Juara (4) Lomba Esai Populer: New Normal Saat Pandemi Covid-19: Sudah Tepat atau Nekat? - Atorcator

Juara (4) Lomba Esai Populer: New Normal Saat Pandemi Covid-19: Sudah Tepat atau Nekat?

Ilustrasi: okezone

Pandemi virus korona yang mulai menyebar di Indonesia sejak Maret 2020 lalu telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap segala aspek kehidupan. Masyarakat tak lagi bebas beraktivitas seperti sediakala. Berbagai upaya telah dilakukan demi mencegah penularan virus korona. Mulai dari social distancing, pakai masker saat terpaksa harus keluar rumah, Work Form Home, hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kini masyarakat dihadapkan pada babak baru, yakni era new normal. New normal atau normal baru merupakan suatu tata kehidupan baru di tengah pandemi virus corona. Masyarakat mulai dapat beraktivitas normal dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang berlaku. Sektor perekonomian, pendidikan, pariwisata, dan sebagainya dapat dibuka kembali. Penerapan new normal sejatinya juga digunakan sebagai momentum untuk memperbaiki perekonomian masyarakat yang terpuruk pasca-pandemi. Harapannya perekonomian kembali pulih meskipun sejatinya pandemi Covid-19 belum berakhir.

Di sisi lain, penerapan new normal juga bisa menjadi bumerang bagi masyarakat. Banyaknya masyarakat yang tak menerapkan protokol kesehatan dalam aktivitasnya sehari-hari bisa menyebabkan Covid-19 ini terus menyebar tak terkendali. Oleh sebab itu, kedisiplinan masyarakat sangat vital dalam upaya penanggulangan wabah Covid-19 ini. Masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan yang ada. Seperti jaga jarak, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir.

Jika dikaji menggunakan aspek sosiologis, penerapan new normal menciptakan perubahan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat. Pranata merupakan sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat untuk berinteraksi menurut pola-pola atau sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat pada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat. (Koentjaraningrat, 1979).

Dalam kondisi seperti saat ini, masyarakat dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru. Dalam pranata agama misalnya, ibadah salat wajib yang sebelumnya dilakukan dengan merapatkan jarak antarjamaah, kini harus dijalankan dengan memberikan jarak minimal satu meter. Perubahan juga tampak dalam pranata pendidikan. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya dilakukan secara tatap muka di kelas, kini harus dilaksanakan secara daring. Dalam pranata ekonomi, kegiatan masyarakat di pasar juga dibatasi. Hal ini berdampak pada menurunnya perekonomian masyarakat.

Per tanggal 23 Juni 2020, total kasus positif korona di Indonesia bertambah 1.5051 kasus, sehingga akumulatif kasus positif Covid-19 menjadi 47.896 orang, kemudian ada tambahan pasien sembuh sebanyak 506 orang sehingga 19.241 orang dinyatakan sembuh. Sedangkan untuk kasus meninggal dunia akibat Covid-19 per tanggal 23 Juni 2020 sebanyak 35 kasus, sehingga menjadi 2.535 kasus.  (BNPB, 2020).

Sementara itu, di Provinsi Jawa Timur sendiri  pada Hari Selasa, 23 Juni 2020 terdapat tambahan pasien positif Covid-19 sebanyak 274 orang. Sehingga total secara keseluruhan pasien positif Covid-19 di Jawa Timur mencapai 10.092 orang. Tambahan pasien positif Corona Covid-19 terbanyak berasal dari Kota Surabaya sebanyak 107 orang. Tambahan pasien positif Covid-19 terbanyak berasal dari Kota Surabaya sebanyak 107 orang. (Liputan6.com , 2020).

Melihat semakin masifnya konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia, penerapan new normal belum tepat untuk dilakukan saat ini. Sebuah langkah yang tidak bijak jika pemerintah nekat memberlakukan new normal di tengah masifnya konfirmasi positif Covid-19.  Walaupun pemerintah telah mengeluarkan pedoman protokol kesehatan di masa pandemi, namun realitanya banyak masyarakat yang tak mengindahkan protokol kesehatan tersebut.

Lebih arif jika pemerintah mengadakan swab test besar-besaran secara gratis ataupun dengan biaya yang terjangjau. Hal ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Karena seperti yang kita ketauhi bersama swab test mampu mendeteksi  virus korona. Dengan semakin banyaknya sampel swab test, maka penyebaran Covid-19 bisa diketauhi dan dikendalikan dengan baik.

Selain itu, perlu adanya sinergi yang baik antara pemerintah dengan masyarakat. Adanya sinergitas yang baik antara pemerintah dengan masyarakat sipil/civil society dapat meminimalisasi timbulnya culture shock di tengah-tengah masyarakat. culture shock merupakan kagetnya individu/masyarakat atas kondisi baru yang berbeda dengan kondisi sebelumnya.

Maka dari itu, pemerintah perlu melakukan sosialisasi yang menyeluruh kepada masyarakat tentang kenormalan baru/new normal. Pemerintah juga dapat memberikan subsidi kepada masyarakat dalam berbagai bentuk sebagai stimulus agar nantinya masyarakat akan memberikan respon positif kepada pemerintah. Dengan begitu kebijakan pemerintah akan berjalan dengan baik.

Pada intinya penerapan new normal sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam menerima budaya/kebiasaan baru. Serta yang tidak kalah penting adalah adanya sinergitas pemerintah dengan masyarakat. Dengan adanya sinergi yang baik, penerapan new normal bisa diterima oleh masyarakat.

Referensi

BNPB. (2020, Juni 23). BNPB. Update Konfirmasi COVID-19, Pasien Sembuh Meningkat Jadi 19.241, Positif Bertambah 1.051, Meninggal Naik 35 Orang.Diambil kembali dariBNPB: https://bnpb.go.id/berita/update-konfirmasi-covid19-pasien-sembuh-meningkat-jadi-19-241-positif-bertambah-1-051-meninggal-naik-35-orang

Koentjaraningrat. (1979). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Penerbit Aksara Baru .

Liputan6.com . (2020, Juni 23). Surabaya Catatkan Tambahan Kasus Baru Corona COVID-19 Terbanyak di Jatim pada 23 Juni 2020. Diambil kembali dari Liputan6.com: https://surabaya.liputan6.com/read/4287116/surabaya-catatkan-tambahan-kasus-baru-corona-covid-19-terbanyak-di-jatim-pada-23-juni-2020

Juara 4. Muhammad Dimas Sulthan Arief (Mahasiswa jurusan Sosiologi, Universitas Brawijaya 2019)

komentar

Related Posts