Kembali Kepada Al-Qur’annya Salaf, Bagaimana Maksudnya?

Membaca Al-Qur’an sehari 1 juz di bulan Ramadhan itu sudah cukup istimewa. Asumsinya Ramadhan selesai, bisa khatam sekali.

Sekali khatam saja sudah ada yang bilang, “Ngapain cepet-cepetan baca Al-Qur’an, emangnya lomba. Mending pelan tapi paham daripada cepet tapi tak paham.”

Kita tak akan membahas ini. Bahasan tentang berapa hari sekali para ulama dahulu mengkhatamkan Al-Qur’an, baik di Ramadhan ataupun diluar Ramadhan, silahkan klik: https://youtu.be/N9U3EYyMpfw. Itu video Saya sendiri. Tentu sangat senang jika channelnya disubscribe.

Kita akan bahas 30 bagian Al-Qur’an.

Pernahkan antum bertanya, siapa sebenarnya yang membagi Al-Qur’an ini menjadi 30 bagian atau sekarang sering dikenal dengan juz?

Apakah Jibril sedari awal sudah membagi menjadi 30 juz? Atau Nabi Muhammad ﷺ ketika mendiktekan kepada para shahabat penulis wahyu? Abu Bakar as-Siddiq saat kodifikasi Al-Qur’an? Atau Utsman bin Affan saat memerintahkan menulis ulang Al-Qur’an? Atau malah jangan-jangan bid’ah? Atau tak usah bertanya saja?

*Mushaf Utsmani*

Al-Qur’an yang dikenal sekarang ini kebanyakan berjumlah 30 juz. Pasti bakal ditertawakan jika ada yang bilang sudah baca Al-Qur’an juz 35 atau 60 juz.

Az-Zurqani (w. 1367 H) menyebutkan:

كانت المصاحف العثمانية مجردة من التجزئة التي نذكرها كما كانت مجردة من النقط والشكل. ولما امتد الزمان بالناس جعلوا يفتنون في المصاحف وتجزئتها عدة تجزئات مختلفة الاعتبارات.

Artinya: “Dahulu mushaf Ustmaniyah tidak ada pembagian/ juz seperti yang kita sebutkan. Sebagaimana juga tidak terdapat titik dan harakat. Setelah sekian lama, orang-orang mulai menghiasi Al-Qur’an dan membagi menjadi beberapa bagian yang berbeda berdasarkan banyak kriteria.

Mushaf Al-Qur’an di masa Utsman bin Affan, sebagaimana terlihat di gambar 1 dahulu belum ada tanda baca sama sekali, baik titik, harakat, nomor ayat, nomor halaman, maupun juz.

Itu adalah manuskrip mushaf Al-Qu’annya salaf masa shahabat. Hanya saja, sampai saat ini rasanya belum ada yang gembar-gembor ingin kembali ke salaf dalam masalah Al-Qur’an ini, termasuk yang biasanya lantang mengajak kembali ke salaf.

Gambar 1 adalah manuskrip yang dipercaya telah ada sejak abad 1 sampai 2 hijriyyah. Ditulis dengan khat kufi yang hari ini berada di musuem Topkapi Turki. Mushaf itu dikenal dengan nama “The Qur’an of Uthman” yang berisi 408 halaman folio[1].

Gambar 2 adalah coretan untuk memudahkan saja. Sedangkan gambar 3 adalah model mushaf Al-Qur’an hari ini.

Maka, pembagian Al-Qur’an menjadi 30 juz seperti saat ini adalah perkara baru, bukan dari Nabi ﷺ maupun dari para shahabat Nabi.

*Oleh Siapa Pembagian Itu?*

Lantas siapa yang pertama kali membagi Al-Qur’an menjadi 30 bagian?

Memang ada yang berkata bahwa pembagian Al-Qur’an menjadi 30 bagian ini dimulai masanya Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H).

Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menyebutkan bahwa pembagian Al-Qur’an menjadi 28, 30, 60 bagian itu terkenal sejak masa Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi (w. 95 H). Sebagaimana disebutkan:

فإنه قد علم أن أول ما جزئ القرآن بالحروف تجزئة ثمانية وعشرين وثلاثين وستين هذه التي تكون رءوس الأجزاء والأحزاب في أثناء السورة وأثناء القصة ونحو ذلك كان في زمن الحجاج وما بعده، وروي أن الحجاج أمر بذلك. ومن العراق فشا ذلك ولم يكن أهل المدينة يعرفون ذلك. (ابن تيمية، مجموع الفتاوى، 13/ 409)

Artinya: “Telah diketahui bahwa pembagian Al-Qur’an dengan huruf dibagi menjadi duapuluh delapan, tiga puluh, dan enam puluh yang terdapat pada permulaan setiap juz dan hizb disela-sela surat dan disela-sela kisah dan semisal itu. Hal itu terjadi pada masa Hajaj dan setelahnya. Diriwayatkan bahwa Hajjaj yang memerintahkan hal itu. Di Iraq hal itu telah dikenal, sementara penduduk Madinah tidak mengenalnya.”

Pembagian Al-Qur’an menjadi 28, 30, 60 terkenal sejak masa Hajaj Bin Yusuf Al-Tsaqafi (w. 95 H) bukan berarti Hajjaj bin Yusuf sendiri yang membaginya menjadi 28, 30, 60 bagian.

Hajjaj bin Yusuf memang pernah membagi Al-Qur’an menjadi beberapa bagian berdasarkan jumlah hurufnya. Tapi tak sampai membagi menjadi 30 bagian.

Ibnu Abi Daud (w. 316 H) menyebutkan sebuah kisah bahwa Hajjaj bin Yusuf bertanya kepada para qurra’ dan hafidz Al-Qur’an di masanya. Jika Al-Qur’an dibagi 2 bagian berdasarkan bilangan hurufnya, batasnya sampai mana? Para qurra’ menjawab sampai kata (وليتلطف). Maka hari ini beberapa mushaf masih mewarnai kata itu dengan tinta yang berbeda dengan lainnya, biasanya dengan tinta merah. Hajjaj bin Yusuf bertanya lagi, jika dibagi menjadi 1/3, 1/4, 1/5, 1/6, dan 1/7. Para qurra’ pun menjawabnya dengan detail pembagian Al-Qur’an dalam 3, 4, 5, 6, 7 bagian sesuai dengan jumlah huruf[2].

Hal itu agar memudahkan orang yang ingin mengkhatamkan Al-Qur’an tiap 2 hari sekali, 3 hari sekali sampai 7 hari sekali[3].

Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H) hanya bertanya sampai 7 bagian, tidak sampai 30 bagian. Hajjaj bin Yusuf (w. 95 H) sendiri terkenal mengkhatamkan Al-Qur’an sehari sekali[4].

Ada yang menyebut pembagian Al-Qur’an menjadi 30 juz itu dimungkinkan sejak masanya Abu Bakr bin Iyash; seorang tabiut tabiin yang hidup tahun 95-194 H. hal ditandai dengan ditemukannya sebuah kitab berjudul “Kitab Ajza’ Tsalatsin”; kitab 30 juz karya Abu Bakar bin Iyash (w. 193 H).

Kitab “Kitab Ajza’ Tsalatsin” itupun cuma katanya kitab itu ditulis oleh Abu Bakar bin Iyash, sebagaimana kata Ibnu an-Nadim (w. 438 H), karena sampai hari ini kitab itu belum ditemukan keberadaannya[5].

Meski tak jelas sejarah siapa yang pertama kali membagi Al-Qur’an menjadi 30 bagian/ juz, pembagian itu malah yang sangat terkenal sampai hari ini. Menurut Ibrahim bin Ismail al-Abyari (w. 1414 H), hal itu karena pembagian 30 juz cocok dengan pembagian hari dalam sebulan[6].

*Mungkin sejak zaman Umar bin Khattab?*

Ada yang berasumsi bahwa pembagian Al-Qur’an menjadi 30 bagian/ juz itu sejak masa Umar bin Khattab, saat mengumpulkan tarawih di masjid dipimpin satu imam yaitu Ubay bin Kaab.

