Bapak Saya Ternyata Arsitek, Bangun Rumah dengan Biaya 20 Juta - Atorcator

Bapak Saya Ternyata Arsitek, Bangun Rumah dengan Biaya 20 Juta

Ilustrasi: Bapak saya

Kemarin bapak saya cerita, biaya bikin rumah yang dibangun tahun 2005 hanya menghabiskan biaya 20 juta. Saya tak perlu mengkonfirmasi kebenaran biaya itu ke siapa-siapa, sebab ibu saya sudah lama meninggal dan bapak saya tau betul anggaran dan alokasi dana rumah yang dibangun. Klo mau dibandingkan dengan biaya bikin rumah era sekarang jelas tak masuk akal dan cenderung diada-adakan.

Percaya tidak percaya, itu urusan anda. Yang jelas saya sebagai anaknya sangat percaya. Saya masih ingat sekilas proses pembangunan rumah itu, gotong royong masyarakat sekitar sangat antusias dan kompak. Kompak tanpa diundang dan dikabari, nuraninya langsung tergerak membantu. Itulah masyarakat desa.

Saya masih ingat pesan nenek saya dulu ketika beliau hidup “Cong, Mon bedeh kalakoan neng e tatenggeh langsung entaren ben tolongin” (Cong, klo tetangga ada pekerjaan atau hajat, segera hampiri bantu dan tolongin). Ini pesan penting untuk tetap melestarikan budaya gotong royong agar tidak terkikis oleh egoisme kekayaan.

Bapak saya hanya memperkerjakan 2 orang kuli bangunan yang dianggap profesional pada masanya dan dipekerjakan secara kontinu sampai menata atap dan menutupnya. Tentu tujuannya agar pekerjaan rumah bisa segera selesai dengan serius. Selainnya, gotong royong tetangga-tetangga rumah.

Yang menarik dari proses pembangunan rumah era 2005 itu masyarakat masih suka gotong royong. Tidak perlu membeli tenaga banyak-banyak karena sudah ada tradisi gotong-royong. Dan tidak perlu menghabiskan biaya banyak dengan membayar kuli bangunan.

Gaya dan desain rumah yang dibangun cukup minimalis, tidak modern tapi juga tidak terlalu gaya tradisional, panjang sekitar 8 m dan lebar 4 m. Bangunan ini cukup menampung semua keluarga dan sanak famili jika hendak bertamu sekaligus bermalam. Halaman depan rumah pun masih cukup untuk sekadar menjemur padi dan bikin hajatan kecil-kecilan.

Masih tidak masuk akal uang 20 juta bisa bikin rumah ? Ya kadang saya juga tidak percaya. Tapi begini, dari hal paling kecil hingga paling besar segala perlengkapan material bangunan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh bapak. Tanah, tidak repot-repot membeli alias punya sendiri, meterial kayu, pasir, desain jendela dan pintu dikerjakan secara mandiri jauh sebelum bikin rumah. Yang beli mungkin hanya semen, batu bata, dan genting saja. Selain itu ia punya sendiri dan rancang sendiri.

Saya baru sadar bahwa ternyata bapak saya arsitek ulung. Ahli dalam merancang dan menggambar konstruksi bangunan yang hari ini saya tempati begitu nyaman dan tenang. Ia juga pencetus ide berlian atas berdirinya rumah yang cukup indah. Dan ia pun tidak perlu repot-repot membeli ide orang lain atas gaya dan desain rumah. Padahal klo melihat latar belakang pendidikannya ia hanya jebolan pesantren, pesantren tradisional Karay Ganding Sumenep.

Kekaguman saya dengan bapak semakin diperkuat dengan diundangnya beliau oleh sanak famili untuk bikin rumah beberapa tahun yang lalu. Ia dilibatkan dalam ide perancangan konstruksi bangunan rumah sepupu saya di pancor Rubaru Sumenep selama kurang lebih satu Minggu lebih.

Dan pada akhirnya saya berpikir, dua kuli bangunan di atas tidak lebih hanya membantu bapak saya yang lebih arsitek. Sebab ide sekeren dan sebagus apapun itu perlu dukungan dari sesama arsitek.

Sampai saat ini jika ada renovasi apa-apa di rumah, kami keluarga tidak perlu repot-repot menyuruh kuli bangunan. Sebab di rumah sudah ada ahlinya ahli, yaitu bapak saya seorang arsitek pembangunan. Hehe

komentar

Related Posts