Menghapal Versus Menalar (4)

Ilustrasi: Merdeka

Pandangan Ibnu Rusyd al-Hafid

Pertanyaan penting lain yang sering di ajukan orang ialah siapakah yang disebut Ulama?. Pada masa klasik Islam kecenderungan umum berpendapat bahwa orang âlim atau ulama adalah orang yang hapal pendapat-pendapat para ulama sebelumnya, dalam arti hapal redaksi pendapat mereka. Pandangan ini mendapat kritik tajam dari Ibnu Rusyd al-Hâfid (w. 1198 M), seorang sarjana muslim terkemuka dari Spanyol dengan keahlian ganda; filsuf, dokter dan ahli hukum (fâqih). Ia pernah melontarkan kritik terhadap para ulama pada masanya yang lebih rajin menghapal teks-teks keilmuan dan mengikuti pandangan-pandangan tekstual para ulama daripada melakukan penelitian dan kajian-kajian rasional dan filosofis.

Menurutnya, para ahli fiqh seyogyanya tidak selalu bertaklid kepada orang lain dan tidak hanya sibuk menghafal produk-produk fiqh mereka. Orang yang hapal produk-produk hukum para mujtahid, betapapun banyaknya, tidak bisa disebut faqîh. Seseorang baru bisa disebut faqîh (ahli fiqh), jika dia mampu menganalisis dan menggali/mengeksplorasi makna dari teks-teks hukum secara mendalam, melalui argumen-argumen yang dapat diterima akal pikiran dan mengembangkan dasar-dasarnya.

BERSAMBUNG
18.06.2020
HM

Related Posts