Kaitan Antara Fikih dan Sains - Atorcator

Kaitan Antara Fikih dan Sains

Beberapa orang salah paham dalam masalah fikih dan sains sehingga merasa bahwa sains bisa sepenuhnya mengubah keputusan fikih yang ada. Beberapa lagi menyangka sebaliknya bahwa sains sama sekali tidak ada urusannya dengan fikih.

Sebab itu, perlulah dipahami peta hubungan antara fikih dan sains. Untuk itu, ada tiga ranah yang musti dibedakan dengan tegas, yaitu:

1. Ranah ta’abbudi murni

Ranah ta’abbudi adalah ranah ibadah di mana ada perintah dan larangan dari syariat yang dibuat sebagai uji ketaatan. Ranah ini bukan ranah rasio sehingga tak bisa ditanya kenapa. Di ranah ini, sains sama sekali tidak punya peran sedikit pun.

Contoh ranah ini adalah bab batalnya wudhu. Secara fikih diputuskan bahwa siapa yang memegang kelaminnya sendiri dengan telapak tangan, maka wudhunya batal. Tentu saja secara sains tak ada bedanya antara kulit kelamin dan kulit tubuh lainnya, juga tak ada bedanya antara memakai telapak tangan atau punggung tangan.

Contoh lainnya adalah soal halal tidaknya sembelihan. Secara fikih ditentukan bahwa sembelihan yang halal adalah hewan yang mati dengan cara diputuskan rongga makanan dan jalur pernapasannya dengan alat yang tajam. Secara sains tentu mati bagaimana pun caranya sama saja tak berefek pada dagingnya.

Demikian juga soal najisnya air. Dalam Fikih diputuskan bahwa air kencing bayi laki-laki yang belum makan apa pun selain asi dapat disucikan dengan diciprati air saja. Tentu saja secara sains ini aneh sebab cipratan air tak mengubah apa pun. Demikian juga keberadaan air kencing di dalam air dua qullah, secara fikih hukum airnya tetap suci bila tak ada perubahan aroma, rasa dan warna. Bila air tersebut dibawa ke laboratorium jelas akan terlihat banyak kandungan najisnya. Meski demikian tetap saja dihukumi suci dari najis.

2. Ranah ta’aqquli murni

Ranah ta’aqquli adalah ranah rasional di mana keputusan fikih bergantung sepenuhnya dari pertimbangan rasional. Dalam ranah ini sains punya peran penting sebagaimana ilmu lainnya juga berperan untuk mengetahui kadar maslahat (kebaikan), mafsadah (kerusakan), gharar (kecurangan), dzari’ah (potensi), washilah (medium) dan lain sebagainya.

Contoh ranah ini adalah soal jual beli. Dalam Fikih klasik ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya jual beli adalah bertemunya penjual dan pembeli dan adanya barang yang konkret di depan mereka. Hal ini bertujuan agar meniadakan potensi gharar atau penipuan. Namun sains modern memungkinkan transaksi online yang aman dari gharar meskipun antara keduanya berjauhan dan barangnya hanya terlihat dari gambar sehingga hukum fikih pun dapat menyesuaikan.

Contoh lainnya adalah soal air musyammasy alias air yang dipanaskan di bawah terik matahari dalam wadah logam. Fikih Syafi’iyah memutuskan bahwa air ini makruh dipakai sebab karat di logam dianggap berpotensi menyebabkan penyakit kulit. Namun karena alasannya bersifat saintifik, maka sains sangat menentukan makruh tidaknya air musyammasy ini. Di masa klasik telah diperinci bahwa wadah logam mulia dapat menghilangkan kemakruhan sebab tidak berkarat, demikian juga dengan wadah kayu. Di masa ini kita bisa juga memberlakukan hal yang sama pada wadah stainless Steel dan plastik. Bahkan bila ternyata sains modern membuktikan bahwa karat tidak berbahaya bagi kulit, bisa jadi hukum makruh air musyammasy ini gugur sepenuhnya.

3. Ranah campuran antara ta’abbudi dan ta’aqquli

Di ranah hibrid ini unsur rasio dan ibadah saling melengkapi satu sama lain sehingga sains punya peran, tapi terbatas pada sisi ta’aqqulinya saja tanpa bisa mengubah keputusan di sisi ta’abbudinya.

Contohnya adalah soal penentuan awal Ramadhan. Di satu sisi ada hadis Nabi yang jelas memerintahkan agar menentukan awal dan akhir puasa dengan melihat hilal dengan mata kepala (kata rukyat bermakna melihat dengan mata, bukan dengan ilmu). Tetapi di sisi lain tersedia sains yang memungkinkan kita tahu persis data hilal secara akurat cukup dengan perhitungan. Dalam hal ini rukyat tetap harus dilakukan sebagai ranah ibadah tetapi pelaksanaannya dapat dibantu dengan sains untuk meningkatkan akurasi rukyat. Apabila misalnya ada mendung tebal sehingga tak ada satu pun yang melihat hilal dengan mata tetapi secara sains dipastikan bahwa hilal sudah tinggi, maka menurut penulis pribadi seharusnya besoknya belum berpuasa dan belum hari hari raya sebab teks hadisnya jelas menyatakan seperti itu. Dengan demikian kriteria imkanur rukyah ataupun wujudul hilal menurut penulis telah membuat sains melompati pagar sisi ta’abbudi yang seharusnya tidak terjadi. Mereka yang memakai imkanur rukyat dan utamanya wujudul hilal tampaknya memandang persoalan ini dalam kriteria murni rasional.

Contoh lain adalah soal masa iddah. Fikih menentukan masa iddah beragam bagi perempuan yang diceraikan atau pun ditinggal mati suaminya. Sisi ta’abbudinya terlihat jelas dari lamanya iddah yang secara sains “terlalu lama” bila maksudnya hanya untuk menentukan kosong tidaknya rahim. Namun ada sisi rasionalnya juga dimana pengantin yang belum disetubuhi tak perlu beriddah sebab sudah nyata rahimnya kosong. Sains bisa membantu memberi kepastian kosong tidaknya rahim, tapi tak bisa mengubah sisi ta’abbudinya sehingga tetap wajib iddah meskipun rahimnya terlihat tidak hamil di layar USG dan alat test hormon memastikan itu juga.

Tapi bisa jadi keputusan final ranah ta’abbudi ditentukan oleh sains ketika ranah ta’abbudinya global dan perinciannya dilakukan oleh sains. Misalnya saja soal najis tidaknya tinta cumi-cumi yang saya bahas beberapa hari lalu. Soal najis yang keluar dari tubuh sebenarnya ranah ta’abbudi, tapi aturannya masih global pada darah, nanah, muntah dan hasil pencernaan. Apakah tinta cumi masuk kategori tersebut? Di sinilah sains menjawab bahwa ia tak masuk kategori tersebut.

Semoga uraian ini bermanfaat.

komentar

Related Posts