Virus Corona Membuat Lebaran Kita Garing

Ini benar-benar lebaran yang Garing bagi saya dan teman-teman yang masih terjebak PSBB dan memilih tidak pulang karena Corona dan lebih menyelamatkan keluarga karana di malang zona merah. Sering saya bilang ke teman-teman yang memilih tidak pulang ‘tidak pulang ke rumah dalam kondisi seperti ini bentuk lain dari rasa sayang dan cinta kepada keluarga’.

Di kamar kami hanya bisa cangkruan yang kadang serius kadang tidak. Kadang curhat soal mantan, dan hal-hal yang pernah bikin hidup ini ambyarrrrrr. Ditemani camilan sederhana. Habis cangkruan, ada yang baca-baca buku dan kitab, ada yang menuliskan hasil cangkruanya di media sosial masing-masing. Ada yang nyemil terus tanpa henti. Yah gitu-gitu aja.

Saya membayangkan di rumah sibuk dengan silaturahmi ke sana ke sini. Sampe kadang ditelpon tamunya sendiri karena di rumah nggak ada orangnya dan sedang silahturahmi ke tempat lain. Begitu indah ini. Setiap kali lebaran amper rumah saya bisa dipastikan full famili bersilaturahmi baik dari bapak maupun emak. Da sekarang saya tak bisa melihat kebahagiaan dan kemeriahan itu semua. Ya garing.

Corona benar-benar mengubah kebiasaan orang dalam merayakan hari lebaran. Corona benar-benar merusak banyak hal, mulai dari impian, kebiasaan, dan mungkin juga harapan’.

Bagaimanapun saya dan keluarga besar punya ritual sederhana tiap kali datang lebaran. Dan kali ini saya tak bisa bergabung dengan mereka. Sedih. Iya. Saya bersilaturahmi dan meminta maaf ke bapak, mbak, kakak, dan ponakan serta para famili lewat online dan sowan secara virtual.

Satu hal penting yang tak bisa saya tahan adalah tangisan ketika rindu emak. Air mata tak bisa saya tahan. Seharusnya habis shalat id saya langsung ziarah ke makam beliau. Tapi tadi pagi terpaksa harus video call melihat kuburan ibu yang sedang diziarahi oleh sanak famili. Perlahan-lahan tangisan ini reda, sadar bahwasanya ini juga cobaan yang harus kita lalui bersama. Tidak lepas dari campur tangan Tuhan yang maha kuasa.

Walaupun rasa-rasanya kurang afdhol dan sreg untuk mengubah kebiasaan lebaran yang sangat berharga ini. Sulit untuk menerima ini. Tapi kita tak bisa berbuat banyak hal dengan keadaan ini. Rindu keluarga sejatinya tak bisa diwakilkan dengan video call. Sebab rindu itu memeluk, mencium dan bertemu secara nyata dan berinteraksi langsung di hadapannya. Tapi menahan rindu dalam situasi seperti ini akan membawa berkah di masa yang akan datang. Yakin.

Haqqul yakin dengan doa yang khusyuk badai ini akan segera berlalu.

Malang 25 Mei 2020

Moh Syahri

Related Posts