Pelajaran Hidup dari Kakek dan Nenek

Ilustrasi : Kakek dan Nenek Penulis

Hari ini, Selasa 16 Jun. 2020, aku mendapatkan sebuah pelajaran yang tentu bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Dari pelajaran ini, aku bisa mengenang kembali dan bisa aku pakai untuk bekal hidupku di kemudian hari.

Pelajaran ini sepertinya harus diabadikan dalam bentuk tulisan. Mengapa tulisan? Tentu saja, karena dengan tulisan sesuatu akan menjadi lebih abadi. Di samping manusia memiliki sifat pelupa sehingga setidaknya dengan menuliskan pelajaran hidup ini (pengalaman) dapat dijadikan sebagai bahan nostalgia kelak di kemudian hari.

Pelajaran ini aku peroleh ketika pagi hari nenekku mengajak membuat perkedel. Perkedel adalah makanan ringan yang bisa dimakan untuk sekadar cemilan atau bisa dipakai untuk lauk makan. Sesuai selera.

Aku bertanya pada Nenekku untuk apa buat perkedel. Nenek menjawab, “Mba Kai-mu (panggilan akrab kakaekku) pingin perkdel”
Adapun bahan dasar perkedel yang Nenekku pakai adalah kentang murni, tanpa bahan lain. Nenekku tidak menambahkan bahan dasar lain untuk perkedel kali ini. Konon katanya, beberapa oang biasanya menambahkan bahan dasar lain seperti, singkong atau ketela. Orang-orang yang menambahkan bahan dasar pada proses pembuatan perkdel tentu memiliki banyak motif. Tapi sayang aku tidak sedang membahas motif-motif itu.

Bumbu yang diapakai ternyata cukup sederhana, Nenekku hanya menggunakan bawang merah dan bawang putih. Tidak lebih dan tidak kurang. Hanya dua itu saja. Kalaupun nanti para pembaca memiliki tambahan bumbu lain silakan bisa sharing saja di kolom komentar.

Dalam proses pengolahannya, ternyata tidak rumit. Pertama, kentang yang sudah dikupas kulitnya dan dipotong menjadi bagian-bagian yang pipih, kemudian digoreng dengan api kecil agar kentang benar-benar matang sampai ke dalam dan tidak gosong. Kedua, bawang merah dan bawang putih yang sudah dikupas kulitnya dipotong pipih juga untuk digoreng. Ketiga, kentang dan bumbu perkedel yang sudah di goreng tadi kemuidan diulek hingga halus. Keempat, adonan perkedel yang sudah halus dan bercampur dengan bumbu kemudian dibentuk mejadi lingkaran pipih. Pada bagian kelima ini, aku tidak ikut membantu, biarkan tangan Nenekku saja ang membentuknya.

Sembari melihat Nenekku membentuk adonan perkedel, oleh Nenek aku disuruh memberi makan Ayam yang ada di belakang rumah. Aku manut (ikuti perintahnya) saja. Saat mau memberi makan Ayam, aku melihat Kakekku sedang membaca Al-Qur’an di depan kamarnya. Di situlah aku menemukan pelajaran hidup yang aku maksudkan.

Aku senyum-senyum sendiri membayangkan betapa mesranya Nenek dan Kakekku itu. Bayangkan, Kakekku yang sudah lanjut usia sedang mengaji dan Nenekku yang yang juga sudah lanjut usia sedang membuat perkedel untuk sang suami.

Di usia senja mereka, kakek dan Neneku masih begitu romantis dan harmonis. Sungguh Kakek dan Nenekku adalah representasi dari keluarga yang Sakinah Mawaddah Warahmah dan tentu saja selain penuh berkah juga penuh akan cinta.

Related Posts