Asumsi ini terbantahkan dengan beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa Ubay bin Ka’ab shalat tarawih 21 rakaat membaca 100an ayat tiap rakaatnya. Sebagaimana riwayat dari Abdurrazzaq:

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ، “أَنَّ عُمَرَ: جَمَعَ النَّاسَ فِي رَمَضَانَ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَعَلَى تَمِيمٍ الدَّارِيِّ عَلَى إِحْدَى وَعِشْرِينَ رَكْعَةُ يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينَ وَيَنْصَرِفُونَ عِنْدَ فُرُوعِ الْفَجْرِ”.[7] (مصنف عبد الرزاق الصنعاني (4/ 260)

Artinya: “Dari As-Saib bin Yazid, bahwasanya Umar mengumpulkan orang-orang di bulan Ramadhan untuk diimami Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari sebanyak 21 rakaat. Mereka membaca ayat-ayat ratusan dan pulang menjelang fajar” (HR. Abdurrazzaq).

Sa’ib bin Yazid sampai menyebutkan bahwa selesai tarawihnya Ubay bin Ka’ab itu hampir masuk waktu shubuh. 21 rakaat dikalikan 100an ayat, berarti sekitar 2.100an ayat yang dibaca, atau sekitar 1/3 Al-Qur’an.

Riwayat lain menyebutkan lebih sedikit, dari al-Marwazi (w. 294 H):

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ: «كَانَ الْقَارِئُ يَقْرَأُ فِي رَمَضَانَ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِخَمْسِينَ آيَةً، بِسِتِّينَ آيَةً، وَنَحْوِ ذَلِكَ».[8]

Artinya: “Dari Saib bin Yazid berkata: “Imam/ Qari’ membaca Al-Qur’an di masa Umar bin Khattab saat Ramadhan di setiap rakaat sekitar 50 ayat, 60 ayat atau semisalnya setiap satu rakaat.”

Jikapun setiap rakaat dibaca 50an ayat, maka 21 rakaat dibaca sekitar 1.050an ayat, atau sekitar 1/6 Al-Qur’an. Itu berarti pembagian Al-Qur’an menjadi 30 juz bukan di masa Umar bin Khattab.

Lantas, siapa sebenarnya yang membagi Al-Qur’an ini menjadi 30 bagian atau sekarang sering dikenal dengan juz?

Jawabnya: Saya juga tak tahu. Tulisan panjang-panjang kok cuma mau bilang tidak tahu. Jika pembaca tahu, bagi-bagi ilmunya ya.

*Shahabat Nabi Membagi Al-Qur’an*

Bagaimana dengan shahabat Nabi? Ada beberapa catatan dari shahabat Nabi saat membagi bacaan Al-Qur’an.

Aus bin Huzaifah berkata:

سَأَلْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا: ثَلَاثٌ، وَخَمْسٌ، وَسَبْعٌ، وَتِسْعٌ، وَإِحْدَى عَشْرَةَ، وَثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ وَحْدَهُ (رواه أبو داود)

Artinya: “Aku bertanya kepada para shahabat Rasulullah ﷺ bagaimana mereka membagi-bagi Al-Qur’an?” Mereka menjawab, “Dibagi menjadi tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas dan hizb mufashol tersendiri.” (HR. Abu Daud).

Maksud dari hadits diatas adalah Al-Quran dibagi menjadi 7 bagian. Pembagian dimulai dari surah Al-Baqarah terus ke belakang yakni 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, 13 surat kemudian mufashshal.

