Kata Pak Jokowi, Perasaan ini Tolong Sama, Termasuk Urusan Diseruduk Tanduk Sapi

Baru kemarin saya menjenguk sepupu saya yang kecelakaan atau kenak musibah gara-gara diseruduk tanduk sapi di pasar tradisional Lenteng Sumenep. Ini bukan kecelakaan biasa, bayangkan ini diseruduk tanduk sapi ketika sapi itu diturunin dari atas mobil colt L300 oleh seorang pedagang secara tiba-tiba tanpa melihat orang di bawah. Jangan dianggap kecelakaan biasa.

Jangan biasa-biasa saja, jangan biasa-biasa saja! Jangan linier! Jangan menganggap ini normal! bahaya sekali kita! Saya melihat masih banyak kita (tentu para menterinya bukan rakyatnya) yang menganggap ini normal. Lha, kalo saya lihat, masih ada bapak-ibu, saudara-saudara, yang masih melihat ini sebagai sebuah… masih normal, berbahaya sekali!”, Seperti itu kira-kira klo boleh saya kutip kemarahan pak Jokowi kemarin kepada para menterinya. Hehe. Boleh dong saya kutip juga untuk menunjukkan keseriusan kecelakaan sepupu saya ini.

Sebagian orang sudah menyangka isi perut sepupu saya sudah keluar semua melihat kerasnya hantaman atau serudukan ujung tanduk sapi itu. Tapi tidak. Justru ia hanya tidak bisa bernafas beberapa menit saja dan hanya berbekas hitam dan luka dalam. Tentu kejadian ini mengundang berbagai reaksi orang sepasar. Sama halnya dengan kamarahan pak Jokowi yang juga mengundang berbagai reaksi dari pengamat politik. Bagaimana tidak, serudukan itu pas ke tulang rusuknya.

Ini ibarat hantaman pak Jokowi memarahi para menterinya beberapa hari yang lalu pas ke jantung hati. Dan menariknya kejadian ini juga pas ketika video kemarahan pak Jokowi itu diupload. Cuma nggak ada hubungannya dengan kemarahan pak Jokowi kepada para menterinya dengan serudukan sapi 🐄.

Selain kecerobohan orang itu menurunkan sapi dari mobil seperti baru belajar kemarin sore jadi pedagang sapi, jadi pedagang kok kaku banget, tentu juga sebuah kekhilafan dan ketidaksengajaan yang sedikit kita bisa maklumi. Beda dengan pak Jokowi yang memang jelas-jelas mengurus negeri ini dua periode berturut-turut, memaparkan berbagai data yang tidak signifikan dilakukan oleh para menterinya. Ya wajar marah dong.

Lain halnya dengan peristiwa yang terjadi dengan sepupu saya. Kemarahan itu justru datang dari teman-teman pedagang lain yang melihat kejadian itu. Wajar marah juga dong. Manusiawi. Ini sebuah pengamalan yang mengandung hikmah tersirat diambil dari ujar-ujaran pak Jokowi kepada para menterinya bahwa kita harus memiliki perasaan yang sama “perasaan ini tolong sama” ujar Jokowi dalam sebuah rapat kabinet 18 Juni lalu.

Wong sekelas pejabat aja bisa marah karena ketidakbecusan pembantunya ngurus negara apalagi cuma urusan yang jelas-jelas menyakiti secara fisik. Marah saja sewajarnya. Level wali kota dan gubernur juga pernah marah. Rakyat kecil juga bisa marah termasuk urusan diseruduk sapi.

Oke sekian dulu….

Related Posts