Hikmah Poligami Rasulullah (2) - Atorcator

Hikmah Poligami Rasulullah (2)

Bismillahirrahmanirrahim.

Di tengah kesibukan saya pergi ke ladang, nangkap ikan, burung puyuh dan kemana-mana yang tak jelas, saya tetap harus menulis. Karena di samping mulai hoby, membuat tulisan dengan judul di atas adalah keharusan. Selain amat penting, juga karena ada request.

Langsung saja biar tidak bertele-tele. Jadi yang selalu saya tekankan kepada siapapun, poligami Rasulullah Saw tidak sama dengan poligami ummatnya, termasuk saya. Poligami Rasulullah mengandung hikmah besar yang akan tetap dirasakan hingga hari kiamat.

Baca juga: Hikmah Poligami Rasulullah (2)

Hikmah Tasyri’iyah (Penerapan syariat)

Hikmah poligami Rasulullah yang kedua adalah, penerapan syariat (Al-Hikmah al-Tasyri’iyah). Hikmah kedua ini adalah suatu sikap dan teladan Rasulullah Saw yang kemudian dijadikan syariat. Seperti pernikahan Rasulullah dengan mantan istri anak angkatnya, yang kemudian memberangus tradisi orang Jahiliyah menjadikan anak angkat layaknya anak kandung.

Orang Mekah pra Islam mempunyai tradisi menyamakan anak angkat dengan anak kandung. Jika seseorang telah diangkat menjadi anak, maka anak tersebut nasabnya bersambung kepada orang tua asuhnya. Sehingga orang tua asuhnya berhak menerima warisan, menjadi wali nikah, berlakunya hukum mushoharah (kekeluargaan melalui pernikahan), mahram dan lain sebagainya.

Atas kehendak Allah SWT, sebelum Rasulullah Saw diangkat menjadi Nabi, beliau mendapat Ilham agar mengangkat seorang anak. Lalu Rasulullah mengangkat seorang anak bernama Zaid bin Haritsah.

Sebagaimana kebiasaan orang Jahiliah menjadikan orang tua asuh layaknya orang tua kandung, sekarang mereka memanggil Zaid bin Haritsah dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Kemudian setelah Rasulullah Saw diangkat menjadi Nabi terakhir, turunlah ayat:

ٱدۡعُوهُمۡ لِـَٔابَاۤىِٕهِمۡ هُوَ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِۚ فَإِن لَّمۡ تَعۡلَمُوۤا۟ ءَابَاۤءَهُمۡ فَإِخۡوَ ٰ⁠نُكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَمَوَ ٰ⁠لِیكُمۡۚ وَلَیۡسَ عَلَیۡكُمۡ جُنَاحࣱ فِیمَاۤ أَخۡطَأۡتُم بِهِۦ وَلَـٰكِن مَّا تَعَمَّدَتۡ قُلُوبُكُمۡۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورࣰا رَّحِیمًا. [سورة الأحزاب: 5]

Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Dr dl maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab: 5).

Setelah turunnya ayat ini nama Zaid bin Muhammad kembali menjadi Zaid bin Haritsah bin Syarahbil.

Kemudian Rasulullah menikahkan Zaid dengan sepupunya Zainab (Putri bibik dari jalur ayah). Namun hubungan rumah tangga Zaid dan Zainab tidak berlangsung lama. Zainab merasa Zaid tidak sekufu’ dengannya. Karena Zainab seorang keturunan bangsawan, cucu Abdul Mutthalib, sedangkan Zaid hanyalah hamba sahaya yang dijadikan anak angkat oleh Rasulullah.

Rupanya semua ini sudah menjadi skenario Allah SWT yang mengandung hikmah besar. Setelah Zainab bercerai dengan Zaid, Allah SWT memerintahkan Rasulullah agar menikahi Zainab. Sepupu sekaligus mantan istri anak angkatnya. Tujuannya untuk menghilangkan paradigma orang Jahiliah yang menganggap anak angkat seperti anak kandung.

Namun Rasulullah Saw sempat khawatir dengan ejekan orang munafik. Rasulullah enggan dikatakan menikahi mantan istri anaknnya. Lalu beliau termenung sembari menundukkan kepala. Maka turunlah ayat:

وَإِذۡ تَقُولُ لِلَّذِیۤ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِ وَأَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِ أَمۡسِكۡ عَلَیۡكَ زَوۡجَكَ وَٱتَّقِ ٱللَّهَ وَتُخۡفِی فِی نَفۡسِكَ مَا ٱللَّهُ مُبۡدِیهِ وَتَخۡشَى ٱلنَّاسَ وَٱللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخۡشَىٰهُۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَیۡدࣱ مِّنۡهَا وَطَرࣰا زَوَّجۡنَـٰكَهَا لِكَیۡ لَا یَكُونَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ حَرَجࣱ فِیۤ أَزۡوَ ٰ⁠جِ أَدۡعِیَاۤىِٕهِمۡ إِذَا قَضَوۡا۟ مِنۡهُنَّ وَطَرࣰاۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ مَفۡعُولࣰا. [سورة الأحزاب 37].

Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi. (QS. Al-Ahzab: 37).

Semenjak pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Zainab, maka hilanglah tradisi mungkar di atas. Dan perlu ditegaskan lagi, apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah murni perintah Allah SWT, bukan ajakan nafsu sebagimana tuduhan musuh-musuh Islam.

Demikian tulisan saya kali ini. Atas segala kekurangan dan kesalahan saya mohon maaf. Semoga saya selalu diampuni oleh Allah SWT dan tulisan ini bermanfaat!.

Tulisan ini dan tulisan selanjutnya disarikan dari kitab “Mukhtashor Tafsir Ayat al-Ahkam, (Kediri: Madrasah Hidayah al-Mubtadi-in, tth)”.

Separah, Galis, Bangkalan
26 Juni 2020 M

komentar

Related Posts