan itu. Penting untuk dihargai, dan jangan dirubah.

Terlepas dari itu, dari dua hari yang lalu saya jadi ingat ibu. Ibu yang mengandung saya, melahirkan saya, mendidik saya hingga saya bisa seperti sekarang ini. Ibu meninggal sudah lima tahun yang lalu akibat stroke mendadak yang dideritanya. Sungguh itu musibah yang bikin shock keluarga karena datang secara tiba-tiba.

Ibu adalah sosok yang betul-betul memperlihatkan perhatian yang cukup besar terhadap keluarganya. Ibu adalah sosok yang juga mampu mengimbangi aktivitas bapak. Bapak pekerja keras begitu juga dengan ibu. Dua-duanya sosok yang tak bisa tergantikan oleh apapun di kehidupan saya.

Rasa-rasanya tidak tidak ada yang lebih memahami seorang anak laki-laki dibanding ibunya. Dan sampai saat ini saya masih merasakan itu. Saya belum bisa berbakti sepenuhnya kepada ibu, dan ibu sudah dipanggil Allah duluan. Saya sadar bahwa saya tidak bisa membalas budi soerang ibu. Itu Mustahil.

Ketika tadi malam saya mau menyalakan kompor untuk buat kopi dan masak mie di perantauan, saya langsung teringat saat-saat membantu Ibu memasak di rumah. Rasanya nggak kuasa menahan air mata. Di momen seperti ini nggak bisa berkumpul dengan keluarga akibat pandemi, dan lebih memilih tidak pulkam atau mudik. Dan tetap harus yakin bahwa tidak pulkam adalah bentuk lain mencintai dan menyayangi keluarga.

Setiap menjelang hari raya, ibu biasanya menawarkan anak-anaknya untuk beli baju lebaran sekalipun ia harus ngutang sana-sini. Tak terkecuali saya sebagai anak bungsu. Beliau sosok yang tak pernah membeda-bedakan anak-anaknya dalam hal perhatian, ya mungkin karena ketiga-tiganya laki-laki semua. Beliau ingin melihat anak-anaknya sama dengan anak lain saat lebaran, bersalin dengan baju baru, bergembira bersama merayakan hari raya.

Setiap hari raya ibu biasanya memasak makanan kesukaan anak-anaknya yang berbeda. Ada yang suka masakan kayak gini, ada yang suka masakan kayak gitu. Tak semua anak-anak ibu sama selera makannya. Dan ibu rela menyediakan kesukaan dan selera masing-masing untuk melihat kegembiraan keluarga di hari raya.

Misal seperti kakak saya, ia nggak doyan dengan rendang daging yang dimasak dengan bumbu kuning, ibu menyediakan makanan kesukaan dia selain itu. Bahkan ia sangat alergi dan anti dengan baunya sehingga ibu juga rela menyediakan piring dan gelas minum khusus buat kakak saya supaya tidak tercampur dengan yang lain. Untungnya saya tidak seperti itu.

Yang paling saya ingat ketika pagi-pagi ibu harus menyiapkan makanan, mulai dari jajajanan lebaran yang biasa dibuat sendiri tanpa membeli. Dan itu biasanya beliau bangun sebelum subuh untuk menyiapkan itu semua hingga pagi menjelang shalat id. Di keluarga saya sebelum shalat id biasa makan bareng dulu dengan keluarga seperti kebanyakan orang pada umumnya untuk mengikuti sunah rasul.

Saat hidangan sudah siap di lencak dapur (red: meja dapur) Ibu seringkali hanya mengambil sedikit porsi. Mengambilnya paling akhir pula.

Pokoknya Ibu akan ngambil setelah saya, kakak-kakak saya dan bapak selesai mengambil nasi beserta lauk pauknya. Lalu setelah satu suapan biasanya Ibu bertanya pada saya dan kaka-kakak bagaimana penilaiannya akan masakannya; “juko’on Ancen njek?” (Ikannya keasinan nggak?)Tentu kami kompak bilang enak dan bersyukur sekali. Dan senang sekali melihat raut wajah ibu dengan senyumnya ketika makanannya lahap dimakan anak-anaknya.

Begitulah perhatian Ibu kepada saya dan keluarga. Saking perhatiannya ya, biasanya saya sudah makan, disuruh makan lagi. Kalau perlu, nasi dan lauk ditambahkan begitu saja ke piring walaupun belum habis. Mau protes, khawatir melukai hatinya. Mau diteruskan makan, perut sudah kenyang.

Bagaimana dengan kabar ibu kalian, sudahkah kalian menyempatkan diri untuk sekadar menyapa ibu di dapur pada hari raya ? Semoga kita bisa berbakti dengan sepenuh hati kepada ibu, yang masih ada kita maksimalkan, yang sudah meninggal kita kirimkan Fatihah tiap malam. Janga lupa.

Alfatihah…..

Saya hanya menyimpan foto ibu yang di KTP. Satu-satunya foto yang saya miliki sekarang. Dan saya simpan di dompet. Karena memang tak sempat foto keluarga dengan beliau.

Malang 23 Mei 2020

Moh Syahri

Moh Syahri

Founder Atorator.com  dan Santri Pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep Madura

View all posts by Moh Syahri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *