Pengakuan Mbah Dalhar Watucongol atas Kealiman Abuya Dimyati - Atorcator

Pengakuan Mbah Dalhar Watucongol atas Kealiman Abuya Dimyati

Abuya Dimyati merupakan ulama kharismatik dari Banten yang terkenal ‘alim dan sederhana. Beliau mempunyai perhatian besar terhadap ilmu (mengaji), sampai beliau bertutur dengan ucapan sangat popular, “thariqah aing mah ngaji (tariqah saya itu mengaji)”.

Pada masa mudanya, Kiai yang memiliki nama Muhammad Dimyati ini sudah melanglang-buana ke berbagai pesantren untuk mencari ilmu. Beliau berguru ke banyak ulama besar di Jawa. Salah satunya, Abuya Dimyati berguru kepada KH Dalhar bin Abdurrahman Watucongol (Mbah Dalhar).

Saat mondok di Watucongol, karomah dan kealiman Mbah Dimyati sudah terpancar. Bahkan, saat baru masuk pondok di Watucongol, Mbah Dimyati sudah diminta mengajar santri-santri di sana oleh Mbah Dalhar.

Begini kisahnya. Sehari sebelum kedatangan Abuya Dimyati di Watucongol, Mbah Dalhar sudah memberi kabar kepada para santri bahwa besok akan datang ‘kitab banyak’. Para santri pun terheran-heran, apa yang dimaksud oleh Sang guru dengan ‘kitab banyak’. Keesokan harinya, ternyata datang seorang santri baru dari Banten. Mbah Dimyati itu yang disebut Mbah Dalhar sebagai ‘kitab banyak.’

Menurut sebuah riwayat, Abuya Dimyati sempat kaget selama berada di Watucongol. Sebab, ia tidak pernah ditanya bahkan dipanggil oleh Mbah Dalhar selama 40 hari. Tepat pada hari ke-40 Abuya Dimyati ditanya Mbah Dalhar. “Sampeyan mau apa jauh-jauh datang ke sini?” tanya Mbah Dalhar. Abuya Dimyati pun menjawab, “Saya mau mondok, Mbah.”

Mendengar itu, Mbah Dalhar berkata, ”sampeyan perlu tahu, di sini tidak ada ilmu, justru ilmu itu sudah ada pada diri sampeyan. Ketimbang sampeyan mondok di sini buang-buang waktu, lebih baik sampeyan pulang lagi ke Banten, amalkan ilmu yang sudah ada dan syarahi kitab-kitab karangan mbah-mbahmu. Karena kitab tersebut masih perlu diperjelas dan sangat sulit dipahami oleh orang awam.”

Disuruh pulang oleh Mbah Dalhar, Abuya Dimyati tidak patah semangat. Beliau justru menegaskan kembali tujuannya ke Watucongol untuk mengaji. Kalau memang Abuya Dimyati tetap mau tinggal di Pondok Pesantren Darussalam, syarat yang diberikan oleh Mbah Dalhar adalah mau mengajar para santri.

Penulis: Ahmad Suhendra, alumni Krapyak. Sekarang menjadi dosen di STISNU Tangerang dan tulisan ini sebelumnya di Bangkitmedia

komentar

Related Posts