Mengasah Pisau Para Kritikus Lembaga Bahtsul Masail - Atorcator

Mengasah Pisau Para Kritikus Lembaga Bahtsul Masail

Ilustrasi: Madrsah muallimin muallimat

Belakangan ini saya membaca lumayan banyak kajian tentang LBM sebab memang sedang menulis agak serius tentang ini. Di antara yang penting tentu saja pada bagian kritik terhadap lembaga fatwa milik NU ini.

Di antara kritik yang umum disampaikan para kritikus adalah kenyataan bahwa LBM cenderung hanya berkutat pada dasar kitab-kitab sekunder saja. Bilangnya Syafi’iyah tapi tidak merujuk kitab Imam Syafi’i. Mengakunya merujuk pada pendapat yang dipilih oleh Imam Nawawi dan Imam Rafi’i tapi yang justru banyak dikutip malah I’anatut Thalibin, Bujairami, Baijuri dan semisalnya, bukan kitabnya Imam Nawawi dan ar-Rafi’i langsung. Juga jelas bahwa LBM tidak memakai metode ijtihadnya Imam Syafi’i dalam memeras hukum dari al-Qur’an dan hadis dan tidak juga meniru metode an-Nawawi dan ar-Rafi’i dalam menyeleksi pendapat syafi’iyah. Kira-kira begitu inti kritik mereka bila memakai bahasa sederhana.

Dari kritik semacam itu kemudian muncul asumsi-asumsi dan suara sumbang seperti misalnya LBM mandeg, tidak mampu menjawab tantangan zaman, terlalu terpaku pada teks, terbius kaku oleh jawaban para imam di masa lalu, mensakralkan kitab fikih yang sejatinya hanya produk dhanni (bukan hal yang mutlak), tak punya metode ijtihad yang mencukupi, setengah hati berijtihad, berpura-pura mau berubah tapi kenyataannya tetap begitu-begitu saja, dan ungkapan sumbang lainnya. Hanya kata “goblok” saja yang barangkali belum saya temukan di belantara kritik itu meskipun arah kritiknya juga ke sana.

Sebenarnya sederhana saja jawaban bagi kritik itu. Kalau rasa haus cukup diatasi dengan minum air mineral seharga Rp.2000 di warung sebelah, untuk apa juga menghabiskan jutaan rupiah dan waktu lama serta tenaga ekstra dengan cara naik ke puncak gunung demi meneguk kemurnian air mineral yang murni dan segar dari sumber mata air alami yang disediakan planet ini? Jadi orang kok kurang kerjaan banget.

Demikian juga dengan masalah-masalah yang dikaji LBM, kebanyakan hanya soal fikih yang kasarnya “remeh temeh” seremeh rasa haus tadi. Untuk apa jauh-jauh berbicara tentang al-Umm-nya Imam Syafi’i atau menjadi sehebat an-Nawawi dan ar-Rafi’i bila yang dibahas cukup selesai dengan I’anah saja?

Loh tapi ada itu bahasan krusial dan penting seperti misalnya tentang masalah perburuhan yang di salah satu bahtsul masail diputusakan dengan kalimat pendek “agar majikan dan buruhnya ishlah (berdamai) sedangkan pemerintah menjadi hakim sesuai syarat yang ada.” Ini kan jauh dari memadai. Harusnya kan melihat lebih kompleks faktor lain semisal sistem upahnya, sistem kontraknya, bagaimana bila mengalami jalan buntu, bolehkah buruh mogok dan sebagainya. Kira-kira begitu kritik lanjutannya.

Jawaban kritik lanjutan yang kritis ini juga sebenarnya sederhana. LBM kan memang bukan lembaga penelitian sosial toh? Data-data semacam itu masak harus dicari dan dibedah oleh LBM juga. Biasanya data semacam itu menjadi konsideran yang dibaca di belakang layar, tidak menjadi bunyi putusan kecuali apabila memang ditanyakan secara spesifik. Bila LBM menuruti kritik semacam ini, maka tiap putusan bisa menjadi buku dan itu pun akan debatable. Karena itu, lembaga fatwa biasanya cukup memberikan pedomannya dan biarlah perdebatan yang mendalam diselesaikan di forum lainnya yang khusus untuk itu.

Tak semua detail perdebatan teknis perlu fatwa toh? Malah terkesan kurang kerjaan bila dikit-dikit fatwa, dikit-dikit fatwa. Biarlah fatwa agama bicara di ranah normatif saja, jangan “diperalat” agar masuk ke soal teknis yang multidimensi agar tak ada pihak yang merasa menjadi “korban fatwa” dan “diancam dengan dosa” karena punya kebijakan teknis yang berbeda-beda.

Saya tak hendak berdebat dengan para ahli yang melancarkan kritik itu, apalagi sebuah status facebook memang tak mungkin memadai untuk itu. Saya hanya ingin mengajak mereka mengasah pisau kritiknya. Hehe…

komentar

Related Posts