Jihad Menurut Syaikh Said Ramadhan al-Buthy

Ilustrasi: Syaikh Said Ramadhan Al-buthy

(Sebuah Kritik Atas Konsep Jihad Ala Ekstrimis-Jihadis)

Membaca tulisan Syahidullah Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthy ini, saya semakin menjadi tahu mengapa beliau begitu diincar oleh kelompok konservatif-ekstrimis hingga menyebabkan ulama yang dijuluki imam al-Ghazalinya hadza az-zaman karena luas penguasaannya terhadap literatur kajian keislamannya ini wafat dibunuh secara biadab saat sedang mengisi kajian ilmu di Masjid Damaskus Suriah.

Dalam karya beliau berjudul “Menjadi Mujahid Sejati: Upaya Memahami Dan Mengaktualisasikan Konsep Jihad Dalam Islam” ini, Syaikh al-Buthy membongkar kesalahan pahaman atau kekeliruan kelompok jihadis-ekstrimis memahami makna Jihad. Beragam landasan hujjah dipaparkan. Dari mulai sejarah kehidupan Nabi saat melaksanakan Jihad (Qital), faktor apa saja yang melatarbelakangi mengapa kemudian Nabi dan kaum mukmin kemudian memilih berperang secara fisik hingga pendapat para ulama salafunas shalih yang mu’tabar.

Dalam salah satu tulisan misalnya, Syaikh al-Buthy memulai dengan kalimat pertanyaan: Apakah Jihad diwajibkan dan ada hanya setelah Nabi Saw hijrah? Menurut beliau jawabannya, tidak!. Nabi bahkan sudah berjihad sejak periode Makkah. Pertanyaan selanjutnya. Jika memang jihad itu mesti harus dimaknai dengan berperang, maka sejak masa Nabi Saw masih di Makkah seharusnya sudah ada pertarungan (qital) antara Nabi Saw beserta kaum mukmin dengan kafir Quraisy. Saat di mana Nabi Saw dan pengikutnya ditindas orang-orang kafir Quraisy.

Mengenai konsep Jihad dalam pandangan Islam, Syaikh al-Buthy dalam salah satu tulisannya mengutip firman Allah Swt dalam QS. al-Furqan: 52

فَلَا تُطِعِ ٱلْكَٰفِرِينَ وَجَٰهِدْهُم بِهِۦ جِهَادًا كَبِيرًا

Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan jihad yang besar.

Jadi dakwah yang paling besar sebenarnya adalah jihad dengan al-Qur’an, menyampaikan ayat-ayat Allah agar ummat mendapat pencerahan. Bukan melulu soal jihad fisik (perang).

Dalam ayat lain beliau menjelaskan bahwa berjihad itu juga bisa dengan kesabaran. Dengan bersikap sabar berarti kita juga bisa dikatakan telah berjihad sebagaimana dijelaskan dalam Qs. An-Nahl: 110

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan sesungguhnya Tuhanmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Kata “hijrah” yang dimaksud dalam ayat di atas adalah hijrahnya para sahabat awal ke Habasyah atas perintah Nabi Saw. Padahal seperti mafhum kita pahami dalam sejarah bahwa negeri Habasyah dukuasai oleh raja dan juga penduduknya memeluk agama Nasrani. Yang jelas, hijrah sahabat ke Habasyah seperti termaktub dalam ayat di atas dilakukan sebelum hijrah ke Madinah.

Adapun alasan memerangi orang kafir atau musyrik menurut Syaikh al-Buthy adalah bukan karena kekafirannya, tetapi karena mereka telah merusak perjanjian dengan Nabi Saw dan kaum muslimin seperti pelanggaran terhadap Piagam Madinah.

