Belajar di Sekolah Formal Penting? - Atorcator

Belajar di Sekolah Formal Penting?

Tugas kita sebagai pelajar sebenarnya sederhana membuka selebar-lebarnya ruang dialog kepada siapa saja. Termasuk para sesepuh dan seluruh elemen masyarakat baik tua maupun muda. Jangan pilih-pilih. Kita bisa belajar dari siapa saja. Dan proses belajar itu sepanjang hayat.

Bukankah banyak sekali orang kuliah tapi tak belajar. Ia hanya sekadar ikut arus saja dan menghabiskan biaya dan membebani orang tua. Tapi sudah petenteng-petenteng kayak lebih tau dari siapa saja. Berapa banyak orang yang gagal sekolah sampai menjual sawah dan pepohonan orang tuanya demi pendidikan. Memang harus berkorban. Tapi tidak juga dengan membuang-buang tanpa ada sedikitpun keberhasilan.

Belajar itu tidak harus formal ke sekolah atau kuliah. Klo ada orang yang membatasi belajar hanya sekolah formal saja, maka ia gagal menangkap esensi belajar yang sebenarnya.

Nyatanya banyak tipikal orang sukses sekolah formalnya hanya setingkat madrasah Aliyah atau bahkan Madrasah Tsanawiyah. Tapi sudah menghasilkan banyak karya dan dedikasi nyata baik ilmu maupun karya. Persoalannya hanya seberapa besar kita haus untuk mereguk ilmu.

Banyak sekali disiplin ilmu yang tak dibukukan dan tercatat. Dalam otak manusia terdapat informasi jutaan jilid buku. Para pakar mengatakan bahwa di dalam otak manusia terdapat space untuk menyimpan sepuluh billiun satuan informasi sedangkan komputer yang canggih hanya bisa sekitaran 4 juta. Ini klo tidak digali dengan selalu membuka dialog terus dengan apa apalagi, seandainya orang yang punya informasi tidak tau bahkan menutupi karena tidak punya medan.

Misal kita bisa belajar dengan sesepuh desa, kita ngobrol dengan masyarakat desa beserta tokoh-tokohnya. Cara-cara seperti ini kita bisa lakukan untuk menambah wawasan dan pengalaman serta relasi sosial kemasyarakatan. Tujuannya sederhana biar kita tidak jumawa atas apa yang kita punya.

Cuma yang perlu digarisbawahi adalah ketika kita ngobrol dengan masyarakat kita harus mampu mengimbangi dan beradaptasi. Bukan justru mereka yang disuruh mengimbangi kita. Syukur-syukur bisa saling mengimbangi. Ini bagus. Tentu mengimbangi dalam topik pembicaraan dan tutur kata.

Saya tidak mau mengatakan sekolah formal itu tidak penting. Tapi klo anda mengandalkan sekolah formal saja. Anda sudah ada fase kegagalan baru yang belum tersadarkan. Bayangkan dosen saya pernah mengatakan ilmu yang didapat mahasiswa dari kuliah itu hanya 20% sedangkan 80% di luar kuliah.

Ini bukti bahwa kita harus benar-benar tanggap dalam melakukan lompatan-lompatan cepat untuk mengejar mimpi dan ketertinggalan. Diakui atau tidak, sekolah formal tak mampu memfasilitasi segala kebutuhan yang terus mengitari kita.

komentar

Related Posts