Sebuah Cerita di Desa: Lagu Surga dan Kitab Neraka - Atorcator

Sebuah Cerita di Desa: Lagu Surga dan Kitab Neraka

Ilustrasi: Gaya-tempo

Didesa saya sudah menjadi tradisi jika seseorang akan merantau untuk bekerja atau menempuh pendidikan, mereka akan sowan ke kyai agar didoakan dilancarkan segala urusannya sekaligus pamitan kepada kyai tersebut. Tapi jarang sekali orang yang sowan ingin merantau untuk urusan menuntut ilmu, hampir semuanya sowan untuk merantau bekerja, bahkan tak jarang anak yang masih di bawah umur sudah diajak merantau oleh orang tua atau pamannya untuk bekerja.

Suatu hari ada seseorang yang sowan ke salah satu kiyai yang masih satu desa dengan saya yang saya tidak bisa menyebutkan nama kyiai tersebut demi menjaga kode etik jurnalistik. Singkat cerita, orang tersebut minta didoakan agar anaknya dilancarkan kuliahnya. Tapi jawaban kyai tersebut membuat orang itu kaget, sebab kyai tersebut menjawab  “untuk apa sekolah tinggi-tinggi, jauh-jauh segala kalau ujung-ujungnya cuma ngojek”.

Saya mendengar cerita tersebut langsung mengelus dada, kaget sekaligus miris. Yang ada dipikiran saya adalah apa salahnya orang menuntut ilmu? bukankah menuntut ilmu itu wajib? Bukankah bagus kalau masih ada orang yang punya semangat belajar tinggi di tengah lingkungan yang sadar pendidikannya minim? Kalau masalah nanti jadi apa itu kan takdir yang bicara, yang penting kita sudah berdo’a dan berusaha. Dan yang membuat saya tambah miris lagi adalah yang berpendapat tersebut merupakan seorang kyai muda yang berpindidikan dan juga lulusan luar negeri. Kalau yang berpendapat seperti itu petani atau kuli bangunan saya mungkin masih bisa memaklumi, karena saya sendiri sudah sering mendengar penyataan semacam itu kalau sedang bincang-bincang di warung di desa saya.

Apa karena mungkin jurusan kuliah anak tersebut bukan jurusan agama, makanya kyai tersebut berpendapat demikian?. Seakan-akan kyai tersebut alergi sekali dengan jurusan “umum” yang ada di kampus-kampus. Seolah-olah kyai tersebut mendoktrin orang yang menekuni keilmuan yang tidak berbau “agama” tidak punya harapan di akhirat kelak selain neraka, dan yang punya tiket ke surga hanya para kyai dan ustad yang mengajarkan ilmu agama. Sepertinya saya mulai paham kenapa di desa saya sedikit sekali yang menuntaskan pendidikannya, boro-boro mau lanjut ke jenjang perkuliahan, belum lulus SMP saja kadang sudah berhenti.

Kalau melihat kejadian di atas, Sepertinya kita sendirilah yang menutup diri dari kemajuan peradaban keilmuan dan kepesatan perkembangan teknologi saat ini. Kita terlalu nyaman di zona nyaman, terlalu dimabukkan dengan janji-janji surga yang hanya dengan menunaikan shalat dan membayar zakat, seolah lupa kalau masih ada kewajiban lain yang harus kita lakukan. Kita terlalu terlena dengan mengingat Allah hanya dengan berdzikir, padahal Allah sendiri dalam firmannya sudah memberi kode kepada kita bahwa mengingat Allah juga bisa dengan yatafakkaru dan yandzuru terhadap apa yang ada di langit dan di bumi. Kita seolah-olah lupa untuk menggapai gelar “Ulul Albab” yang Allah tawarkan kepada kita.

Jadi jangan heran kalau yang jadi direktur, pengusaha, dan professor bukan dari golongan kita. Padahal dalam era yang sudah serba digital ini, harusnya orang islam sudah mulai mengisi semua lini dalam kehidupan ini, cara satu-satunya ya dengan menguasi berbagai bidang keilmuan. Bukan malah sibuk memilah-milah mana ilmu surga dan mana ilmu neraka. Kita sudah sangat jauh tertinggal, yang seharusnya memikirkan bagaimana caranya kebutuhan kita malah sibuk dengan urusan jenggot dan celana cingkrang. Yang seharusnya memikirkan system pembayaran dan keuangan digital berbasis syariah, kita malahh sibuk mengkafirkan orang yang sudah islam.

Saya jadi teringat pesan guru saya, “banyak perbuatan yang prospeknya akhirat tapi malah bernilai duniawi. Dan ada juga perbuatan yang prospeknya duniawi tapi malah bernilai akhirat” intinya bagaimana niat kita melakukan perbuatan tersebut. Tak heran jika hampir di setiap kitab hadis seperti Sohih Bukhari, Sohih Muslim, dan Arba’in Nawawi hadis pertama yang dibahas pasti tentang niat. Karena niat ini perannya memang sangat krusial sekali. Jika salah niat, sia-sialah perbuatan kita. Tapi, karena niat ini letaknya dalam hati, jadi urusannya ya hanya sama yang mengetahui hati. Tugas kita hanya mendukung jika orang tersebut berbuat benar dan mengingatkan jika salah.

Saya tidak bermaksud mendiskreditkan gelar seorang kyai. walau bagaimanapun saya tetap hormat kepada kyai, mereka adalah guru kita. Masalah beda pendapat dengan siapapun itu sudah biasa, tapi akhlaq dan rasa ta’dim kita harus tetap dijaga. Wallahu A’lam

komentar

Related Posts