Marionette dan Imam Al-ghazali - Atorcator

Marionette dan Imam Al-ghazali

Marionette adalah sebuah permainan boneka yang digerakkan oleh benang² yang terikat di beberapa persendian boneka yang tiap ujung tersambung pada tongkat berbentuk silang yang dijadikan oleh kemudi untuk menggerakkan oleh si pengemudi. Boneka akan bergerak sesuai kehendak oleh pengemudi, bisa berjalan, duduk, berdiri, serta gerakan² lain yang dikehendaki.

Marionette juga bisa tertawa, menjerit, dan memunculkan suara² lain yang tentu saja bukan berasal dari boneka itu. Melainkan berasal dari pengemudi Marionette yang melakukan olah suara agar terdengar seolah suara Marionette itu benar² nyata.

Sepertinya, marionette inilah yang dijadikan sebuah tamsil oleh Imam Al-Ghazali dalam menerangkan derajat² orang yang memahami hakikat² fenomena yang terjadi di muka bumi. Bahwa segalanya, digerakkan dan diatur secara proposional oleh Allah bahkan untuk pemilihan tokoh pemeran Iblis sekalipun.

Imam Al-Ghazali mengatakan,

وانما انت مثل الصبي الذي ينظر ليلا الى لعب المشعبذ الذي يخرج صورا من وراء حجاب ترقص وتزعق وتقوم وتقعد

“Engkau (kita) tidak lebih dari seorang anak kecil yang menyaksikan permanian pesulap dimalam hari yang menampilkan sebuah pertunjukan menari, menjerit, berdiri, dan duduk dari balik layar”

Pertunjukan sulap itu, lebih lanjut Imam Al-Ghazali menerangkan,

وهي مؤلفة من خرق لا تتحرك بأنفسها وانما تحركها خيوط شعرية دقيقة لا تظهر فى ظلم الليل ورؤسها فى يد المشعبذ وهو محتجب عن ابصار الصبيان

“Permainan itu terususun dari kain yang tidak bergerak dengan sendirinya, ia digerakkan oleh seutas benang setipis rambut yang tidak tampak di kegelapan malam. Ujung dari benang itu, berada pada tangan si pesulap yang bersembunyi dari mata anak² kecil”

Tidak begitu dapat diafirmasi, apakah marionette ini yang dimaksud oleh Imam Al-Ghazali dalam teksnya itu atau bukan, namun jika melihat ciri²nya hampir mendekati kemiripan.

Tidak menarik sebetulnya membahas tentang apakah marionette itu yang dimaksud oleh Imam Al-Ghazali atau bukan. Lebih menarik membahas tentang tipikal para penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut.

Bagaimana tipikal para penonton pertunjukkan tersebut?

Tipikal pertama adalah penonton sekelas anak kecil. Penonton ini adalah penonton yang tidak tahu apa yang sebenarnya mereka tonton. Mereka mengira, boneka yang beregerak tersebut bergerak dengan sendirinya tanpa ada yang menggerakkan. Padahal sesungguhnya ada sosok penggerak dari balik layar yang tidak terlihat. Mereka takjub dengan apa yang mereka saksikan tanpa mengetahui ada sosok yang lebih hebat dari balik semua ketakjuban itu.

Menurut Imam Al-Ghazali, saya masih masuk ke dalam tipikal anak kecil ini dalam pentas alam semesta.

Selanjutnya, adalah penonton dengan tipikal orang² yang berakal. Penonton ini adalah penonton yang menyadari akan apa yang sedang mereka lihat. Mereka sadar bahwa boneka yang beregerak tidak bergerak dengan sendirinya melainkan digerakkan oleh seorang sosok pesulap yang sedang bersembunyi.

Tapi tipikal orang² yang berakal ini masih dikatakan sebagai صبيان اهل الدنيا “bocil dunia” (Bukan Bocil ep-ep. Saya PUBG LOL), sebab diantara tipikal penonton yang berakal itu sekalipun mereka mengetahui akan adanya penggerak, tetapi mereka tidak tahu perincian dari setiap pergerakannya.

Kalaupun mereka paham perinciannnya, bocil² dunia itu terkadang juga masih belum sepaham si penggeraknya tentang bagaimana cara menggerakkannya, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, adalah para Ulama’. Tipikal ini berada lebih tinggi dua tipikal sebelumnya. Tipikal penonton sekelas Ulama’ ini mengetahui bagaimana semuanya digerakkan. Namun para ulama’ ini masih belum tahu bagaimana tata cara menggerakkannya. Tipikal ulama’ yang seperti inilah yang banyak.

Yang sedikit adalah tipikal penonton yang disebut al-‘arif dan ulama’ rosikhun. Dua tipikal penonton inilah yang bukan hanya mampu menyaksikan pertunjukan yang sedang terjadi. Tetapi mereka mampu menyaksikan benang² tipis kasat mata yang sedang melekat pada seluruh alam semesta yang sedang di gerakkan oleh Allah atas seluruh makhluknya.

Tanpa terkecuali, benang yang sedang terikat pada setiap sendi dari tubuh kita. Dua tipikal penonton itu, mengetahui akan hal itu.

Wa Allahu A’lam.

*Diolah dari ngaji rutin malam selasa

komentar

Related Posts