Wisuda Kakak yang Menyisakan Rasa Pilu dan Banjir Air Mata - Atorcator

Wisuda Kakak yang Menyisakan Rasa Pilu dan Banjir Air Mata

Foto saya dan kakak saya

Rasa-rasanya wisuda waktu itu sekitar tahun 2016 momen paling mengharukan bagi Kaka saya dan keluarga. Sebulan sebelumnya betapa melihat ibu saya sangat gembira menyambut wisuda anaknya yang sudah ada di depan mata. Ibu saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut hari wisuda kakak saya. Bagiamana tidak, penyambutan wisuda anak di daerah saya menjadi sesuatu banget dan wah bagi sebagian orang tak terkecuali ibu saya. Sama halnya seperti mensyukuri ilmu yang didapat.

Ibu saya siap mengantar dan mendampingi kakak ketika menjalani proses wisuda. Ia satu-satunya anak yang mampu diwisuda tanpa biaya sedikitpun dari orang tua. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi ibu dan bapak saya. Sebab selain ia tak mampu membiayai ia juga seorang petani yang tak mungkin hasil panennya mampu membiayai sekolah sekelas perguruan tinggi.

Tapi apa boleh buat, tuhan berkehendak lain, jelang 3 hari wisuda kakak saya ini, terlebih dahulu ibu dipanggil keharibaan ilahi dengan mendadak. Spontan kami sekeluarga shock sedih, tangisan begitu deras mengalirkan air mata dengan kejadian ini. Bukan saja karena kakak saya mau diwisuda tapi lebih penting dari itu adalah kami para anaknya yang belum siap ditinggal karena belum terlatih hidup dewasa. Sayang pada keluarga sepertinya telah menjadi hal yang sangat melekat dengan ibu saya. Beliau memang betul-betul memperlihatkan perhatian yang cukup besar terhadap keluarganya.

Ibu saya adalah orang yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi keluarga baik sisi psikologis maupun fisik, memenuhi kebutuhan afeksi (atau menciptakan kasih sayang), dan memberikan sarana sosialisasi untuk mengantarkan anak-anaknya masuk dalam kehidupan yang lebih luas dan lebih nyata. Di antaranya merestui anak-anaknya untuk lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dengan peristiwa ini tentu kakak saya yang sangat terpukul dengan kejadian ini. Sebab dia nantinya yang akan lebih banyak merawat ibu pasca wisuda, ialah nantinya yang akan lebih banyak berbakti usai diwisuda dan keluar dari pondok. Dan kakak sudah menghadiahkan seorang cucu yang memang didambakan bertahun-tahun. Ibu saya sudah mulai punya cucu yang dinanti-nanti dan digendong tiap hari.

Kakak saya diwisuda seperti ada yang kurang tanpa kehadiran seorang ibu yang sudah membawa jasa besar bagi kelangsungan pendidikannya. Bukankah keberadaan ibu memang di dalam keluarga yang tentram terdapat sebuah kehidupan yang menyenangkan? Jelas dan itu tak perlu dipertanyakan berkali kali. Dan itu sangat dirasakan oleh kakak saya ketika wisuda.

Tangisan itu kembali’ membanjiri wajah kakak saya ketik ia sudah naik ke atas panggung untuk menerima simbolis wisuda tanpa dilihat seorang ibu yang memiliki jasa besar dalam menjalani proses pendidikannya hingga wisuda.

Alfatihah untuk ibu saya…dan ilmu yang didapat kakak saya manfaat dan barakah. Amin

komentar

Related Posts