Khawlah bint Tsa’labah; Seorang Perempuan yang Menggugat Tuhan

Sebelum Tuhan membicarakan tentangnya, Tsa’labah yang memiliki nama panjang Khawlah bint Tsa’labah bin Ashram bin Fahd bin Tsa’labah bin Ghanam bin ‘Auf adalah seorang perempuan biasa yang hidup pada abad ketujuh dan berdomisili di Madinah, sebuah daerah di Semenanjung Arab.

Suatu ketika, sesaat setelah Khawlah bint Tsa’labah mengerjakan shalat di kamarnya, Aws ibn Samit, suami Khawlah bint Tsa’labah, pulang ke rumah dalam keadaan yang sangat lapar. Setelah sempat berkeliling rumah, namun tidak di dapatinya secuil makanan pun di dalam rumahnya, kemarahan Aws ibn Samit semakin menjadi-jadi .

Dengan di selimuti amarah yang besar, tanpa sadar, Aws ibn Samit menghardik istrinya, Kawlah bint Tsa’labah dengan berkata, “Bagiku, Kau tak ubahnya punggung ibuku”.

Meskipun sudah lama menjalin tali pernikahan dengan Aws ibn Samit, namun bagi Khawlah bint Tsa’labah, sepenggal kata-kata itu cukup menyakitkan. Kata tersebut merupakan ungkapan zihar yang secara tidak langsung telah menjadikan lepasnya hubungan di antara keduanya.

Lebih lanjut, menurut adat bangsa Arab,  sudah tidak ada cara lagi untuk melepaskan atau menghapuskan sumpah zihar tersebut. Oleh karena itu, selepas Aws ibn Samit mengucapkan kata tersebut, haram hukumnya bagi Aws ibn Samit untuk menyentuh Khawlah bint Tsa’labah. Namun demikian, di sisi lain, sebelum ada putusan yang sah dari dewan hakim, Khawlah tetaplah masih menjadi istri Aws ibn Samit.

Satu-satunya jalan yang dimiliki Khawlah bint Tsa’labah adalah dengan mengadukannya kepada kekuatan yang lebih tinggi dari adat istiadat dan otoritas patriarkal. Oleh karena itu, Khawlah bint Tsa’labah mengadukan permasalahan ini kepada Allah.

Bagi Khawlah bint Tsa’labah, mengadu kepada Allah bukanlah perkara yang sulit. Yang menjadikannya sulit adalah menunggu jawaban dari-Nya.

Merujuk kepada pengertian yang dimunculkan Marshal Hodgson yang kemudian dikutip oleh Ingrid Mattson,  dalam tradisi Irano-Semitik, jawaban yang diharapkan oleh segenap manusia dari Tuhan tidak hanya berupa terwujudnya rasa tenang, namun juga harus dapat terjadi perubahan sosial.

Artinya, untuk setiap individu, bisa jadi jawaban Tuhan itu muncul dalam bentuk seseorang yang baik hatinya datang dengan membawakan makanan dan menghibur; matahari yang bersinar dengan cerah menggeser awan mendung; atau muncul dalam bentuk mimpi.

Dan untuk segenap masyarakat, jawaban Tuhan dapat muncul dalam bentuk perubahan sosial yang lebih nyata. Untuk itulah kemudian Tuhan mengutus seorang Rasul yang diberikan wewenang untuk dapat berbicara atas nama-Nya.

Oleh karena itu, Khawlah bint Tsa’labah kemudian bergegas mendatangi Rasulullah SAW untuk menceritakan secara detail keseluruhan tentang apa yang sudah di alaminya dengan suaminya, Aws ibn Samit.

Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Khawlah, adat dan kebiasaan dipandang sebagai norma selama Tuhan belum menetapkan suatu hukum, dan Nabi belum menerima wahyu yang berkaitan dengan zihar. Wahai Khawlah, anak pamanmu (Aws ibn Samit) itu adalah seorang laki-laki yang telah tua, maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap suamimu”.

Mendengar jawaban tersebut, Khawlah bint Tsa’labah merasa kecewa. Lantas ia melanjutkan untuk mengadu kepada Allah untuk meminta semacam hak amandemnya sebagai seorang hamba yang tertindas. Sembari terus mengadu kepada Allah, Khawlah bint Tsa’labah duduk di dekat Rasulullah SAW berharap sebuah wahyu segera diturunkan sebagai sebuah jawaban atas permasalahan dari-Nya.

Tidak lama setelah itu, Rasulullah SAW menundukkan kepalanya, pertanda sebuah wahyu akan segera diturunkan. Benar saja. Wahyu yang dinantikan oleh Khawlah Tsa’labah diturunkan kepada Rasulullah SAW.

Dengan sangat indah, Allah SWT menjawab seluruh permasalahan yang dialami oleh Khawlah Tsa’labah dalam Q.S al-Mujadalah [58]: 1-6 yang berarti wanita yang mengajukan gugatan.

Rangkaian yang terdapat dalam Q.S. al-Mujadalah [58]: 1-6 menegaskan bahwa Allah SWT telah menguatkan keyakinan kepada Khawlah bint Tsa’labah bahwa kejadian yang menimpa dirinya merupakan sebuah ketidakadilan sekaligus menetapkan hukum haram atas kejadian tersebut.

Melalui kisah tersebut, menegaskan bahwa Allah SWT senantiasa mendengarkan segala bentuk doa yang diucapkan umat-Nya. Persoalan jawaban, mari serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam…

Disarikan dari Ingrid Martson, Ulumul Quran Zaman Kita, Jakarta: Zaman, 2013.

Related Posts