Rasulullah Hadir Jelang Wafatnya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki

Termasuk bukti ketinggian maqom Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki di sisi Allah & Rosul-Nya, ialah beliau tergolong salah satu hamba yang mendapat i’tina’ khosshoh (perhatian istimewa) dari baginda Nabi Muhammad Shollallah Alaihi Wa Sallam dalam segala gerak-gerik dan kehidupan beliau, sekalipun pada hal-hal yang sepele atau kecil.

Maqom seperti ini bukanlah sembarangan maqom, sebab hanya hamba-hamba pilihan Allah-lah yang mendapatkannya, seperti Al Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad.

Hal itu tampak jelas pada akhir hayat beliau, dimana beliau tidak memotong rambut dan tidak memacari (mewarnai) jenggotnya.

Al Habib Sholeh bin Ahmad Al Aydrus Malang ketika melaksanakan ibadah haji pada tahun 1424 H dengan beberapa murid-murid Abuya Sayyid Muhammad lainnya datang untuk menziarahi beliau.

Lalu Habib Sholeh bertanya kepada Abuya; “Kenapa Abuya tidak memacari jenggotnya?”

Abuya diam tidak menjawab. Di tanya kedua kalinya, beliau tetap diam, dan ketika ditanya ketiga kali, beliau berkata:

“Rosulullah Melarangku”.

Maksudnya, Rosulullah melarang beliau untuk memacari jenggot beliau, agar tampak ubannya, yang memberi isyarat bahwa manusia itu akan tua dan sebentar lagi akan menghadap Allah Ta’ala.

Siapapun dan bagaimana pun kedudukannya akan menghadapi kematian. Rupanya itu adalah pertanda dekatnya ajal beliau.

Karena memang kenyataannya demikian, pertemuan beliau dengan murid-muridnya yang datang dari Indonesia waktu itu adalah pertemuan terakhir mereka di dunia dengan sang maha guru.

Sembilan bulan setelah itu, tepatnya di bulan Ramadhan 1425 H beliau dipanggil ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Apa yang terjadi kepada beliau ini mengingatkan kita kepada Al Imam Al Habib Abdullah bin Alawi Al Haddad. Di mana di akhir hayat beliau, beliau memanjangkan rambutnya, tidak memotongnya, ketika ditanya alasanya, beliau mengatakan bahwa yang beliau lakukan itu karena perintah Rosulullah.

Sumber: Kitab “Al-Ijaz Fi Karomati Ahli al-Hijaz” karya Al-Habib Mustofa bin Husein al-Jufri dan dimuat di Bangkit Media

(Amrullah)

Related Posts