Mencintai Buku dengan Mencintai Dua Tokoh NU: Kiai Muchit Muzadi dan Gus Dur

Jujur, saya mulai suka membaca buku berawal dari membaca quote menarik dari dauhnya kiai Muchit Muzadi yang kurang lebih begini “Anak muda harus suka baca, apalagi anak NU, buku apapun harus dibaca, ya dibaca! Biar nggak kagetan dan pengetahuannya luas”. Beliau salah satu tokoh NU yang menurut saya kaya dengan refrensi khazanah keilmuan melalui membaca.

Bahkan konon tidak ada orang Muhammadiyah yang berani mendebat beliau meskipun di lingkungannya banyak sekali yang mempermasalahkan amalannya. Sebab semua meyakini bahwa bacaan kemuhammadiyahan beliau lebih lebih lengkap daripada orang Muhammadiyah itu sendiri.

Sekali lagi, itu motivasi awal saya suka membaca, dan tergerak untuk membaca. Blom sampai gemar membaca. Setiap orang pasti memiliki motivasi tersendiri untuk suka membaca dan yang tidak kalah penting dia juga pasti punya tokoh idola dalam membaca.

Selain kiai Muchit Muzadi tokoh idola membaca saya adalah Gus Dur. Saya banyak membaca cerita Gus Dur bagaimana semangatnya membaca. Walau yang paling nancap di otak saya adalah dauh kiai Muchit Muzadi di atas itu. Tapi rasa-rasanya tidak cukup sekadar kagum dan mengidolakan saja, sebab dua tokoh ini banyak melahirkan karya tulis yang sangat produktif dan berkualitas, kaya pengetahuan dan pengalaman.

Bagi saya dua tokoh ini mampu bicara apa saja, mulai dari politik, ekonomi, budaya, agama, dan sains dll. Saat Gus Dur kuliah di Kairo, konon ia sudah melahap semua buku yang ada di perpustakaannya. Jadi tidak heran, jika beliau berdua disebut sebagai seorang pemikir hebat, sebab pemikir itu memang berangkat dari pembaca yang lahap.

Di mana-mana orang yang suka membaca itu tidak datang begitu saja. Bagi saya mustahil datang begitu saja. Pasti butuh proses dan perjalanan panjang yang cukup dramatis. Pasti ada banyak kendala. Seperti saya misalkan dulu awal-awal, minat baca sudah ada, tapi yang mau dibaca tidak ada. Sekarang sudah sebaliknya, bacaan makin banyak, minat membaca semakin sedikit.

Apalagi di zaman yang sudah serba digital ini, kecepatan informasi sudah tidak bisa kita ellakkan, melimpah dan sulit untuk kita bendung. Akan sangat berbahaya jika arus informasi yang cepat ini tidak diimbangi dengan keseriusan membaca yang mumpuni.

Kita sering mendengar ada komunitas literasi dan penggerak literasi. Tapi itupun tidak cukup hanya sekadar jadi penggerak, mestinya harus benar-benar menggerakkan dan mendekatkan kepada pembaca. Ini tantangan kita kedepan. Tidak mudah, karena itu harus punya komitmen yang kuat.

Membeli buku itu bagus, tapi membaca buku itu jauh lebih bagus. Era sekarang rasanya sudah tidak sulit untuk membaca buku, sekalipun kita belum mampu membeli buku. Dan ironisnya, banyak orang yang suka beli buku dan dipajang tapi ia tak sempat membaca. Karenanya, cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cuma satu buku. Cari buku itu. Mari jatuh cinta,” kata Najwa. Mari selesaikan membaca satu buku, maka kamu akan menemukan hal yang baru.

SELAMAT HARI BUKU NASIONAL

Malang 17 Mei 2020

Moh Syahri

Related Posts