Membunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib Sebagai Mahar - Atorcator

Membunuh Sayyidina Ali bin Abi Thalib Sebagai Mahar

Ilustrasi: brilio

Islam politik, sejak dulu memang mempunyai agenda tak terjangkau; “Kejayaan Islam”, “Penegakan Hukum Allah”, “penegakan Syariat Islam”, “Islam Kaffah”, “Pemurnian Islam”. Sangat bombastis.

Imajinasi tentang kesempurnaan dalam pengamalan Islam itu sepanjang sejarahnya tidak pernah mati. Tapi ada dua ciri yang melekat; pertama; keras, “wangkot”, dan ekslusif. Ciri kedua; “bodoh”, “awam” dan tidak benar-benar memahami agama. Bahkan seringkali belajar tidak tuntas, dan munqathi; alias tidak memiliki kesinambungan sanad keilmuan.

Kasus “E-E”, “FS” dan kawan-kawannya yang videonya beredar tidak lancar baca Qur’an, atau tidak tartil, atau serampangan membaca ayat, atau tidak bisa tasrif dan tidak memahami arti kata dalam struktur morfologi Arab; adalah puncak gunung Es dari banyak kasus malapraktik beragama.

Dari dahulu, sejak nenek moyangnya memang begitu. Abdurahman bin Muljim itu, belajar kepada Imam Ali tidak tuntas. Mereka juga memahami Al-Qur’an semaunya sendiri; tanpa riwayat, tanpa sanad dan ujung-ujungnya hanya menerima al-Quran sebagai sumber hukum Islam. Dengan pongahnya menafikan hadis, dengan alasan baru dibukukan akhir abad pertama.

Sejak awal gerakannya, fenomena “hijrah” itu sebenarnya kamuflase rekrutmen gerakan Islam politik, yang selama ini berjalan dikampus-kampus secara underground. Mensyahadatkan kembali para pemuda yang sebenarnya sudah Islam.

Ibn Khaldun dalam Muqadimahnya menyebutkan, bangsa-bangsa Arab dahulu sukses membangun kerajaan hanya dengan embel-embel agama, tanpa itu mereka tidak akan berhasil. Sekarang lebih variatif, ada yang ingin merebut kekuasaan, ada yang sekedar ingin memupuk popularitas dan kekayaan.

Orang yang pertama kali menghadapi kelompok ini, kelompok Islam politik adalah imam Ali;

Pertama tahun 36 H; Imam Ali menghadapi Tholhah, Zubair dan Sayidah Aisyah yang menuntut Imam Ali menegakan qishos terhadap demonstran yang membunuh Ustam bin Affan. Menurut catatan Imam Jalaludin Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa, Korban jiwa dari kedua belah pihak; Ali verses Aisyah dalam perang Jamal yang terjadi di Bashrah 13.000 orang. Jumlah yang sangat besar.

Kedua, tahun 37 H. Pembangkangan Muawiyah bin Abi Sufyan terhadap kepemimpinan Ali yang berakhir dengan perang Sifin. Pasukan Ali tertipu oleh pasukan Muawiyah dari Syam; (Suriah ; sekarang), ketika Muawiyah hampir kalah, mereka mengangkat al-Quran; meminta mengentikan perang dan kembali merujuk kepada al-Quran. Ali dipecundangi dan kehilangan kekuasaan sebagai Khalifah Rasul.

Ketiga; Imam Ali memerangi khawarij pada tahun 38 H di Nahrawan. Tidak lama setelah itu Imam Ali terbunuh dalam operasi senyap; Ibn Muljam menargetkan Imam Ali, al-Barak bin Abdullah al-Tamimi menargetkan Muawiyah dan Amr bin Bukair menargetkan Amr bin Ash. (Jadi tidak betul pembunuhan imam Ali adalah konspirasi Muawiyah seperti yang dituduhkan Syiah).

Kelompok khawarij berpikir dengan operasi senyap ini, umat Islam akan tenang, karena 3 orang itu – menurut mereka- biang keladi kekacauan umat Islam saat itu.

Serampangan membaca, menerjemahkan, menafsirkan Al-Qur’an ada dalam satu wadah dengan menghalalkan darah umat Islam. Ketika mereka masih lemah kita hanya melihat dalam bentuk kurangnya adab dan tatakrama dalam memperlakukan al-Quran, ketika mereka kuat bukan saja melarang aktivitas agama lain, seperti penerjemah Injil kedalam bahasa daerah tapi juga menghalalkan darah siapa saja diluar kelompoknya.

Bagi mereka Islam ya kelompoknya saja. Bagi mereka kebenaran hanya dikelompoknya, bagi mereka yang berhak masuk surga hanya kelompoknya. Mungkin apa yang saya tuliskan terlalu jauh tapi itulah yang telah dan akan terus terjadi.

Jika kelompok orang seperti Ee dan FS makin banyak, bukan tak mungkin orang yang menganggap membunuh sesama muslim itu bagian dari ibadah itu semakin banyak. Coba simak catatan Imam Jalaludin al-Suyuthi, Ibn Muljam itu membunuh gurunya; Imam Ali sebagai mahar, maskawin pernikahannya dengan Qatham, wanita khawarij;

وفى المستدرك عن السدي: كان عبد الرحمن بن ملجم المرادي عشق امرأة من الخوارج يقال لها : قطام فنكحها واصدقها ثلاثة الاف درهم وقتل على

“Dalam Mustadrak dari al-Sadi: Abdurahman bin Muljam mencintai seorang perempuan dari kelompok khawarij, namanya Qatham, ia menikahinya dan memberinya mahar 3000 dirham dan membunuh Ali.

Farazdaq melantunkan Syair,

فلم أر مهرا ساقه ذو سماحة ** كمهر قطام من فصيح واعجم

Belum pernah ada maskawin yang diberikan orang dermawan
Seperti mahar yang diterima Qatham , baik dari orang fasih maupun tidak’.

ثلاث الاف وعبد وقينة ** وضرب على بالحسام المصمم

3000 dirham, hamba sahaya dan membunuh Imam Ali dengan pedang yang sangat tajam”

فلا مهر أغلى من علي ون غلا ** ولا فتك الا دون فتك ابن ملجم

“Tidak ada mahar yang lebih berharga dari imam Ali, semahal apapun. Dan tidak ada kejahatan yang lebih jahat dari kejahatan ibn Muljam”.

Atas nama Islam, membunuh orang termulia, pemuda pertama yang masuk Islam, dijadikan mahar, dianggap ibadah. Mirisnya kejahatan seperti ini dilakukan seorang hafidzul Quran.

Ketika melihat EE dan FS belepotan membaca Al-Qur’an yang terbayang darah umat Islam bercucuran, karena kelompok yang sama sejak dulu, pekerjaan mereka selain mempermainkan al-Quran juga meremehkan darah umat Islam.

Ahmad Tsauri

komentar

Related Posts