Cerita Hikmah: Kecerdikan Kancil Ketika Ditanya Harimau Sang Raja Rimba - Atorcator

Cerita Hikmah: Kecerdikan Kancil Ketika Ditanya Harimau Sang Raja Rimba

Ilustrasi: akbar yoga

Di tengah hutan. Di dalam goa. Hiduplah harimau sang raja rimba. Dengan kekuasaannya, ia tancapkan wilayahnya. Ia bagi-bagi, sesuai kehendaknya. Yang melawan akan dia libas. Yang menyanjung begitu tinggi malah ia curigai. Dan yang mengekor bakal menjadi budak mainannya. Hanya hewan tercerdiklah yang selamat.

Suatu ketika. Waktu sang raja hutan mengadakan pertemuan dengan para bawahannya. Tiba-tiba suasana hatinya gelap. Gegara ada beberapa hewan yang mengernyitkan hidung menahan bau tak sedap goanya. Wajar, sebab ia pun menyantap mangsanya di situ.

“Woi, kerbau! Kesinih!”

“Iya, Paduka. Da pa ya?”

“Istanaku ini, bau, ndak?”

Kerbau yang terkenal jujur menjawab apa adanya: “Maaf beribu maaf, Paduka. Baunya nggilani!”

“Kurang ajiarr! Hauummmmmm!!” langsung ia menerkam dan memakannya. Setelah habis. Sambil nglamuti tulang belulang kerbau. Dengan sadis, sang macan memanggil bawahan lainnya.

“Aha! Kamu sekarang, Sapi,”

“Add daaa app paah, Pa pa dukk kaaa,” dengan pucat pasi sempoyongan maju menghadap rajanya.

“Menurutmu?”

“Apa, ya?”

“Sontoloyo! Baunya!”

“Emmmm …” mikir lama dia, “Emmmm …”

“Hoi! Am em .. am em … Jawab!”

Sambil mendongakkan kepala layaknya menghirup udara segar, walau kelihatan canggung. Si sapi menjawab keras: “Harum mewangi, Paduka. Bak berasa di surga. Apalagi dengan suasana yang syahdu ini. Betulkan?! Ka … wan … Ka … wan …”. Tapi palingan wajahnya hanya dibalas hening.

“Bohong kamu! Akutu, paling benci dengan pembohong dan penjilat!” Gggrrrrrr! Hhhhaaaauuuummmm! Mak plok. Dalam sekejap sapi ginuk-ginuk itu berdiam di perut harimau.

“Haikkk …” sendawa si macan. Lalu, memandang sekeliling. Semuanya menunduk dan diam membisu, bahkan banyak terdengar isak tertahan di sana sini. Namun, sejurus kemudian, matanya tertumbuk pada hewan kecil mungil yang kelihatan tenang-tenang saja. Blass tidak terpengaruh situasi. “Kancuilllll! Kesini kau!”

Dengan gaya datar, kancil datang menghampiri, “Iya, Paduka. Hambamu memenuhi panggilanmu”.

“Sekarang jawab! Bau goaku ini. Wangi apa busuk?”

“Maaf, paduka, saya pilek!”

Dan selamatlah si kancil. Sebab mengaku tidak tahu baunya. Tapi tetap waspada. Wkwk.
Muga tetep sehat semuanya, njih … Salam; semoga keselamatan senantiasa menaungi anda dan saya. Sekaligus semua keluarga kita. Amin.

komentar

Related Posts