Gus Baha dan Kebangkitan Ulama - Atorcator

Gus Baha dan Kebangkitan Ulama

Sejak isu Pandemi ini merebak 6 bulan yang lalu, saya sering mencermati kajian-kajian Gus Baha’ yang disiarkan secara daring. Dalam 6 bulan, saya baru satu kali menghadiri kajian Gus Baha’ di Pesma Al-Hikam Depok. Kajian itu diadakan dalam rangka Haul ke-3 al-Maghfur lahu Kiai Hasyim Muzadi.

Banyak hal baru yang disampaikan oleh Gus Baha’ di dalam semua kajiannya, walaupun sumber pembahasannya adalah kitab karya para ulama. Ketika menyampaikan kajian di Al-Hikam, Gus Baha mengatakan bahwa ia selalu membacakan beberapa bagian dari kitab yang dibawa atau disodorkan sebagai bentuk tabarrukan (mengambil keberkahan) dari ulama yang menulisnya. Pernyataan itu beliau ulangi kembali dalam sebuah pengajian di Jawa Timur. Namun, di Jawa Timur, Gus Baha’ memberi penekanan yang lebih jelas. Beliau tidak ingin menyampaikan opini pribadinya di dalam pengajian umum. Yang ingin beliau sampaikan adalah pandangan para ulama yang menurutnya penuh dengan keberkahan.

Karena itu, jika diundang di pesantren-pesantren, Gus Baha’ selalu membacakan kitab-kitab yang ditulis oleh kiai pendiri pesantren atau yang sering diajarkan kiai pesantren. Itu yang dilakukan ketika beliau diundang di Tebu Ireng dan di al-Hikam Depok.

Di Tebu Ireng, Gus Baha’ membacakan kitab tentang Peran Kiai Hasyim Asy’ari terhadap Kemerdekaan Indonesia, sebuah kitab yang ditulis oleh Syaikh As’ad Syihab. Sementara itu, di Pesma al-Hikam, Gus Baha’ membacakan Kitab al-Hikam, yang merupakan kitab “wajib” yang sering dibaca oleh Kiai Hasyim Muzadi.

Gus Baha’ punya pandangan sendiri kenapa lebih mengedepankan kajian kitab dibandingkan ceramah. Di dalam salah satu kajiannya, Gus Baha’ mengatakan bahwa di antara tanda kemunduran Nahdliyyin adalah selalu mengundang para penceramah yang tidak jelas keilmuannya untuk menyampaikan ceramah di pesantren-pesantren. Para penceramah itu mengemukakan pendapat tanpa dasar ilmu sehingga pada akhirnya membuat pola pikir para santri menjadi sesat. Padahal, seharusnya para penceramah itu yang belajar kepada para kiai di pesantren bukan sebaliknya.

Kritik Gus Baha’ ini dimaksudkan agar para kiai dan santri sadar bahwa selama hampir dua dekade ini pesantren juga mempunyai saham mendukung munculnya “ustadz” dadakan yang juga dikecam sebagian ulama pesantren. Kritik Gus Baha’ itu juga sekaligus memuat solusi bahwa untuk mengurangi fenomena ustadz dadakan, pesantren dan kalangan santri harus menghidupkan kembali tradisi membaca kitab.

Di dalam berbagai pengajiannya, Gus Baha’ seperti meyakinkan bahwa invention (penemuan baru) pemikiran hanya bisa dilakukan dengan menggali khasanah lama. Sampai di sini, apa yang disampaikan Gus Baha’ tersebut menegaskan kembali makna:

المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح

Memelihara tradisi lama yang baik, dan mengambil yang terbaik dari tradisi baru.

Budaya kritik yang berkembang di kalangan ulama masa lalu, tidak akan muncul jika mereka tidak mengkaji karya-karya ulama yang ada sebelum mereka. Imam al-Syafi’i tidak akan mungkin bisa mengkritik pemikiran Hanafiyah (para pengikut Mazhab Imam Hanafi) jika tidak belajar kepada para ulama murid-murid Imam Hanafi. Imam Abu Dawud al-Zhohiri tidak mungkin bisa mengkritik pendapat-pendapat fikih Syafi’iyyah jika sebelumnya tidak mempelajari fikih Syafi’iyyah.

Dari fenomena itu, kita bisa memahami bahwa kritik merupakan invention dari hasil pembacaan terhadap pemikiran sebelumnya. Namun sampai di sini, kita tidak harus selalu berpandangan bahwa untuk mendapatkan penemuan baru harus dalam bentuk kritik. Bisa jadi, penemuan baru itu lahir diinspirasi dari penemuan sebelumnya.

Dari membaca kitab itu, menurut Gus Baha’, ide-ide baru akan muncul. Dan bisa jadi, ide baru itu merupakan ide lama dari seorang ulama yang belum bisa direalisasikan pada masanya.

Walaupun terlihat sederhana, ajakan Gus Baha’ untuk menghidupkan kembali tradisi membaca kitab merupakan bentuk tajdid ala pesantren. Pesantren tidak bisa dipisahkan dari kitab klasik. Karena itu, terdengar aneh jika ada pesantren yang mengabaikan turats dan lebih mengedepankan karya-karya kontemporer. Sebab berbicara tentang kitab, artinya berbicara tentang ulama.

Jika seluruh pesantren mengamini ajakan Gus Baha’ ini, diyakini populasi ustadz dadakan akan berkurang dengan sendirinya. Sehingga nantinya tidak ada lagi ustadz yang berbicara tentang politik praktis di majelis Maulid Nabi atau Isra’ Mi’raj. Karena majelis seperti maulid Nabi, idealnya membahas isi kitab Syamail Imam Tirmidzi atau membahas isi kitab riwayat Maulid, bukan membahas perebutan kekuasaan atau memaki-maki agama lain.

Jika seluruh santri sepakat dengan ajakan Gus Baha’ dan mengamalkan tradisi membaca kitab, bukan tidak mungkin kader-kader ulama baru akan bermunculan di setiap kabupaten. Dan dari situlah, NU kembali bangkit. Karena NU tanpa Ulama bukanlah NU tapi N saja…

komentar

Related Posts