Kecerdasan Spiritual Menurut Quraish Shihab

Ilustrasi: @imam_baihaqi

Hal yang menarik dari membaca bukunya Prof. Quraish Shihab “Dia Di Mana-mana, Tangan Tuhan Di Balik Setiap Fenomena” tadi malam adalah soal kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual ini menjadi kebutuhan pokok ummat beragama. Sebab kecerdasan ini akan semakin memantapkan keimanan kita kepada Allah SWT. Bukan saja memantapkan iman tapi juga menumbuhkan kepekaan sosial yang mendalam di circle sekitar.

Seseorang yang hatinya mudah tergerak, menolong orang lain dan membantu orang yang membutuhkan itu merupakan wujud dari kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini adalah hal paling penting dan fundamental dari kehidupan manusia.

Menurut Quraish Shihab kecerdasan spiritual ini menunjukkan wujud Tuhan itu ada di mana-mana, bisa ditemukan di mana saja. Bahkan dari kecerdasan spritual inilah akhlak seseorang itu terbentuk secara alami dan mampu menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

Dalam hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim dimana Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tuhan (Allah SWT) itu ada dan dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita.” ini satu contoh bahwa kecerdasan spiritual tidak hanya mampu memperhalus budi pekerti tapi juga mempertajam kepekaan sosial.

Ketika kecerdasan spritual ini membentuk akhlak secara alami, maka seyogyanya seseorang mulai melatih kebersihan hati nurani kita untuk tidak gampang membenci orang lain dan orang yang berbeda dengan kita. Ini penting. Sebab tak sedikit belakangan ini orang mudah menyalahkan orang karena perbedaan pandangan.

Dan yang paling parah, seseorang saling menghakimi sesuatu yang bukan levelnya. Misal klaim surga-neraka. Ini jelas bukan maqamnya. Ia sudah melanggar aturan main masuk pada sesuatu yang bukan job description-nya. Padahal sejatinya manusia tidak perlu sibuk mengurus orang lain kecuali dalam konteks tolong menolong.

Dalam buku itu juga dijelaskan kecerdasan ini mampu mengantarkan manusia pada kepercayaan yang bersifat ghaib. Tentu saja ghaib yang tidak bertentangan dengan akal manusia. Bukan ghaib yang takhayul dan khurafat.

Contoh yang diambil Prof. Quraish Shihab cukup aktual dan sering kita temui dalam kehidupan masyarakat sehari-hari soal kepercayaan terhadap yang ghaib tapi bertentangan dengan akal. Mengafani kucing yang ditabrak dengan pakaian lalu menguburkannya, tetapi ketika menabrak manusia melarikan diri. Semoga kita dijauhkan dari perbuatan seperti ini.

Amin

Related Posts