Telaah Ilmu Hudhuri (Spontanitas) dan Ilmu Nadhori (Proses)

Seberapa persenkah kepercayaan-mu sama temanmu atau mungkin pasanganmu? Sejak kapan kamu kenal dan mulai percaya? Sebab apa kamu percaya? Benarkah kamu percaya kepadanya?

Masih banyak lagi pertanyaan yang mengapung di kepala. Tapi, saya rasa itu sudah cukup dan bisa mewakili pertanyaan yang lain.

Mari kita masuk lebih dalam pada persoalan yang mau saya bahas. Setelah tadi masuk melalui pintu yang bernama pertanyaan.

Menurut saya, jawaban pertanyaan tadi berasal atau bermula dari dua hal pokok. Pertama, spontanitas (ilmu hudhuri). Yang kedua adalah melalui beberapa proses (ilmu nadhori).

Pertama soal spontanitas. Mula mula kita bisa mengetahui suatu hal itu dengan spontan. Tanpa ada suatu perantara. Seketika itu pula kita dapat memahami, merasakan sebuah kondisi atau keadaan suatu hal.

Misalnya saja rasa sakit. ‘Sakit hati’ yang anda rasakan setelah tahu bahwa, pacar, misalnya, ditikung orang lain. Atau sebaliknya, saat pertama kali anda melihat lawan jenis, dan terbesit perasaan ‘aku suka.’

Dari dua contoh di atas, menjadi jelas. Selama ini perasaan sakit hati dan suka itu kita peroleh tanpa ada perantara apapun. Tiba-tiba perasaan itu kita ketahui, kita rasakan dan dipahami. Bahkan ada yang dihayati sampai timbullah baper.

Pada tahap awal ini, sebenarnya apa yang kita ketahui, baik seperti perasaan di atas adalah sebuah hal yang masih perlu kita ulas. Diperdalam lagi, apa maksud dari sebuah perasaan yang kita dapati. Belum bisa kita konsumsi secara mentah-mentah.

Maksuda saya adalah saat sakit hati atau suka, seperti yang saya contohkan, tidak lantas menggunakan dua perasaan itu untuk menjustifikasi, memberi penilaian, memberi penghukuman kepada orang lain : kamu jahat, kamu pembohong, atau kau adalah calon jodoh yang aku harapkan, kau sosok yang paling menawan.

Terus gimana kok ndak boleh langsung percaya dengan perasaan (yang kita ketahui) itu?

Oleh karenanya kita butuh pengetahuan yang kedua. Adalah pengetahuan yang diperoleh melalui proses. Kita bisa mendapatkan pengetahuan melalui beberapa proses, cara dan usaha.

Ketika ada yang mengatakan Raisa itu cantik, awalnya kita belum tahu. Tapi, setelah kita bertemu dengannya, kita akan tahu bahwa Raisa itu memang cantik. Atau kita mendapatkannya melalui sebuah foto di media sosial, misalnya. Barulah kita tahu bahwa Raisa itu memang cantik.

Artinya, pengetahuan kita soal Raisa adalah melalui proses, cara dan usaha. Sebelum kita berproses, menggunakan cara-cara dan berusaha, tidak akan ada pengetahuan mengenai “Raisa itu cantik.

Kita lanjutkan pembahasan mengenai perasaan tadi. Bagaimana caranya untuk bisa mempercayai perasaan tersebut?

Setelah kita mendapatkan perasaan sakit hati, langkah selanjutnya bukan langsung menilai dan menjustifikasi orang lain, yakni mencoba memahami bagaimana sakit hati itu bisa terjadi. Apa penyebabnya kok bisa sakit hati. Bisakah sakit hati dirubah menjadi hati senang?

Saya ambil contoh seumpama yang kita cintai sebelumnya adalah sosok playboy, atau matre. Kepadanya pun kita belum kenal jauh dan mendalam. Maka, jangan salahkan doi yang playboy atau matre. Itu adalah kesalahan kita secara mutlak. Pun juga belum kenal lebih jauh, sudah berani melangkah ke jenjang keseriusan.

Coba kita cari tahu tentang doi lebih jauh sebelumnya. Mungkin tidak akan berakhir seperti ini. Langkah terbaiknya adalah berteman saja. Jika memang doi tampil menawan dan suka dengan itu.

Kalau soal suka tadi, juga tidak bisa dimakan secara setengah matang. Carilah tahu hal hal yang bisa membuatmu lebih yakin. Percaya pada si doi yang kata pandangan pertama itu segala galanya.

Jadi, supaya apa yang kita ketahui, seperti perasaan tadi, kita perlu dua langkah di atas. Tentu sebagai manusia kita memilih menjadi orang waras ketimbang menjadi tidak waras.

Maka, gunakan akal kita untuk mencerna berbagai informasi yang membanjiri kita. Terutama, di era digital saat ini. Terkadang kita bingung, mana informasi yang kredibel mana yang tidak.

#silogisme
#mantik

Related Posts