KHR. Ach. Fawaid As'ad: Arena Dakwah Politik dan Nahi Munkar Jalan Penuh Risiko - Atorcator

KHR. Ach. Fawaid As’ad: Arena Dakwah Politik dan Nahi Munkar Jalan Penuh Risiko

Ilustrasi; ma’had aly salafiyah syafi’iyah

Perintah mmengajak kepada kebaikan, menyuruh dengan hal2 yang baik (ma’ruf) adalah bagian dari kewajiban setiap mukmin. Bersamaan dengan dakwah amar ma’aruf, ada juga dakwah yang bukan mengajak, tapi mencegah hal2 yang munkar.

Setiap pilihan menjalankan dakwah untuk kebaikan, baik dengan cara mengajak maupun mencegah ada resikonya masing2. Jika porsi dakwahnya yang menonjol adalah mengajak kebaikan (amar ma’ruf), biasanya resiko yang ditanggung tidak tampak sebagai sesuatu yang berat. Namun, pilihan nahi munkar sebagai jalan dakwah, hampir dipastikan resiko yang menimpa terasa berat, bahkan bahaya, baik dirinya, keluarganya, maupun umat yang mengikuti.

Ada sebagian besar, kiai dan tokoh pernah menyampaikan kepada saya, bahwa KHR. Ach. Fawaid As’ad dalam melakukan dakwah nahi munkar begitu tampak dan menonjol, khususnya nahi munkar dalam wilayah politik yang sangat dinamis. Agak sulit memahami bagaimana tampilan nahi munkar dalam politik (yang notabene perebutan kekuasaan, termasuk mempertahankannya). Kesulitan memahami dakwah nahi munkar Kyai Fawaid sangat terasa bagi sebagian orang, termasuk yang biasa berada dekat secata fisik dengan beliau.

Tak perlu merinci dan menyebut secata rigid apa saja obyek nahi munkar yang dilakukan Kiai Fawaid, karena bisa berpetensi subyektif. Nuansa dan keharuman aromanya bisa dirasakan, bagaimana Kiai Fawaid melakukan nahi munkar.

Suatu ketika, kiai menyampaikan, andaikan yang saya lakukan, kegiatan politik tidak membawa ibadah di hadapan Allah, pasti saya tinggalkan. Banyak orang beranggapan bahwa politik itu bukan ibadah. Saya meyakininya sebagai ibadah, karena abah, Kiai As’ad melakukan itu. Saya menyadari bahwa anggapan politik praktis itu kotor sering terdengar dalam telinga saya. Jangan2 tempat yang dianggap kotor itu penuh kemuliaan. Posisi kitalah yang bisa membedakan mana kotor dan bersih.

Banyak pihak yang mempertanyakan, ngapain urus perjuangan politik? Ungkapan ini sudah bisa diprediksi. Memimpin pondok pesantren besar, sebagai amanah orang tua dan leluhurnya bukan hal mudah, ditambah urusan politik praktis. Itulah bagian dari pilihan yang beresiko. Namun, kenyataan membuktikan, Kiai Fawaid bisa membagi waktu antara pesantren, NU, politik, pelayanan masyarakat, dan lain sebagainya. Semua dijalani dengan penuh ceria, sabar, dan tegar.

Dalam kesempatan kunjungan ke Sukorejo, Prof. Dr. Mahfud MD, SH. MH., saya berkesempatan berbincang-bincang. Pak Mahfud, gimana bapak melihat sosok Kiai Fawaid? Sambil menikmati hidangan ringan, Prof Mahfud menyampaikan, Kiai Fawaid itu sosok pejuang, pemberani, dan siap dengan segaLa resiko. Beliau itu kalau sudah meyakini sebuah kebenaran, tidak ada rasa khawatir sedikitpun dalam menjalaninya, sekalipun penuh resiko. Bahkan, saat gedung MK dalam situasi mencekam, ramai2nya cecak-buaya, Kiai Fawaid datang ke MK dengan maksud akan menjaga saya (Mahfud, Ketua MK) jika pihak keamanan negara tidak hadir. Wah jangan kiai, saya ini pejabat negara yang keamanannya dijamin, demikian pak Mahfud mencoba menghalangi niat baik Kiai Fawaid.

Kenapa Kiai Fawaid begitu tampak keberaniannya? Dalam pandangan KH. Afifuddin Muhajir; Kiai Fawaid itu sosok kiai yang tawakkalnya sangat tinggi. Sehingga menjadikan dirinya sebagai pemberani. Andaikan bukan karena tawakkal yang begitu tinggi, rasanya sulit Kiai Fawaid melakukan demonstrasi menutup jalan, gak semua orang bisa. Insya Allah maskuri tahu kan? Saya terdiam tidak merespon pertanyaan dan pernyataan Kiai Khofi ( saat diskusi di ruang tamu Ma’had Ali).

Al-Fatihah untuk guruku KHR .Ach. Fawaid As’ad. Semoga kita semua pandai mengambil hikmah dan sejarah kehidupan beliau

Sukorejo, 14/6/2020

komentar

Related Posts