Hikmah Poligami Rasulullah (1) - Atorcator

Hikmah Poligami Rasulullah (1)

Ilustrasi: Fb-badrus sholeh ahmad

Sebagaimana sering saya kemukakan, bahwa Rasulullah Saw melakukan poligami atas dasar wahyu, bukan nafsu. Sehingga tentu saja di dalamnya mengandung sejuta hikmah yang sangat agung.

(Maaf), tidak seperti sebagian ummatnya yang terkadang berpoligami karena ingin memuaskan nafsu birahinya. Demikian itu bagus, daripada zina. Tapi gak usah bawa-bawa label sunnah. Kalau saya pribadi tidak akan mengatakan bahwa poligami itu sunnah. Kalau pengen poligami ya langsung aja gitu gak usah bilang-bilang. Apalagi bilang istri muda.

Kembali ke hikmah poligami Rasulullah. Ada beberapa hikmah besar yang muncul dari poligami manusia paling mulia ini. Dan ini sangat perlu kita ketahui dan kita sampaikan kepada ummat Islam agar sama-sama mengetahui dan tidak berprasangka macam-macam kepada Baginda Rasulullah. Berikut beberapa hikmah tersebut:

Hikmah Ta’limiyah (Pengajaran)

Puncak dari hikmah poligami Rasulullah adalah mencetak seorang alim yang akan menjadi tumpuan perempuan dalam urusan agama. Karena perempuan juga diberi kewajiban sebagaimana laki-laki. Sehingga mereka juga perlu seorang pembimbing dalam urusan agama layaknya laki-laki.

Di samping itu kebanyakan mereka malu bertanya secara langsung kepada Rasulullah. Ditambah lagi Rasulullah adalah manusia yang sangat pemalu. Hingga dikatakan:

“Rasulullah itu adalah orang yang sangat pemalu, bahkan melebihi seorang gadis dalam pingitannya”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Kalaupun ada wanita yang terang-terangan bertanya kepada beliau masalah kewanitaan, beliau akan menjawab dengan bahasa sindiran (implisit) saja, tidak secara vulgar. Pantas saja jika banyak yang tidak memahami ucapan beliau.

Sayyidah Aisyah pernah bercerita, ada seorang perempuan dari golongan Anshor bertanya kepada Rasulullah tentang tatacara mandi setelah suci dari haid. Lalu Rasulullah mengajarinya tatacara tersebut. Rasulullah berkata: “ambillah sepotong kapas yang dicampur misik lalu bersucilah dengan kapas tersebut”

Perempuan itu belum paham dan bertanya lagi kepada Rasulullah:

“Bagaimana cara saya bersuci dengan kapas, wahai Rasulullah?”

“Bersucilah dengan kapas itu!”. Jawab Rasulullah.

“Iya bagaimana caranya, wahai Rasulullah?”. Tanya lagi perempuan tadi.

“Subhanallah, bersucilah dengan kapas itu!”. Jawab lagi Rasulullah dengan nada lebih tinggi.

Sayyidah Aisyah melanjutkan ceritanya. (Sepertinya beliau agak geram melihat kejadian ini). “Lalu saya ambil kapas itu dari tangannya dan berkata kepada dia: letakkanlah kapas ini di sini dan di sini mengikuti bekas darah ini”. Sayyidah Aisyah tidak segan-segan untuk menyebutkan di mana letak kapas tersebut dengan jelas.

Rasulullah tidak mungkin melakukan apa yang dilakukan Sayyidah Aisyah. Disamping bukan mahram, Rasulullah sangatlah pemalu.

Ketika sudah demikian, para wanita butuh pendidik dari golongan mereka (wanita) yang bisa dijadikan rujukan berkonsultasi. Maka Allah memilih wanita-wanita cerdas untuk dijadikan istri Rasulullah. Tak heran jika banyak lahir ahli fikih di jaman Rasulullah berkat bimbingan istri beliau Radliyallahu anhun.

Bersambung….

Tulisan ini dan tulisan selanjutnya disarikan dari kitab “Mukhtashor Tafsir Ayat al-Ahkam, (Kediri: Madrasah Hidayah al-Mubtadi-in, tth)”

Separah, Galis, Bangkalan

komentar

Related Posts