Sudah Tahu Hadisnya Lemah Tapi Sengaja Diamalkan Sebagai Sunah

Ini adalah sesuatu yang sulit dipahami oleh penganut mazhab baru yang sebut saja sebagai “manhaj hadis sahih”. Para ulama fikih terdahulu tidak punya syarat untuk beramal harus memakai hadis sahih, bahkan para ulama hadis terkemuka juga tak punya syarat itu. Kalau pun ada yang begitu, itu minoritas yang tak perlu diperhitungkan.

Sebab itulah, semua Imam hadis tanpa terkecuali pasti pernah menulis dan meriwayatkan hadis dloif. Tentu saja tujuan menulisnya bukan untuk dibuang begitu saja atau diremehkan (sebagaimana dilakukan pengikut mazhab baru bernama “manhaj hadis sahih”), tapi untuk diamalkan. Jadi tak usah heran bila Imam Bukhari menulis Adab al-Mufrad yang memuat hadis lemah dan demikian juga Imam Mazhab yang sangat terkenal sebagai Imam ahli hadis, yakni Imam Ahmad, justru banyak meriwayatkan hadis dloif di musnadnya.

Sebagai contoh kasus saja, Imam al-Hafidz An-Nawawi, pakar hadis sekaligus Imam mujtahid dalam mazhab Syafi’i dalam al-Majmu’ mengutip Imam al-Mawardi bahwa di antara sunnah bagi orang yang meninggalkan shalat Jumat tanpa udzur adalah bersedekah sebanyak satu dinar bagi yang mampu atau setengah dinar bagi yang tidak mampu.

Dasar kesunnahan ini adalah hadis riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ibnu Majah yang artinya:

“Siapa yang meninggalkan shalat Jumat, maka bersedekahlah satu dinar atau setengah dinar”.

Apakah Imam Nawawi atau Imam al-Mawardi tidak tahu bahwa hadisnya dloif? Sangat tahu, bahkan Imam Nawawi memperinci sisi kelemahannya dan bahkan menegaskan bahwa pernyataan Imam al-Hakim yang menyatakan hadis tersebut sebagai hadis sahih adalah pernyataan yang salah. Hadis itu positif sebagai hadis lemah, kontradiktif isinya dan terputus sanadnya. Tapi ya itu, ia tetap dipakai untuk diamalkan sebagai sunnah (anjuran yang bila dilakukan maka dapat pahala tetapi bila ditinggalkan tak masalah). Ia menghasilkan status sunnah sebab memang dlaif. Bila tak dlaif, malah bisa jadi sanksi wajib bagi yang meninggalkan jumat tanpa udzur. Sampai sini paham bukan?

Kesimpulannya, jangan mencoba mengkritik amaliyah yang disarankan ulama ahli fikih dengan alasan “hadisnya dlaif”, apalagi sambil menulis artikel panjang lebar sisi dlaifnya di sebelah mana, profil perawinya bagaimana dan seterusnya yang tujuannya agar tampil seperti ahli hadis di mata orang awam. Itu menggelikan, sangat menggelikan, sebab para ulama fikih yang menyarankan itu sebenarnya tahu betul kelemahan hadisnya di sebelah mana tapi memang sengaja menyarankan itu karena menurut mereka masih bisa dipakai.

Semoga bermanfaat.

_______________________

Berikut ini pernyataan Imam Nawawi di al-Majmu’ bagi yang hendak memgecek:

قَالَ صَاحِبُ الْحَاوِي يُسْتَحَبُّ لِمَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ بِلَا عُذْرٍ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ لِحَدِيثِ سَمُرَةَ إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ” مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ فَلْيَتَصَدَّقْ بِدِينَارٍ أَوْ نِصْفِ دِينَارٍ ” قَالَ وَلَا يَلْزَمُهُ ذَلِكَ لِأَنَّ الْحَدِيثَ ضَعِيفٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي مُسْنَدِهِ وَأَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيِّ وَابْنُ مَاجَهْ وَلَفْظُهُ ” مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَلْيَتَصَدَّقْ بدينار
فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَنِصْفُ دِينَارٍ ” وَهُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ مُضْطَرِبٌ مُنْقَطِعٌ وَرُوِيَ ” فَلْيَتَصَدَّقْ بِدِرْهَمٍ أَوْ نِصْفِ دِرْهَمٍ أَوْ صَاعِ حِنْطَةٍ أَوْ نِصْفِ صَاعٍ ” وَفِي رِوَايَةٍ ” مُدٌّ أَوْ نِصْفُ مُدٍّ ” وَاتَّفَقُوا عَلَى ضَعْفِهِ وَأَمَّا قَوْلُ الْحَاكِمِ إنَّهُ حَدِيثٌ صَحِيحٌ فَمَرْدُودٌ فَإِنَّهُ مُتَسَاهِلٌ

Related Posts