Kisah Anjing Pembela Nabi Membuat 40 Ribu Orang Mongol Masuk Islam

Anjing Pembela Baginda Nabi

Syekh Jamaluddin Ibrâhîm bin Muhammad al-Ťîby (706 H) bercerita (di hadapan perkumpulan orang):

Aku berkumpul bersama سونجق خندار, dia adalah salah satu orang dari bangsa Mongol yang beragama Nasrani. Saat itu aku bersamanya di tenda. Dia saat itu sedang berkumpul dengan para tokoh bangsa Mongol, dan turut serta dalam tenda tersebut para pemuka agama Nasrani.

Tak disangka ada seorang Nasrani berkata buruk tentang Baginda Rasulullah.

“Siapa sih Muhammad?” tanyanya sinis dan merendahkan Baginda Rasulullah.

“Dia hanya pengembala kambing. Dia menyeru dan mengumpulkan orang-orang Arab yang kelaparan, dia beri mereka harta, dan dia tidak mau pada harta; karena itulah mereka terpikat olehnya,” lanjut si Nasrani. Dia terus merendahkan Baginda Rasulullah dan semakin menjadi-jadi.

سونجق mempunyai seekor anjing galak kesayangannya. Anjing tersebut diikat dengan rantai emas. Tiba-tiba anjing tersebut memberontak, dia terlepas dari rantainya, dan diapun melompat menerkam si Narani, dan si nasrani dibuatnya babak belur dan terluka.

Orang-orang yang hadir sontak bangun dan menangkap anjing tersebut, dan anjing tersebut diikat lagi dengan rantai.

“Ini karena ucapan burukmu terhadap Nabi Muhammad,” ujar salah satu hadirin.

“Tidak, bukan karena itu. Anjing ini menyerangku karena dia adalah anjing terhormat. Dia menyangka aku akan memukulnya saat aku mengangkat tanganku.”

Si nasrani kembali berkata buruk tentang Baginda Rasulullah dan semakin menjadi-jadi. Tak disangka anjing tersebut kembali memberontak dan memutus rantai pengekangnya, dan dia melompat menyerang si nasrani. Demi Allah aku melihatnya dengan mata kepalaku. Anjing tersebut menyerang dan memutus kerongkongan si nasrani hingga mati.

Setelah kejadian ini sekitar 40.000-an orang Mongol memeluk Islam. Kejadian inipun menjadi buah bibir dan tersebar di tengah masyarakat.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

معجم الشيوخ الكبير للذهبي (٢/ ٥٥)

(Mukhlisin/STAI Imam Syafi’i Cianjur)

tulisan ini sebelumnya dimua di Bangkit media

Related Posts