Prinsip Utama Manajemen Keuangan Keluarga - Atorcator

Prinsip Utama Manajemen Keuangan Keluarga

Pada saat acara Hujjah Aswaja TV9 kemarin ada satu hadits yang saya sampaikan terkait prinsip utama Manajemen Keuangan Keluarga di Masa Pandemi yaitu

رَحِمَ الله امرأ اكتسب طيبا وأنفق قصدا وقدم فضلا ليوم فقره وحاجته (ابن النجار عن عائشة)
[السيوطي ,جامع الأحاديث ,13/115]

“Allah merahmati seseorang yang mencari rezeki yang baik (halal), membelanjakannya dengan sederhana dan menyisihkan kelebihannya untuk persiapan di saat fakir dan butuh”

Berdasarkan hadits di atas ada tiga prinsip utama yang bisa kita ambil, yaitu

Pertama, memastikan pendapatan kita berasal dari halal. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu” (Surat Al-Baqarah, Ayat 168)

Kedua, sederhana dalam membelanjakan keuangan. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar” (Surat Al-Furqan, Ayat 67)

Ketika kita menggunakan uang, maka kita harus memiliki skala prioritas. Jika tidak maka seberapa banyak uang yang kita miliki akan habis tanpa terasa. Sebagai contoh ketika kita membawa uang banyak ke Mall dan tidak membawa catatan kebutuhan, maka hampir bisa dipastikan uang yang kita bawa habis karena tergiur dengan diskon yang ditawarkan meski terkadang tidak dibutuhkan mendesak.

Dalam melakukan skala prioritas ini kita bisa menggunakan pendekatan imam Al-Syatibi dalam kitabnya al-Muwafaqat yang membagi Maqashid Syariah menjadi tiga. Yaitu, Dharuriyyat (kebutuhan primer), Hajiyyat (kebutuhan sekunder) dan Tahsiniyyat (Tersier).

Ketiga, menyisihkan uang untuk persiapan di saat butuh atau fakir. Hal ini sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (Surat Al-Hasyr, Ayat 18)

Ayat tersebut meski menurut ulama’ berbicara tentang konteks mempersiapkan akhirat, namun secara umum mengajarkan pada kita prinsip mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan.

Di masa pandemi seperti saat ini, prinsip ketiga ini sangat terasa manfaatnya. Banyak orang yang gajinya besar namun karena gajinya banyak digunakan untuk cicilan barang mewah seperti mobil sangat kebingungan ketika di saat pandemi ternyata terjadi penurunan gaji bahkan di-PHK. Begitu pula orang yang memiliki penghasilan namun selalu dihabiskan untuk tiap bulannya, dia akan sangat kebingungan di saat penghasilannya tidak ada karena adanya lockdown.

Menyisihkan kelebihan di sini tidak hanya terbatas pada tabungan untuk berjaga-jaga. Namun juga penyisihan untuk infak dan sedekah sesuai kemampuan. Hal ini berdasarkan salah satu penjelasan imam Munawi terkait hadits di atas dengan

(وقدم فضلا) أي ما فضل عن انفاق نفسه وممونه بالمعروف بأن تصدق به على المحتاج ليدخره (ليوم فقره وحاجته) وهو يوم القيامة
[المناوي ,فيض القدير ,4/23]

“Sisihkanlah kelebihan dari belanja kebutuhan pribadi dan keluarga yang wajib dinafkahi dengan cara baik untuk disedekahkan pada orang yang membutuhkan sebagai simpanan pahala dalam menghadapi hari yang kita membutuhkannya yaitu hari kiamat”

komentar

Related Posts