“Maleman” Cara Masyarakat Madura Menyambut Lailatul Qodar - Atorcator

“Maleman” Cara Masyarakat Madura Menyambut Lailatul Qodar

Lailatul qodar merupakan malam yang sangat dinanti-nantikan oleh kaum muslimin di penjruru dunia termasuk Indonesia saat bulan Ramadhan. Lailatul qodar adalah peristiwa malam diturunkannya Al-Qur’an. Pada saat malam lailatul qodar para malaikat termasuk malaikat Jibril turun ke bumi. Amal ibadah pada malam itu pahalanya lebih baik daripada pahala ibadah seribu bulan sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qodar.

Walaupun turunnya lailatul qodar itu misteri dan banyak pendapat mengenai  kapan lailatul qodar itu turun, namun umat Islam tetap berlomba-lomba memburu malam yang mulia itu. Karena mereka yakin amal ibadah pada malam itu pahalanya lebih baik daripada pahala ibadah seribu bulan, ingat! bukan setara tetapi lebih baik dari seribu bulan. Umur manusia belum tentu sampai apalagi dengan full ibadah.

Biasanya kaum muslimin meningkatkan intensitas ibadahnya dari hari-hari biasanya. Banyak ibadah yang sangat dianjurkan dalam menyambut lailatul qodar yaitu di antaranya shalat malam, i’tikaf di masjid membaca Al-Qur’an dan berbagai macam ibadah lainnya yang tak kalah utama.

Ada berbagai macam cara yang dilakukan kaum muslimin dalam menyambut datangnya malam lailatul qodar di antaranya adalah masyarakat Sumenep Jawa timur tepatnya masyarakat Desa Rajun kecamatan Pasongsongan. Masyarakat di sana menyebutnya “maleman”.

Meleman” adalah sebuah adat di mana warga mengundang sanak famili dan para tetangga untuk berbuka bersama. Tuan rumah menyediakan ta’jil dan menu berbuka lainnya untuk para undangan.

Istilah “maleman” diambil dari kata “malem” dalam bahasa Madura yang artinya malam. Maksudnya malam di sini adalah malam lailatul qodar. Masyarakat menyambut malam lailatul qodar dengan bersedekah makanan buka puasa kepada orang-orang yang berpuasa. Intinya yang paling utama adalah bersedekah bukan pada ritual keagamaanya.

Umumnya masyarakat menggelar acara maleman pada tanggal ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan yaitu dari tanggal 21, 23, 25 sampai 27 secara bergiliran. Hal ini sesuai dengan hadist nabi yang termasyhur itu yang menyatakan bahwa malam lailatul qodar turun pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Masyarakat melaksanakan maleman ini atas dasar suka rela dari hati yang paling dalam. Tidak ada paksaa. Mereka hanya berharap ridho Allah dan syukur-syukur bersamaan dengan malam lailatul qodar.

Oleh karena masyarakat melaksanakan maleman secara ikhlas maka menu yang disajikan kepada tamu undangan bervariasi sesuai dengan kemampuan mereka. Bagi warga yang berkecukupan hidangan yang disajikan cukup mewah menurut masyarakat di sana. Ada juga yang hanya menyediakan menu ala kadarnya sesuai kemampuan.

Biasanya para tamu undangan yang sebelumnya diundang secara dor to dor bukan melalui surat undangan akan hadir 20 sampai 30 menit sebelum adzan maghrib waktu berbuka tiba. Waktu itu digunakan untuk bertawasul kepada Nabi Muhammad, para ulama dan sesepuh si shahibul hajah. Kemudian dilanjutkan dengan dzikir tahlil pendek dan kemudian ditutup dengan doa. Ritual keagamaannya sederhana.

Pertanyaannya adalah kenapa acara maleman ini hanya sampai pada tanggal 27 saja? Bukankah masih ada tanggal 29?. Iya, karena malam ke 29 adalah malam “telasan sarapi” artinya lebaran serabi. Sesuai namanya masyarakat berbondong-bondong membuat serabi dengan beragam variasi seperti serabi kuah gula aren atau serabih kuah santan manis.

Kemudian serabi dengan bermacam varian rasa tersebut dinikmati bersama keluarga dan dihantarkan kepada para tetangga dekat. Ada juga yang menghantarkan serabih kuah tersebut ke masjid atau mushala tempat shalat tarawih dilaksanakan, supaya para jemaah dapat menikmatinya.

Di samping melaksanakan tarawih, tadarus dan shalat malam masyarakat Desa Rajun Kabupaten Sumenep ini juga gemar bersedekah dengan memberikan makanan kepada orang-orang yang berpuasa. Karena mereka meyakini akan pahala dan manfaat yang akan didapat.

Itulah cara Masyarakat Desa Rajun dalam menyambut malam lailatul qodar dengan cara khasnya yaitu “maleman”.

komentar

Related Posts