Kisah Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Menyelamatkan Santrinya - Atorcator

Kisah Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Menyelamatkan Santrinya

Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki bercerita kejadian suatu hari saat beliau menghadiri undangan tasyakuran rumah baru milik salah satu muhibbin Abuya di Kota Madinah.

Pada waktu yang telah ditentukan, Abuya berangkat menghadiri acara tersebut. Seperti biasa, beliau pasti mengajak sebagian santrinya secara bergiliran kecuali mereka yang berperan sebagai Muqri’ (Juru Qira’ah) atau Munsyid (Juru Qasidah) dimana keduanya lebih sering diajak oleh beliau dibandingkan santri lainnya. Entah karena faktor lupa atau yang bersangkutan sedang tidak ada –Wallahu a’lam– intinya saat itu beliau tidak mengajak santri Muqri’.

Acara hendak dimulai. Shahibul bait menyerahkan acara sepenuhnya kepada Abuya untuk dikemas, dan dipimpin seperti biasanya. Ketika memasuki susunan acara pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Abuya tampak menolah-noleh mencari seseorang yang bisa dan biasa membaca Al-Qur’an namun tak mendapatinya. Agar acara tidak molor maka Abuya langsung menunjuk salah satu santrinya untuk membacakan ayat suci Al-Qur’an.

Si santri kaget bukan kepalang mendapat perintah seperti itu. Tidak menyangka akan ditunjuk oleh Abuya mengingat ia memang tidak ahli dalam qira’ah. Demi memenuhi perintah sang maha guru, ia pun memberanikan diri untuk tampil meski sedang kebingungan ayat apa yang akan dibaca. Akhirnya Ia membaca tiga Surah dengan nada ala kadarnya.

Mendengar si santri membaca tiga Surah itu, para hadirin keheranan. Tentu saja hal ini jika dibiarkan akan membuat malu karena tidak seperti biasa terjadi. Maka, Abuya sebagai maha guru yang baik dan perhatian menyiapkan jawaban penyelamat. Usai si santri membacanya, Abuya dengan sigap mengambil mikrofon dan langsung berceramah. Dalam ceramahnya tersebut beliau menyinggung tentang bacaan tiga Surah Al-Qur’an tadi.

Beliau berkata, “Bacaan anak tadi sangatlah tepat dan cocok dengan acara tasyakuran rumah ini. Dengan membaca Surah “Al-Mu’awwidzat” tersebut ia berlindung kepada Allah sekaligus berdoa untuk shahibul bait agar diselamatkan dari gangguan manusia yang jahat dan hasud, serta diselamatkan dari godaan setan yang terlaknat. Sehingga shahibul bait dapat hidup tenang dan bahagia di rumah barunya ini”.

Menyimak penjelasan Abuya, para hadirin dan shahibul bait merasa senang dan tidak lagi keheranan.

Masya Allah, beginilah salah satu bentuk perhatian, kasih sayang, dan kepedulian Abuya Sayyid Muhammad kepada santrinya. Beliau tidak rela apabila santrinya diinjak-injak dan dipermalukan oleh orang lain.

Sumber: Majalah Mafahim Edisi 36 Halaman 56 dan Bangkit-Media

komentar

Related Posts