Memaafkan, Kemanusiaan dan Setan - Atorcator

Memaafkan, Kemanusiaan dan Setan

Ketika takbir dikumandangkan melalui toa-toa masjid, alangkah bahagianya orang-orang yang menjalani ibadah puasa karena keesokan harinya sudah bisa makan dan menjalani lebaran sebagai perayaan dari laku puasa selama satu bulan sebelumnya. Kebahagiaan semakin terlihat ketika kunjungan sanak famili, yang mungkin sebelumnya tidak ada kesempatan bertemu akhirnya bisa bertemu. Atau sebelumnya tidak pernah berkomunikasi, pada saat lebaran tiba, semua seperti kembali dengan sendirinya sebagaimana harusnya.

Komunikasi saat lebaran juga dijadikan sebagai kesempatan untuk bermaaf-maafan satu sama lain. Barangkali selama ini ada satu atau banyak salah, dalam momentum lebaran semua harus dileburkan. Kebencian misalnya, harus dihilangkan melalui tali silaturahmi dan tentu peleburan itu juga ditandai dengan makan bersama diselingi canda-tawa.

Berhubung pandemi masih menghantui setiap pintu kita semua, komunikasi pun dilakukan secara virtual. Esensinya sama, kita bisa berkomunikasi langsung dan melihat bagaimana wajah orang tua, sanak famili  atau kerabat lainnya di tempat masing-masing. Kita juga tahu, makanan apa yang sedang mereka nikmati, atau jajanan dengan toples bentuk apa yang disiapkan untuk kedatangan tamu. Tentu, ucapan minta maaf akan tetap terlaksana, dengan menatap mimik wajah dari kejauhan.

Memaafkan adalah bagian dari kemanusiaan. Dan, lebaran dianggap kesempatan yang baik untuk melaksanakannya. Sebelum itu, pada saat bulan ramadan, dalam Islam dipercaya bahwa setan telah dibelenggu. Sehingga manusia diharapkan mampu dan bisa menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya, berbuat baik sebanyak-banyaknya. Dalam bentuk apa saja, sesuai kemampuan diri masing-masing. Sebab apa, karena setan sudah dikurung sehingga manusia untuk melakukan suatu perbuatan salah dapat diminimalisir.

Artinya, kita percaya bahwa laku salah itu adalah perbuatan dari setan. Jadi, harapan dari bulan puasa itu adalah laku baik, yang dalam hal ini lebih banyak dilakukan hubungannya manusia dengan Tuhan. Harapan lain yang utama dari dimensi vertikal ini, tidak lain adalah untuk menghadirkan dimensi horizontal. Dimulai dari lebaran dengan silaturahmi dan memaafkan.

Setelah lebaran, dimensi vertikal yang selama satu bulan dan dengan dibelenggunya setan sebelumnya, diharapkan mampu menjadi latihan dan bekal selama satu tahun selanjutnya. Di mana, keberhasilan ibadah puasa itu terlihat jika laku kita setelah lebaran konsisten sebagaimana pada saat menjalani puasa yang penuh kesabaran, rasa syukur dan bahagia menjalaninya. Dan semoga lebih baik lagi.

Sesungguhnya, kemanusiaan kita tidak pernah hilang. Ada yang percaya, bahwa kemanusiaan kita mulai hilang. Saya percaya, sebagaimana yang diyakini oleh Yuval Noah Harari, seorang yang dikenal belakangan ini karena mampu menulis sejarah manusia dengan baik, bahwa sejak manusia menjadi Homo Erectus yang hanya mampu menghasilkan pisau tajam.

Lalu menjadi Homo Sapiens, kita yang sekarang dengan pengembangan terbesar pada ilmu pengetahuan yang menghasilkan pesawat terbang dan komputer misalnya. Hingga belakangan, manusia mulai beranjak menjadi Homo Deus, yang proyek terbesarnya adalah mencapai kebahagiaan, menghindari kematian menuju keilahian, tetap saja kemanusiaan itu tidak akan pernah hilang.

Itu sebabnya, manusia bisa menyelami masa lalunya dan mulai menebak-nebak masa depan yang sebenarnya adalah wilayah Tuhan. Lalu dengan dalil apa kiranya kita menganggap kemanusiaan kita mulai hilang, jika sebenarnya kita tidak pernah menemukannya?

Namun demikian, manusia tetaplah manusia. Kemanusiaan tetap harus kita cari dan ditemukan. Sebab benar bahwa kita adalah manusia yang selalu kesetanan. Sedangkan setan, kita tidak pernah mendengar apalagi tahu apakah pernah mengalami kemanusiaan, sebenarnya itu laku yang harus kita perjuangkan.

komentar

Related Posts