Membereskan Wudhu Bathin

Hampir semua merasa sempurna dengan wudhu dhohir, seperti membasuh semua anggota sesuai kaidah fikih, tapi tak semua bisa selesai dengan wudhu bathin.

Apa sih wudhu bathin ? Begini penjelasan imam Hatim al-Ashom dalam kitab al-qulyubi

وأما الوضوء الباطن فأغسله بسبعة أشياء : بالتوبة والندامة وترك حب الدنيا وثنا ءالخلق والرياسة والغل والحسد

“Wudhu bathin itu, kata imam Hatim al-Ashom, saya membasuhnya dengan tujuh perkara :

1. Taubat : ini upaya bathin bukan sekadar bacaan Istighfar dari mulut (ziyadah minni)

2. Merasa menyesal atas segala perbuatan dosa dan kesalahan : hati dan perbuatan kita selaras. Hati menyesali dan perbuatan tidak mengulangi (ziyadah minni)

3. Meninggalkan (Berlebihan) dalam mencintai dunia : tidak ada maksud untuk melarang orang kaya, sebab penyakit ini tidak hanya bisa menghinggapi orang kaya saja, bisa juga orang miskin yang tiap harinya sibuk dengan memikirkan dunia untuk foya-foya yang nir manfaat. Silakan kaya tapi hartanya digunakan untuk jalan agama. Sesuai kebutuhan bukan keinginan.

4. Meninggalkan dalam memuji manusia. Biasanya setiap orang gampang memuji orang padahal sejatinya adalah sangat berbahaya. Walaupun satu sisi bisa jadi pemantik semangat atau ada sesuatu yang mulia di balik. Hal ini secara tidak sadar menggiringnya untuk mencitrakan dirinya sebagai orang hebat dan untuk dielukan oleh orang lain. Situasi ini yang menyebabkan kebanyakan orang hilang kendali, sehingga lupa diri, yang semula melukakan aktivitas dengan motivasi ilahiyah kini berubah menjadi motif pencitraan. Namun perlu digarisbawahi, bahwa tak semua seperti itu.

5. Meninggalkan jabatan atau kehormatan : apakah dilarang untuk jadi pejabat ? Tidak. Selama orang itu mampu dan tidak ada orang lain yang lebih pantas dan mampu, silakan. Tapi sebisa mungkin tidak memanfaatkan jabatan sebagai jalan kesombongan dan keangkuhan apalagi meraup keuntungan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan syariat. Ini bahaya. Diakui atau tidak, jabatan seringkali banyak mengelabui manusia dan berpotensi untuk digunakan pada jalan kerusakan.

6. Meninggalkan sifat ghullu atau kebencian : kata guru saya ghullu ini lebih pada kebencian yang tidak sampai diejawantahkan oleh fisik. Ya benci saja.

7. Hasud atau iri : dan ini bisanya, kata guru saya, iri, kebencian yang sampai diejawantahkan melalui perbuatan fisik. Nauzubillah

Terima kasih

#edisiramadhan

Related Posts