Dakwah VS Mengajar Agama - Atorcator

Dakwah VS Mengajar Agama

Ilustrasi foto : Tirto

Dakwah bisa dilakukan siapa pun. Bahkan semua seharusnya berlomba dan saling support. Mau itu muslim yang islam sejak lahir atau mu’allaf baru sejam, mau itu orang alim atau orang awam, orang shalih atau orang bejat, mau santri atau artis baru hijrah, semua bisa dan berhak berdakwah.

Makin banyak yang berdakwah, makin bagus. Makin banyak saling nyinyir antara pendakwah, maka makin tidak bagus perkembangan dakwah.

Tapi berbeda jauh antara dakwah dan mengajar agama. Mengajar agama tak bisa dilakukan semua orang. Harus punya kualifikasi yang cukup untuk itu. Bila kualifikasi ini dilanggar, maka bukannya jadi baik malah jadi negatif sebab para pelajar agama akan dibuat tersesat dalam info yang salah.

Contoh berdakwah adalah membujuk non-muslim agar masuk islam, mengajak yang muslim agar bertaubat, mengajak agar shalat secara istiqamah, agar rajin ibadah, agar tidak korupsi, mabuk, berzina dan sebagainya yang jelas-jelas dilarang oleh agama. Secara bahasa, dakwah artinya hanya mengajak saja, tak lebih dari itu.

Sedangkan menerangkan tafsir al-Qur’an, menjelaskan maksud hadis, menerangkan persoalan fikih yang tak diketahui semua orang, apalagi membahas perbedaan pendapat di antara para ulama, maka hanya seorang ahli yang punya track record pendidikan agama yang panjang yang berhak melakukannya. Ini bukan lagi hanya dakwah semata, tapi sudah masuk kategori mengajar ilmu agama.

Seperti halnya mahasiswa kedokteran tak berhak membuka praktek dokter, maka pelajar pemula juga tak berhak mengisi forum mengajar. Larangan ini bukan dalam rangka nyinyir pada dakwah, tapi dalam rangka menjaga agama.

Lalu bagaimana bila mereka yang hanya layak berdakwah lantas ditanya tentang hal-hal tersebut di atas? Jawabannya adalah harus mengarahkan penanya pada orang yang ahli mengajar agama, bukan malah berpura-pura menjadi ahli padahal bukan.

komentar

Related Posts