Kita Sayang Keluarga, Jangan Pulang Kampung Dulu

Kita masih di perantauan, terjebak virus Covid-19 dan masih berujung PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang sebenarnya menurut saya tidak terlalu signifikan untuk mencegah menularnya virus Covid-19 ini. Dan sebagian besar orang tidak paham fungsi dan teknis pelaksanaannya. Tapi ya sudahlah ikuti saja.

Jujur, dalam situasi darurat seperti ini bukan tidak mungkin lagi para perantau akan mengalami sedikit stres dan bingung karena terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan, bahkan bisa jadi mendekati kerugian. Usaha mandeg, pendapatan defisit, pekerjaan dicabut.

Imbauan tidak boleh mudik dari pemerintah, tentu harus kita ikuti. Apalagi sudah berbentuk larangan. Ya harus kita patuhi. Sangat bisa seandainya saya mau pakai cara ngawur brutal dan memberontak. Itu sangat bisa. Tapi apa iya itu baik bagi saya dan orang lain yang melihatnya. Apa iya, saya sebagai kaum terpelajar dan terdidik akan melakukan cara-cara brutal, nekat yang tak berperikemanusiaan.

Sekarang coba berpikir dan bertanya pada nurani kita masing-masing, apakah masih ada sisa ruang kepedulian kita ? Bisa jadi kita akan menolak itu semua karena visi kita pulkam adalah birrul walidain. Ya paham. Semua yang pulkam pasti rindu keluarga, ibu, ayah, kakak, adek, nenek , om, tante dll. Ingin bertemu keluarga berpelukan, salaman, cipika-cipiki, makan bersama dan tertawa bareng dengan meraka keluarga tercinta.

Sekali lagi, mari kita ketuk pintu hati nurani kita, masihkah ada sisa ruang kepedulian dalam hati kita ? Saya tidak bisa membayangkan (nauzubillah) seandainya saya menjadi agen virus Corona yang tanpa gejala yang berpotensi menular kepada keluarga besar, misal bapak saya yang sudah berumur 70 lebih. Semoga dijauhkan. Kita sama-sama tidak tahu apa kita sudah terjangkit virus atau tidak. Sebab virus ini nggak kelihatan, yang pasti kita harus berupaya untuk menghindarinya dengan segala usaha dan kekuatan doa.

Memang sedikit dilema, tapi sudahlah. Ini pilihan paling tepat untuk tidak pulkam dulu sebelum kondisi ini benar-benar kondusif. Kita sama-sama tidak ingin kebahagiaan berkumpul dengan keluarga di rumah justru menjadi bumerang menularnya virus Covid-19. Nanti akan menjadi ironi tersendiri.

Boleh kita bersedih, boleh kita meneteskan air mata sebab rindu ini belum terbayar dengan tuntas akibat Corona. Saya tidak punya siapapun di sini, saya hanya punya teman-teman baik yang setiap hari menemani saya bercerita dan ketawa bersama demi menutupi kesedihan rindu dengan keluarga.

Mari kita menahan diri dulu. Jangan egois. Ini juga demi kebaikan kita bersama. Kita ingin sama-sama bahagia dan selamat. Keluarga di sana bahagia, kita pun juga bahagia.

Salam

(Ket foto: para santri sedang ziarah ke makam Gus Hilman Wajdi bin KH Hasyim Muzadi ; alfatihah )

Malang 14 Mei 2020

Moh Syahri

Related Posts