Cerita Hikmah: Sirna Bersama Angin - Atorcator

Cerita Hikmah: Sirna Bersama Angin

Dari dulu, para Perangkat Desa Sukamajujalan, mulai dari Kepala Desa sampai ke tukang sapu balai desa, dikenal sebagai orang-orang yang cinta data, orang-orang yang administratif. Mereka rajin mendata banyak hal. Nyaris tak ada benda, peristiwa dan fenomena di desa itu yang luput dicatat. Ibaratnya, mereka tidak hanya mendata berapa pemilik kambing serta jumlah kambing di desa Sukamajujalan, tapi bahkan berapa orang yang pantatnya pernah diseruduk kambing.

Nah, salah bukti begitu rajinnya mereka mencatat, dalam Buku Arsip Data Desa Sukamajujalan terdapat informasi bahwa 95% gadis-gadis jomblo desa Sukamajujalan lebih memilih belanja ke toko Pak Syaikhi yang kecil dan jauh dari kata ‘lengkap’. Selanjutnya data tersebut mengungkapkan bahwa alasan utama mereka berbelanja di toko pengasuh langgar kampung itu adalah: faktor “membeli sambil beramal”: 10%.; faktor “barokah”: 10%; faktor kekerabatan: 5%; faktor “lebih dekat”: 5%; faktor “lebih murah”: 5%; dan faktor “Ramuda”: 70%

Ramuda? Ya, Ramuda! Putera bungsu Pak Syaikhi yang baru seminggu ini pulang kampung setelah 10 tahunan mondok di sebuah pesantren di luar pulau. Sejak pulang, Ramuda memang berdinas sebagai penjaga toko ayahnya. Sejak itu pula ia sudah kondang sebagai pemuda lajang bertipe ‘joker (joko keren)’ dan ‘coca cola (cowok cakep cowok idola)’. Tak sedikit dari gadis-gadis Sukamajujalan yang walaupun tahu apa yang akan mereka beli sebenarnya tak tersedia, namun tetap mendatangi toko Pak Syaikhi untuk sekedar bisa bertegur sapa dan mendapat hadiah senyum dari pemuda berusia 21 tahun itu.

Pagi itu begitu cerah. Secerah wajah Conina, anak gadis Pak Lopak, yang tengah mematut-matut diri di depan cermin sejak jam setengah enam tadi. Betapa tidak, pagi ini ia akan berjumpa dengan Ramuda. Sejak tadi malam, sejak Emaknya meminta Conina belanja beberapa keperluan dapur ke toko Pak Syaikhi, gadis 17 tahun ini mulai mengatur rencana serapi mungkin.

Begitu masuk kamar, ia langsung saja sibuk mempersiapkan ‘perlengkapan tempur’nya; kerudung, baju ketat seksi, sandal (yang sebenarnya stok buat lebaran), dengan corak maupun warna yang kira-kira menarik dan menjadi kesukaan Ramuda. Tak lupa Conina juga ‘melatih’ bentuk senyum bagaimana yang menurutnya ‘laku’ di hadapan pemuda ganteng itu.

Sambil menikmati alunan lagu-lagu dari beberapa boyband yang nama grupnya aneh-aneh itu, benak Conina mulai membayangkan apa yang akan ia lakukan nanti. Tentunya, ia akan berlama-lama di toko. Ia akan pura-pura cari ini itu seraya berharap bisa ngobrol panjang dengan Ramuda yang –menurut Conina seganteng Ariel “Noah” itu, lalu tukar senyum, lalu –mudah-mudahan saja bisa– sesekali bersanda-gurau, lalu tukar nomor hape, lalu….. Apalah! Pokoknya pertemuan kali ini harus sukses. Apalagi banyak teman sekolahnya yang bilang, di desa Sukamajujalan, Conina adalah gadis paling cantik, paling manis, paling oke, paling semelohay, sehingga –sekali lagi, kata teman-temannya– Conina-lah yang paling sepadan untuk menjadi pasangan Ramuda kelak.

Setelah membaluri diri dengan parfum secukup (banyak) nya, jam setengah delapan, aksi berdandan total itu pun selesailah. (Hadeh! Dandan sampe 2 jam?). Conina mungkin sadar betul bahwa berdandan dan berias mempercantik diri memang sangat manusiawi dan wanitawi. Yang tidak disadari –atau tak diperdulikan?- gadis ini adalah bahwa berdandan dan berhias yang ia lakukan sebenarnya berkuailifikasi “bahaya”. Ia bisa saja terjerumus dalam katagori wanita genit yang suka ‘caper’ (cari perhatian) dengan busana dan sikapnya. Wanita yang oleh ulama dimasukkan pada keumuman predikat “kâsiyâtun ‘âriyâtun mâ_ilâtun mumîlâtun” dalam Sabda Kanjeng Nabi; yaitu wanita-wanita yang suka melihat lelaki ganteng (yang tidak halal baginya) lalu berusaha tampil cantik dengan busana menggoda; busana setengah terbuka, atau tertutup namun ketat tipis memamerkan lekuk tubuh, agar terlihat menarik di mata para lelaki tersebut. Tipikal wanita yang terancam bahkan tak dapat mencium bau sorga. Wa-l ‘iyâdzu bi-Llâh! Lalu… mmm…

Sudah, ah, kita kembali ke Conina saja.

Kini Conina tengah menuju toko Pak Syaikhi, seraya menjinjing tas belanjaan, dompet dan sekeranjang harapan. Dari jauh, terlihat toko sudah buka namun masih sepi. Inilah yang memang diharapkan Conina.