Syaikh al-Buthy mengatakan bahwa dalam Islam, perang itu dilakukan karena adanya faktor al-Harabah. Al-Harabah adalah begitu tampaknya niat permusuhan dari musuh secara jelas. Jadi bukan karena faktor kekafiran. Jika kekafiran adalah faktor yang mengharuskan berperang, maka tentu sejak masa Nabi Saw di Makkah sudah terjadi pertumpahan darah (perang) akibat kekafiran kafir Quraisy yang begitu merajalela.

Bahkan dalam sejarah tercatat hanya ada tiga perang di mana Nabi dan kaum muslim menyerang terlebih dahulu (ofensif) karena adanya faktor al-Harabah dari kaum kafir, yaitu perang bani musthaliq, perang khaibar, perang mu’tah dan perang Tabuk. Sementara pada perang lainnya, Nabi Saw dan kaum muslimlah yang diserang terlebih dahulu. Dalam posisi ini Nabi Saw dan kaum muslimin hanya bertahan (defensif).

Terkait dengan perang ofensif di mana Nabi Saw pernah melaksanakannya akibat adanya faktor al-Harabah ini, Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali membenarkan tindakan kaum muslimin menyerang terlebih dahulu pasukan Romawi karena jika tidak demikian merekalah yang akan menyerang kaum muslimin terlebih dahulu. Terlebih jika kita ingat, al-Harabah pernah ditunjukkan oleh raja Romawi dengan membunuh utusan Nabi Saw. Padahal seperti diketahui, posisi utusan tidak boleh diganggu, apalagi dibunuh. Nyawa utusan harus terjamin keselamatannya. Membunuh utusan, sama saja dengan ajakan untuk berperang.

Namun bagi non muslim yang tidak menunjukkan sikap al-Harabah, Nabi melarang kaum muslim menyakiti, apalagi sampai membunuhnya. Terlebih bagi orang kafir yang masih mau membayar jizyah kepada kekuasaan muslim (kafir dzimmi). Jika demikian kondisinya, maka menjaga harta dan nyawa orang kafir yang membayar jizyah adalah wajib hukumnya.

Bukankah Nabi Saw pernah melakukan perjanjian dengan penduduk Bahrain yang beragama Majusi? Juga penduduk Najran yang beragama Nasrani?

Dikutip dari Kitab Aqaid karya Imam an-Nasafi, dalam catatan di akhir halaman bukunya ini, Syaikh al-Buthy juga menyampaikan bahwa tidak diperkenankan seorang pemimpin (raja atau presiden) diturunkan dari jabatannya hanya karena ia dzalim, hanya karena ia tidak taat lagi kepada Allah dan berbuat lalim kepada hamba-Nya. Ini sebagaimana disampaikan Imam Abu Hanifah bahwa orang fasiq atau dzalim masih memiliki hak menjadi pemimpin.

Jihad fisik dengan demikian tidak dimaksudkan untuk mengajak apalagi memaksa orang sesat-kafir menjadi muslim. Tetapi untuk mempertahankan kedaulatan wilayah (negara) yang telah Allah anugerahkan kepada kaum muslimin dari serbuan atau gangguan kafir agresor sebagaimana saat Nabi Saw dan kaum muslimin berada di Madinah.

Jadi Jihad dalam arti perang hanya disyariatkan untuk memelihara (pencapaian kaum muslim) yang telah ada. Bukan untuk membuat negara -baru- yang belum ada. Membuat negara di dalam negara. (Contohnya seperti ISIS, JAD, HTI dan sejenisnya, penj*)

Sebagai catatan akhir, saya kutip apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dari Imam as-Syafi’i bahwa beliau pernah berkata: “Qital tidak sama dengan Qatl. Terkadang kita diperbolehkan untuk membalas seseorang (yang menyakiti kita), namun tidak diperbolehkan (qatl) membunuhnya”.

*Catatan kecil dari buku berjudul “Menjadi Mujahid Sejati: Upaya Memahami Dan Mengaktualisasikan Konsep Jihad Dalam Islam”, karya Syahidullah Syaikh Muhammad Said Ramadhan al-Buthy yang baru selesai saya baca hari ini.

Related Posts