Teori Laba Dalam Al-Qur’an (1)

Secara global Al-Qur’an melegitimasi pengambilan laba (profit) selagi tidak dilakukan dengan cara yang dilarang. Legalisasi pengambilan laba dalam Al-Qur’an salah satunya dapat kita lihat secara implisit dari pensyariatan jual beli yang merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan laba atau keuntungan. Pensyariatan jual beli tersebut ditegaskan oleh Allah dalam surah Al-Baqarah: 275, Allah berfirman

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

Selain pensyariatan jual beli, legalisasi pengambilan laba dalam Al-Qur’an juga dapat kita lihat dari pensyariatan perniagaan yang juga menjadi salah satu sarana mendapatkan laba. Pensyariatan perniagaan ini disebutkan oleh Allah dalam surah al-Nisā’: 29, Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”

Sedangkan definisi perniagaan (تِجَارَةً) sendiri dalam beberapa litelatur fiqh Syafi’i di antarnya disampaikan oleh Syaikh Zakariyya Al-Anshārī dalam kitab beliau Asnal Mathalib

تَقْلِيبُ الْمَالِ بِالْمُعَاوَضَةِ لِغَرَضِ الرِّبْحِ

“Memutar (mengelolah) harta menggunakan akad pertukaran dengan tujuan mendapatkan laba (profit)”

Definisi perniagaan (تِجَارَةً) di atas sesuai dengan penjelasakan dari imam al-Thabarī dalm kitab Tafsir fenomenalnya yang meriwayatkan dari Al-Saddī bahwa tafsir dari lafaz إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً (kecuali dengan jalan perniagaan) adalah

ليربح في الدرهم ألفًا إن استطاع

“Agar mendapatkan laba (profit) dalam satu dirham sebanyak seribu dirham ketika mampu”

Tidak hanya secara implisit seperti telah dijelaskan di atas, kata laba (profit) bahkan disebutkan secara eksplisit oleh Al-Qur’an dalam surah Al-Baqarah: 16, Allah berfirman

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَت تِّجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung (tidak mendapatkan laba atau profit) perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah: 16)

Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan lafaz رَبِحَت yang berasal dari suku kata الرِّبْحِ yang memiliki arti laba (profit). Di mana Allah menganalogikan orang kafir dan munafik yang memilih kesesatan dibandingkan petunjuk dengan orang yang tidak mendapatkan laba (profit) dalam perniagaannya. Analogi ini menurut al-Thabarī dikarenakan seorang pedagang dikatakan mendapatkan laba (profit) ketika dia menukarkan komoditas yang dia miliki untuk kemudian membeli komoditas lain yang lebih baik atau dia menjual komoditas yang dimiliki dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan biaya perolehan komoditas tersebut. Sedangkan orang kafir dan munafik menukarkan petunjuk dan surga yang begitu berharga dan mahal dengan kesesatan dan neraka yang begitu rendah dan tidak bernilai sehingga mereka telah mengalami kerugian yang sangat nyata.

Dari penafsiran al-Thabarī ini dapat kita ketahui bahwa secara sederhana laba (profit) terjadi ketika harga jual lebih besar dibanding biaya perolehan. Hal ini sama dengan teori ekonomi modern yang menyatakan bahwa laba (profit) terjadi ketika Total Revenue (TR) lebih besar dibandingkan Total Cost (TC) atau TR>TC.

Related Posts