Sudah Siapkah Pesantren Menghadapi New Normal?

Tadi malam saya ditanya teman-teman santri, apakah pesantren sudah siap dengan new normal ini. Terus terang, saya belum bisa jawab. Sekalipun di luar sana banyak yang mendesak agar kegiatan ibadah termasuk pesantren segera dibuka dan kembali normal. Entah apa pertimbangannya. Dan Insya Allah nanti sore untuk pesantren tempat saya tinggal, pengurus akan mengadakan rapat koordinasi dengan pengasuh dan para asatidz.

Saya sudah baca beberapa aturan rencana pemerintah terkait new normal di pesantren agar tetap mengikuti protokol kesehatan dalam era new normal ini. Menurut saya, terus terang saja ruwet dan belum siap untuk diatur sedemikian itu. Bukan tidak penting. Tapi belum siap. Kecuali dari pemerintah dan pihak-pihak terkait siap dengan fasilitas yang direkomendasikan dan siap mengontrol setiap kegiatan pesantren.

Apakah dengan demikian, berarti pesantren tidak mau mandiri dan menunggu bantuan dari pemerintah? Tidak demikian, ini bukan soal mandiri atau tidak. Ini soal kesehatan yang semestinya tugas negara menjaga dan melindungi rakyatnya, termasuk santri. Negara memperhatikan pesantren tidak hanya dengan memberikan kebijakan, tapi perlu melihat realitas kehidupan santri di lapangan yang sebenarnya. Sehingga kebijakan itu tidak memberatkan pesantren dalam mengikutinya.

Seorang stafsus milenial di pemerintah yang membidangi bagian pesantren sangat diharapkan kiprahnya hari ini. Jangan sampai kebijakan ini justru membuat semakin ambruknya penanganan pandemi Covid-19. Segala upaya dan pertimbangan harus benar-benar matang dan terukur dari segala aspek pencapaiannya. Atau sebaiknya kita serahkan ke pemerintah daerah masing-masing mengenai titik-titik rawan pandemi Covid-19 seperti Jawa timur yang setiap sudut daerah ada pesantrennya. Dengan catatan, tetap berkoordinasi dengan pihak pesantren masing-masing, bagaimana laangkah baiknya. Saya berharap hal seperti ini, tidak perlu terburu-buru. Karena menyangkut kepentingan orang banyak.

Bayangkan seandainya santri ribuan yang harus kembali ke pondok, strategi apa yang harus dilakukan oleh pesantren untuk menghadapi gelombang arus balik santri itu. Santri bukan hanya dari luar kota saja, tapi banyak juga dari luar pulau luar jawa dan provinsi bahkan dari Sabang sampai Merauke.

Apakah pengurus di pesantren siap dengan segala protokol kesehatannya dan isolasi mandiri dan rapid testnya. Sebab klo mengacu ke kebijakan pemerintah setiap santri yang kembali ke pondok atau pulang ke pondok harus dirapid test dan isolasi mandiri walaupun hasilnya negatif.

Belum lagi imbauan persiapan berangkat dari rumah ke pesantren mulai dari kendaraan pribadi dan alat-alat kesehatan lain yang sebenarnya sulit dan tidak mungkin bagi masyarakat desa yang memiliki ekonomi menengah ke bawah. Terlebih bagi santri yang di luar Jawa yang kendaraannya harus memakai pesawat atau kapal. Ini harus dipikirkan. Pesantren memang sedari awal sudah biasa mandiri. Tapi jelas dan haqqul yakin kiai dan pengurus pesantren tentu pasti dan lebih memprioritaskan kemaslahatan bagi santrinya.

Malang 28 Mei 2020

Moh Syahri

Related Posts