28/05/2020

Yang Penting Akhlaknya Bukan Jubahnya

Yang Penting Akhlaknya Bukan Jubahnya

Saya sudah bosen sebenarnya mau mengomentari sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang baik-baik, malah diselesaikan dengan cara yang arogan, anarkis dan tidak manusiawi yang menjunjung Islam rahmatan Lil alamin. Tapi mau bagaimana lagi, klo dibiarkan malah merusak citra Islam yang sesungguhnya.

Orang-orang pada lupa dengan akhlak ilmiah yang dimilikinya. Semua orang punya akhlaknya ilmiah. Akhlak ilmiah ini yang melekat pada diri seseorang. Tapi kebanyakan lupa dan kalah sama hawa nafsunya. Mengakui kesalahan itu memang sulit. Semua orang ingin mengaku benar. Fanatik dengan apa yang dilakukannya sekalipun sejatinya menyimpang dari ajaran Islam.

Suri teladan bagi ummat Islam dalam berakhlak mulia tentu Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Sebab nabi Muhammad adalah makhluk yang dididik langsung oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya akhlak. Beliau orang yang menerima Al-Qur’an diajari dengan sesempurna pengajaran yang Qurani. Maka tidak heran jika Aisyah berkata seraya menuturkan sifat Kanjeng Nabi Muhammad Saw “akhlak beliau adalah Al-Qur’an” segala sesuatu yang terkandung dalam Al-Qur’an mengenai akhlak menyatu pada diri Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Jadi jangan pernah tergoda dan terlena dengan penampilan seseorang dari luarnya saja. Sebab tak sedikit orang yang penampilannya mentereng gagah, agamis dan seolah-olah kayak seperti ulama justru kelakuannya bejat bak preman. Padahal sejatinya ia tak punya bekal dan kapasitas sebagai ulama.

Banyak kita ketahui, orang alim dengan penampilan biasa memilih tidak terkenal dengan pakaian yang dipakai kebanyakan orang. Padahal ia punya bekal yang cukup, akhlaknya luar biasa dan ilmunya tinggi. Tapi ia enggan menampakkan itu semua, apalagi cuman sebatas pakaian saja.

Maka menarik sekali dauh sang bijakbestari di bawah ini,

الرَّجُلُ لَا يَكُونُ عَالِماً بِسَبَبِ الجُبَّةِ وَالعِمَامَةِ ذَلِكَ اَنَّ العَالِمِيَّةَ فَضِيلَةٌ فِى ذَاتِهِ وَلاَ يُغَيّرُ مِنَ الاَمْرِ شَيئاً اَنْ يَرْتَدِى صَاحِبُهَا قَبآءً أَوْ عَبَاءَةً .

Keulamaan seseorang tidak ditentukan oleh pakaian jubah dan sorbannya. Keulamaan itu keutamaan yang melekat di dalam dirinya. Ia tidak bisa berubah menjadi ulama hanya dengan memakai jubah atau baju lusuh (atau sorban).

Keutamaan yang melekat itu adalah akhlak dan ilmu. Bisa akhlak ilmiah, seperti tunduk pada kebenaran, amanah, berani mengakui kesalahan. Bisa juga akhlak sosial, seperti kasih sayang kepada sesama manusia, kerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan, santun kepada orang lain, disiplin, tertib dll.

Kiai pesantren sudah mengajarkan bagaimana menampilkan wajah Islam sebenarnya melalui akhlak, ada Mbah Moen (Allahu yarham), Mbah Musthofa Bisri, kiai Afifuddin Muhajir, Gus Baha’ dengan pakaian ala santri bersarung dan berpeci hitam, dan kiai-kai lainnya. Ya,,, kita perlu belajar ke kiai pesantren.

Semoga kita bisa meneladani akhlak Rasulullah Saw. Klo belum bisa sepenuhnya, minimal kita punya keinginan tinggi untuk meniru akhlak beliau. Amin

Moh Syahri

Founder Atorator.com  dan Santri Pondok Pesantren Darul Istiqomah Batuan Sumenep Madura

View all posts by Moh Syahri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *