Pentingnya Menghormati Madzhab Mayoritas Negeri - Atorcator

Pentingnya Menghormati Madzhab Mayoritas Negeri

Ilustrasi: al-Khoirot

Ada satu adab yang diajarkan oleh imam Malik sebagaimana diceritakan oleh imam Al-Dzahabi

وَقَالَ عَلِيُّ بنُ جَعْفَرٍ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيْلُ ابْنُ بِنْتِ السُّدِّيِّ، قَالَ:
كُنْتُ فِي مَجْلِس مَالِكٍ، فَسُئِلَ عَنْ فَرِيْضَةٍ، فَأَجَابَ بِقَولِ زَيْدٍ، فَقُلْتُ مَا قَالَ فِيْهَا عَلِيٌّ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- فَأَوْمَأَ إِلَى الحَجَبَةِ، فَلَمَّا هَمُّوا بِي، عَدَوتُ، وَأَعجَزْتُهُم، فَقَالُوا: مَا نَصنَعُ بِكُتُبِهِ وَمِحْبَرَتِهِ؟ فَقَالَ: اطْلُبُوهُ بِرِفقٍ. فَجَاؤُوا إِلَيَّ، فَجِئتُ مَعَهُم، فَقَالَ مَالِكٌ: مِنْ أَينَ أَنْتَ؟ قُلْتُ: مِنَ الكُوْفَةِ. قَالَ: فَأَيْنَ خَلَّفْتَ الأَدَبَ؟ فَقُلْتُ: إِنَّمَا ذَاكَرتُكَ لأَستَفِيدَ. فَقَالَ: إِنَّ عَلِيّاً وَعَبْدَ اللهِ لاَ يُنْكَرُ فَضْلُهُمَا، وَأَهْلُ بَلَدِنَا عَلَى قَوْلِ زَيْدِ بنِ ثَابِتٍ، وَإِذَا كُنْتَ بَيْنَ قَوْمٍ، فَلاَ تَبدَأْهُم بِمَا لاَ يَعْرِفُوْنَ، فَيَبدَأَكَ مِنْهُم مَا تَكْرَهُ.
[الذهبي، شمس الدين، سير أعلام النبلاء ط الرسالة، ١٧٧/١١]

“Ismail Ibn Bint al-Suddy telah berkata: aku pernah duduk di majlis Imam Malik, beliau ditanya masalah waris (faroidh), maka imam Malik menjawab dengan pendapat Zaid bin Tsabit. Kemudian aku menyanggah: Ali bin Abi Thalib dan Ibn Mas’ud tidak berpendapat demikian. Maka imam malik memberi isyarat kepada para penjaga. Ketika para penjaga hendak menangkapku, aku menghindar dan membuat mereka tak berdaya.
Para penjaga lalu berkata: apa yang harus kami lakukan pada kitab-kitab dan pena nya? Imam Malik menjawab: ajaklah dia dengan lembut. Kemudian mereka datang kepadaku dan aku pergi bersama mereka (kepada imam Malik). Imam malik kemudian bertanya: kamu dari negri mana? aku menjawab: dari Kufah, lalu kemana adabmu? Saya menyebutkan (pendapat itu) kepadamu agar aku bisa mendapat faidah.
Imam Malik menjawab: sesungguhnya keutamaan Ali dan Ibnu Mas’ud tidak dapat dipungkiri, tetapi penduduk negeri kami (Madinah) mengambil pendapatnya Zaid bin Tsabit”

Karena itulah Qadhi Abu Ya’la menolak seseorang yang akan belajar Madzhab Hanbali kepadnya karena beliau tahu bahwa orang tersebut tinggal di negara yang bermazhab Syafi’i. Beliau menjelaskan padanya

هذا لا يصلح فانك إذا كنت في بلدك على مذهب أحمد وباقي أهل البلد على مذهب الشافعي لم تجد أحدا يعبد معك ولا يدارسك وكنت خليقا أن تثير خصومة وتوقع نزاعا بل كونك على مذهب الشافعي حيث أهل بلدك على مذهبه أولى
[مجد الدين بن تيمية، المسودة في أصول الفقه، صفحة ٥٤١]

“Sikapmu ini tidaklah pantas, karena apabila kamu kembali ke negerimu dengan madzhab Hanbali sedangkan penduduk negerimu bermadzhab Syafi’i, kamu tak akan sama dengan mereka dalam teknis Ibadah, orang-orang juga tidak akan belajar kepadamu dan kamu akan menciptakan bibit permusuhan dan menimbulkan pertikaian. Justru yang lebih utama bagimu adalah tetap bermadzhab syafi’I sebagaimana penduduk negerimu”

Begitulah adab yang diajarkan oleh orang Salaf dahulu. Tapi entah kenapa sekarang banyak muncul para da’i yang malah hobinya tidak hanya menyelisihi bahkan menyalahkan pendapat madzhab yang menjadi mayoritas di negeri ini. Bahkan ada yang dengan lantang menyatakan bahwa mayoritas penduduk Indonesia tidak ikut Imam Syafi’i namun ikut Syafi’iyyah. Inilah yang banyak menimbulkan perpecahan. Semoga kita bisa lebih dewasa dalam menghadapi perbedaan.

komentar

Related Posts