Rasulullah Poligami Bukan Atas Dasar Nafsu

Sebagai umat Nabi Muhammad Saw kita wajib husnudzzon bahwa apa yang dilakukan Rasulullah adalah murni pentunjuk Allah, bukan keinginan nafsunya. Mendidih hati kita jika ada orang-orang yang memfitnah beliau dengan sebutan pencabul.

Orang-orang barat dan orientalis sering mencemooh Rasulullah dengan sebutan “laki-laki cabul, budak nafsu, dan tukang poligami”. Tujuannya untuk merusak keimanan orang Islam, menjauhkan orang non-muslim dari keimanan dan untuk menutupi kebenaran.

Perlu diketahui bahwa Nabi Muhammad Saw sewaktu berumur 25 tahun menikah dengan seorang janda yang pernah menikah dua kali dan umurnya 15 tahun lebih tua dari beliau. Yaitu Sayyidah Khadijah. Keduanya hidup bahagia selama kurang lebih 25 tahun.

Setelah wafatnya Sayyidah Khadijah RA, Rasulullah Saw menikah dengan seorang janda bernama Saudah binti Zam’ah RA. Beliau dinikahi Rasulullah saat berumur 55 tahun.

Sayyidah Saudah menjanda setelah suaminya, Sakran bin Amr al-Anshori meninggal dunia saat kembali dari Habsyah (utopia) yang kedua. Ibunda Saudah RA akhirnya menyendiri tiada yang mengurusi. Jika beliau kembali pada keluarganya, maka beliau akan dipaksa syirik atau beliau akan menanggung siksaan. Rasulullah menikahi Ibunda Saudah RA untuk menjaga dan mengurusinya.

Rasulullah poligami pertama kali setelah menikahi Sayyidah Aisyah binti Abu bakar. Pernikahan beliau dengan Sayyidah ‘Aisyah RA adalah pernikahan yang dilandasi wahyu, bukan nafsu.

Sebelum dinikahkan sahabat Abu Bakar yang tak lain adalah ayahanda Sayyidah ‘Aisyah, Rasulullah Saw sudah dinikahkan Allah Swt langsung di langit.

Salah satu fakta yang mengindikasikan bahwa beliau tidak menikah atas dasar nafsu, beliau baru poligami pada saat berumur di atas 50 tahun, umur rata-rata manusia sudah mulai menurun nafsunya, bukan saat masih muda. Yaitu setelah Sayyidah Khadijah wafat.

Bukti lagi bahwa Rasulullah Saw menikah bukan atas dasar nafsu adalah, seluruh istri beliau adalah janda kecuali Sayyidah ‘Aisyah. Padahal beliau sendiri yang berkata kepada Sahabat Jabir bin Abdullah: “Wahai Jabir! mengapa kamu tidak menikahi gadis? kamu bisa menggigitnya dan dia pun menggigitmu!”.

Jika memang beliau menikah karena untuk memuaskan nafsu dan bersenang-senang sebagaimana tuduhan orang-orang barat, tentu beliau akan menikahi gadis-gadis cantik pada saat beliau muda.

Satu lagi. Para Sahabat adalah orang yang sangat mencintai dan tulus membela Rasulullah. Sahabat siap menyerahkan segenap jiwa dan raganya untuk Rasulullah. Seandainya Rasulullah menghendaki menikahi wanita, niscaya tak seorangpun dari sahabat yang menikah. Mereka akan mempersilahkan Rasulullah memilih wanita sesuai kehendak.

Tapi nyatanya Rasulullah tidak poligami pada saat masih muda dan bahkan lebih memilih menikah dengan janda.

Inilah fakta-fakta tak terbantahkan yang harus diketahui kita semua. Semoga bisa memberikan wawasan kepada siapapun agar tidak berprasangka buruk kepada Baginda dan kiranya fakta ini bisa dijadikan senjata untuk membela beliau.

Tulisan ini dan tulisan selanjutnya disarikan dari kitab “Mukhtashor Tafsir Ayat al-Ahkam, (Kediri: Madrasah Hidayah al-Mubtadi-in, tth)”.

Related Posts