Menghapal Versus Menalar (1)

Ada adagium yang selalu dipegang begitu erat oleh lembaga-lembaga pendidikan Islam konvensional. Yaitu :

الحافظ حجة على من لم يحفظ

al-hâfizh hujjah alâ man lam yahfazh,

Orang yang hapal menjadi argumen terhadap orang yang tidak hapal

Dengan kata lain orang yang hapal teks-teks akan selalu dapat memenangkan perdebatan atau diskusi ketika berhadapan dengan orang-orang yang hanya mengandalkan logika, nalar atau akal semata. Ini karena tekstualisme dalam tradisi itu menjadi ukuran otoritatif atas suatu masalah. Maka pendidikan kemudian diarahkan agar anak-anak didik mampu menghapal sebanyak-banyaknya teks.

Dalam sistem pendidikan Islam di banyak pesantren, untuk tidak mengatakan semua pesantren, metode hapalan sangatlah ditekankan. Pada umumnya para santri diwajibkan menghapal ilmu-ilmu agama yang sudah diringkas dalam bentuk syair-syair yang mudah dinyanyikan dengan lagu-lagu yang beraneka ragam.

Ilmu-ilmu yang sudah disyairkan tersebut, misalnya “Matn Zubad” untuk fiqh mazhab Syâfiî, “Tuhfah al-Athfal” (ilmu Tajwid), “Al-Kharidah ak-Bahiyyah”(ilmu Tauhid), “Nazham Amrithî”, dan “Alfiyah Ibnu Mâlik” (nahwu, gramatika bahasa Arab), “Al-Sullam al-Munawaraq” (mantiq, logika), “Al-Jauhar al-Maknûn” (sastra Arab), “Nazham al-Baiquniyah” (ilmu hadits), “Nazham Waraqat” (ushûl fiqh), “Al-Faraid al-Bahiyyah” (kaedah-kaedah fiqh) dan lain-lain. Di Mesir dan negara-negara Timur Tengah sebagian besar mahasiswa dan pelajar, bahkan menghapal kitab atau diktat/muqarrar yang masih dalam bentuk prosa atau narasi yang berpuluh halaman itu.

17,06.2020
HM

Related Posts