KajianTafsir: Jangan Pernah Bosan Mendoakan Orang Tua - Atorcator

KajianTafsir: Jangan Pernah Bosan Mendoakan Orang Tua

Ilustrasi: Quranic parnting

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al Isra : 24)

Syaikh al-‘Allamah Muhammad Amin bin Abdullah al-Uramiy al-‘Alawiy al-Harariy asy-Syafi’i dalam tafsirnya mengatakan: “Ayat di atas seakan Allah ﷻ mengatakan padamu, “Jangan kau membelenggu kasih sayangmu yang tidak abadi pada kedua orang tuamu” tetapi katakan:

رَّبِّ ارْحَمْهُمَا

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya”.

Artinya, berdoalah kamu pada Allah ﷻ. Semoga Allah berbelas kasihan dengan rahmat-Nya yang abadi pada mereka berdua sekali pun 5 kali sehari dalam sehari semalam. Janganlah kau membelenggu kasih sayangmu yang fana pada mereka berdua sekali pun keduanya kafir karena sebagian dari rahmat adalah menunjukan mereka berdua pada Islam.

Ibnu ‘Abbas ra berkata: “Nabiyullah Ibrahim as senantiasa mendoakan ayahnya hingga wafat namun setelah nyata bahwa dia (bapaknya) adalah musuh Islam, maka Nabi Ibrahim as berhenti mendoakannya dan tidak pernah lagi memintakan ampunan untuk ayahnya setelah kematiannya” sebagaimana sampaikan Abu Laits dalam kitab tafsirnya.

Terdapat keterangan dalam hadist:

إذا ترك عبد الدعاء للوالدين ينقطع عنه الرزق في الدنيا

“Bila seorang hamba berhenti meninggalkan doa pada kedua orang tuanya, maka rezeki di dunia akan terputus darinya”.

Ibnu ‘Unainah pernah ditanya seseorang tentang sedekah untuk orang yang sudah mati. Beliau menjawab: “Semua apa yang disedekahkan untuk orang yang sudah meninggal pasti akan sampai padanya. Tidak ada sesuatu yang lebih manfaat dari pada Istghfar (memohon ampunan untuk orang yang sudah meninggal dunia) seandainya ada sesuatu yang lebih utama dari pada Istghfar, tentu aku diperintah melakukan dengannya untuk kedua orang tua. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إن الله ليرفع درجة العبد في الجنة، فيقول: يا رب أنى لي هذا، فيقول: باستغفار ولدك

“Sesungguhnya Allah ﷻ akan mengangkat derajat seorang hamba di surga, lalu sang hamba bertanya: “Wahai Tuhanku! Dengan apa aku memiliki derajat ini?”. Allah ﷻ menjawab dengan Istghfar (memohon ampunan) untuk kedua orang tuamu.”

Dalam sebuah hadits juga disebutkan:

من زار قبر أبويه أو أحدهما في كل جمعة كان بارا

“Barang siap yang menziarahi kuburan kedua orang tuanya atau salah satunya setiap Jum’at, maka dicatat sebagai anak yang berbakti.”

Huruf Kaf dalam firman Allah ﷻ:

كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Dalam kedudukan Nashab, merupakan Na’at dari mashdar yang dibuang. Artinya: “Katakan saat kau berdoa untuk kedua orang tuamu: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya dengan rahmat-Mu di dunia atau di akhirat kelak dengan rahmat (kasih sayang) sebagaimana mereka berdua mengasihani, mendidik dan menunjukkanku di waktu kecil”.

Dan boleh huruf Kaf tersebut bermakna Ta’liliyah. Maka artinya: “Karana mereka berdua telah mendidikku, maka penuhilah janjimu pada orang-orang yang telah berbelas kasihan”

Juga terdapat suatu riwayat dalam hadits:

أن رجلا قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم : إن أبوي بلغا من الكبر أني ألي منهما ما وليا مني في الصغر فهل قضيتهما حقهما . قال : لا فإنهما كانا يفعلان ذلك وهما يحبان بقاءك وأنت تفعل ذلك وتريد موتهما) .

“Ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah ﷺ : ” Sesungguhnya kedua orang tuaku telah menginjak usia senja, dan aku mengurus mereka sebagaimana mereka mengurusku diwaktu kecil, apakah aku telah menunaikan hak terhadap mereka berdua?”. Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidak, karena mereka mengasuhmu sembari mereka berharap agar engkau terus hidup, sedangkan engkau merawat mereka sembari menunggu “.kematiannya”.

Marilah kita senantiasa mendoakan kedua orang tua kita baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia dengan doa

اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا

“Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”. Amin

Referensi:

📖 Syaikh al-‘Allamah Muhammad Amin bin Abdullah al-Uramiy al-‘Alawiy al-Harariy asy-Syafi’i| Hada’iqu wa ar-Rauh wa al-Rayyan| Daru Thauqi an-Najah jilid 16 hal 72-73

komentar

Related Posts