Bagian tersebut, jika dirinci maka akan menjadi seperti berikut:

– Bagian pertama yaitu 3 surah (al-Baqarah, Ali ‘Imran, an-Nisaa’),

– Bagian kedua yaitu 5 surah(dari al-Ma’idah sampai dengan at-Taubah),

– Bagian ketiga yaitu7 surah (dari Yunus sampai dengan an-Nahl),

– Bagian keempat yaitu ada 9surah (Al-Isra’ sampai dengan Al-Furqan),

– Bagian kelima yaitu ada11 surah (Asy-Syu’ara’ sampai dengan Yaasiin),

– Bagian keenam yaitu ada 13surah (Ash-Shaaffaat sampai dengan Al-Hujurat)

– Bagian ketujuh biasa disebut Al-Mufashshal yang artinya adalah secara terperinci. Maksudnya surat-surat yang ayatnya pendek-pendek yang dimulai dari surah Qaf sampai dengan An-Nas.

Jadi shahabat Nabi membagi Al-Qur’an untuk dikhatamkan menjadi 7 juz atau bagian.

*Kata juz sudah dari zaman Nabi*

Istilah juz atau bagian dari Al-Qur’an memang sudah ada sejak zaman Nabi ﷺ. Hanya saja, juz disini adalah bagian tertentu yang menjadi kebiasaan masing-masing shahabat. Tak disebutkan berapa ayat atau lembar dari satu juz itu.Sebagaimana riwayat:

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: “اسْتَأْذَنَ رَجُلٌ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَقَالَ: إِنَّهُ قَدْ فَاتَنِي اللَّيْلَةَ جُزْئِي مِنَ الْقُرْآنِ، فَإِنِّي لَا أُؤْثِرُ عَلَيْهِ شَيْئًا”[9]

Artinya: “Dari Mughirah bin Syu’bah berkata: Ada seorang meminta izin kepada Nabi ﷺ ketika diantara Makkah dan Madinah seraya berkata: Tadi malam saya tak membaca “juz-ku” dari Al-Qur’an. Saya tak sempat sama sekali.

Kata juz, hizb dan wirid sebenarnya memiliki arti yang sama[10]. Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa lebih baik digunakan istilah juz daripada hizb. Sebagaimana riwayat dari Nafi’ bin Jubair:

عن ابْن الْهَادِ قَالَ: سَأَلَنِي نَافِعُ بْنُ جُبَيْرٍ فَقَالَ: فِي كَمْ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ فَقُلْتُ: مَا أُحَزِّبُهُ، فَقَالَ نَافِعٌ: لَا تَقُلْ: مَا أُحَزِّبُهُ، فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ: «قَرَأْتُ جُزْءًا مِنَ الْقُرْآنِ»[11]

Artinya: “Dari Ibnu al-Had berkata: saya ditanya Nafi’ bin Jubair, berapa kamu membaca Al-Qur’an? Saya menjawab: Saya tak menghizb atau membaginya. Karena Rasulullah bersabda: Saya membaca juz dari Al-Qur’an.

Jadi, masih ingin kembali ke Al-Qur’annya para salaf shahabat?

Note:

[1] Lihat selengkapnya klik: https://www.islamic-awareness.org/quran/text/mss/

[2] Ibnu Abi Daud (w. 316 H). al-Mashahif, hal. 276

[3] Ibrahim bin Ismail al-Abyari (w. 1414 H), al-Mausuah al-Qur’aniyyah, juz 1, hal. 380

[4] Ibnu Abi Daud (w. 316 H). al-Mashahif, hal. 119

[5] Ibnu an-Nadim (w. 438 H), al-Fahrasat, hal. 56

[6] Ibrahim bin Ismail al-Abyari (w. 1414 H), al-Mausuah al-Qur’aniyyah, juz 1, hal. 381

[7] Abdurrazzaq as-Shan’ani (w. 211 H), Mushannaf, juz 4, hal. 260

[8] Muhammad bin Nashr al-Marwazi (w. 294 H), Mukhtashar Qiyam al-Lail wa Qiyam Ramadhan, hal. 223

[9] Ibnu Abi Daud (w. 316 H). al-Mashahif, hal. 274

[10] Ali bin Muhammad as-Sakhawi (w. 643 H), Jamal al-Qurra’ wa Kamal al-Iqra’, hal. 213

[11] Ibnu Abi Daud (w. 316 H). al-Mashahif, hal. 274

Related Posts