Iblis, Adam dan Kiai Barseso - Atorcator

Iblis, Adam dan Kiai Barseso

Ilustrasi: laduni

Konon kehidupan di alam ini mengikuti hukum siklus. Termasuk dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan iblis. Kita tentu tahu bahwa sebelum terjebak dalam kesombongan Iblis adalah hamba Allah yang sangat Sholeh dan ahli ibadah. Bahkan dalam beberapa riwayat keshalehan si Iblis mengalahkan para malaikat. Tapi kenapa justru di ujungnya si Iblis justru terjebak dalam keshalehannya dan menjadi takabur terhadap “perintah” Allah agar “bersujud” pada Adam (mewakili manusia) yang atas kehendak Allah diamanahi sebagai Khalifah di dunia.

Sebagai hamba yang sangat shaleh tentu Iblis juga “dikabari” oleh Allah tentang tingkah polah manusia yang merusak dunia dan menumpahkan darah. Paling tidak ini terekam dalam pertanyaan malaikat kepada Allah tentang alasan “kenapa harus manusia ?”, sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an.

Setelah menolak perintah sujud, iblis pun menjadi pembangkang dan begitu benci kepada Adam dan anak cucunya (manusia). Iblis berjanji akan menggoda manusia agar tersesat sampai kiamat datang. Adam pun konon tergoda karena ingin abadi menghamba kepada Allah lewat jalur pintas dengan makan buah khuldi atas bujukan Iblis.

Bahkan generasi pertama keturunan nabi Adam juga tergoda sampai menumpahkan darah saudara sendiri dalam tragedi Qobil dan Habil. Menariknya tragedi kemanusiaan ini selalu terkait dengan kesalehan yang “tertukar” dengan kesombongan. Qobil yang merasa berhak menikahi saudara kandungnya dari pada Habil menolak perintah Allah yang dititahkan melalui nabi Adam.

Cerita iblis yang menggoda dengan kedok keshalehan ini terulang berkali-kali dan selalu berujung tragedi atau fitnah agama. Termasuk apa yang menimpa kiai Barseso yang konon para santrinya semua menjadi ulama papan atas. Dengan mengandalkan pengalamannya sebagai hamba yang shaleh iblis dengan sangat cerdik menjebak kiai Barseso, akhirnya sang kiai terjebak juga dan menjadi pengikut sang iblis.

Iblis berusaha hadir dengan kesalehan formalis untuk mengelabui manusia sehingga manusia lupa akan hakekat penghambaan manusia yang menuntut kepatuhan atau ketaatan pada Allah dan rasulnya. Bukan pada nafsu beragama yang didasarkan pada kepentingan sendiri. Alasan Nabi Adam, Qobil dan Barseso semua demi kebaikan agar mereka bisa lebih patuh kepada Allah. Tetapi alih-alih kepatuhan, yang mereka lakukan adalah kecerobohan yang menghancurkan keimanan. Beruntung Adam seorang nabi yang kemudian bertaubat dan kembali mendapat Ridho-Nya. Tetapi bagaimna dengan Qobil dan Barseso apakah diampuni Allah?

Di zaman akhir yang ditandai dengan kedatangan nabi Muhammad upaya Iblis menggoda.manusia dengan cara berpura-pura menjadi hamba yang shaleh semakin gencar. Bahkan dua menantu yang jadi Khalifah ketiga dan keempat nabi pun harus wafat di tangan orang-orang yang berhasil digoda iblis dengan ketakaburan yang berselimut keshalehan. Saat ini gejala kesalehan formal ini sudah menjadi gaya hidup orang terutama di perkotaan.

Formalisme agama sudah menjadi gaya hidup untuk menyelimuti kesombongan iblis. Mereka begitu bangga menyalahkan dan merendahkan orang lain, bahkan yang seiman dengan mereka dimurtadkan dengan fatwa2 kesombongan berbungkus agama. Mereka begitu bangga dengan gebyar “kemenangan simbolik” tapi lupa dengan hakekat kehambaan yang lemah dan membutuhkan Ridho-Nya. Inilah yang mungkin dimaksudkan nabi dalam hadisnya tentang nasib ummat Islam yang banyak tapi seperti busa yang besar tapi tak bermakna dalam menguatkan keimanan mereka. Kita adalah turunan Adam yang masih diberi kesempatan bertaubat asal menanggalkan kesombongan. Jangan seperti Qobil dan Barseso yang mengakhiri hidupnya dalam kegagalan mendapatkan Ridho Allah. #SeriPaijo

Tawangsari, 12 Juli 2020

komentar

Related Posts