“Pagi, Neng. Mau belanja, ya?” tanya Ramuda menyambut Conina dengan senyum yang, sebenarnya, biasa ia hadiahkan pada setiap pengunjung toko, sipapun dia. Namun senyum itu di mata gadis over narsis seperti Conina terasa spesial bagi dirinya, sungguh membuatnya bahagia, flay hay tu de sekay. Betapa hati gadis itu berbunga-bunga, bertaman-taman, berkebun-kebun, berhutan-hutan. Senyum makin merekah di bibirnya.

Conina sudah memainkan bola serta kelopak matanya dan hendak menjawab sapaan Ramuda, saat si gadis tiba-tiba merasakan perutnya mulas. Ada sesuatu yang terasa menggumpal dan mendesak keluar. “Celaka! Ini pasti efek sistemik sambal terasi tadi malam” pikirnya. Conina memusatkan pikiran dan mengerahkan tenaga dalam penuh (kayak cerita silat aja) untuk menahan ulah perutnya, sambil tetap berusaha menjaga senyum dibibirnya. Namun, layaknya ‘pepatah’ sableng a la santri, al-mujūru la yudāfat, wa-s shiyālu la yuhandar (mujur tak bisa didapat, sial tak bisa terhindar), mendadak: “Bruuuuuuuuuutttt!!!” bunyi dentuman terdengar menggelegar dari bagian bawah tubuh Conina!

Sungguh, Conina telah kentut, dengan kentut yang nyata!

Akibatnya segera terlihat: bunga-bunga di hati Conina mendadak layu. Matanya melotot nyalang. Senyum paling manis yang ia persiapkan sejak tadi pagi, sirna tanpa bekas, berganti mulut yang menganga kaku. Rautnya yang semula secerah pagi, langsung redup tertutup mendung rasa malu tak terkira. Darah seolah tak lagi mengaliri wajahnya yang pucat se pucat-pucatnya. Semua bayangan indahnya seolah menyepakati judul sebuah novel terkenal Gone With The Wind (1936). Bahkan kerudung yang sejak berangkat tadi tak hentinya ia rapikan, kini terlihat terkulai menyedihkan. Betapa Conina berharap, saat itu juga bumi yang pijaknya terbelah dan menyedot dirinya bulat-bulat.

“Eh, kok malah bengong gitu, Neng?” tanya Ramuda, dengan wajah yang –anehnya—tak menampakkan perubahan apapun, selain keramahan yang wajar seperti tadi. “Mau beli apaan, ya?” kembali Ramuda bertanya.

Kepalang basah, Conina menjawab, dengan suara lirih dengan mode ’getar’ bahana malu, “Eh…anu…Kang, Sss… saya cuma mau beli gula, Kang, 5 kilo, dan…eh…minyak goreng…2 liter…”

“Ooo… kalo tepung terigu sudah habis, Neng. Kacang ijo masih ada. Eneng mau berapa kilo?”

Hah? Conina melongo. Merasa mungkin suaranya kurang keras, Conina mengulang sambil menaikkan volumenya, “Gula, Kang; gula, sama minyak goreng…” Conina menegaskan.

“Oh, kecap ya? Mau botolan atau sachetan?” tanya Lorana.

“Ya ampuuuuun… cakep-cakep kok bolot, sih?” batin Conina kesal. Lalu, dengan setengah berteriak, ia kembali mengulang, “Kaaaang, saya mau beli gula! Denger neh ya, Ge-U-eL-A, G-U-L-A!!!”

“Oh, iya, maaf…” Ramuda manggut-manggut. “Kirain kecap, he…he…he… Jadi mau beli minyak tanah ya? Berapa liter?”

Mulanya, si gadis hendak membanting-bantingkan kakinya karena kesal sekali. Namun, mendadak ia menyadari satu hal: telinga Ramuda yang koneksinya ternyata lemot ini pastilah tidak mendengar alunan nada kentutnya. Conina lega bukan main. Darah kembali memerahi wajahnya yang sempat seputih tembok. Dengan suara yang terdengar santai, tanpa perduli apakah Ramuda mendengar atau tidak, Conina berkata lagi, “Ya udah ah, Kang. Ga jadi deh! Saya cari di toko lain aja!” katanya sambil balik kanan dan langsung ngeloyor pergi, diiringi pandangan dan senyum Ramuda.

Mendadak, anak muda ini membalikkan tubuh untuk memeriksa suara-suara halus yang sebenarnya sejak tadi ia dengar di belakangnya.

“Ah, tikus-tikus itu berulah lagi…” pikirnya…

Karena sikapnya yang berpura-pura tuli untuk menutup aib orang lain agar terhindar dari merasa malu, Ramuda jelas menderita ‘kerugian’ duniawi. Setidaknya ia kehilangan laba dari 5 kilo gula dan 2 liter minyak goreng yang tak jadi terjual. Namun Ramuda tidak perduli. Ia tidak seperti mereka yang justru sibuk mengorek dan mengais-ngais aib serta kelemahan orang lain untuk diekspos demi keuntungan pribadi dan gerombolannya. Pendek kata, biarlah –misalnya– dalam Buku Arsip Data Desa Sukamajujalan ada catatan berbunyi: “Balada Ramuda: si ganteng yang tuli”. Yang penting, data dalam buku tersebut tidak bertambah panjang dengan catatan susulan: “…dan Conina: si cantik tukang kentut”.

Prenduan, R. Tsani 1434 H.
Diadaptasi dari: Syarh Sullam at-Taufiq, hlm. 181

komentar

Related Posts