Gus Baha Menjawab Soal Cinta, Asmara dan Jodoh yang Kandas di Tengah Jalan - Atorcator

Gus Baha Menjawab Soal Cinta, Asmara dan Jodoh yang Kandas di Tengah Jalan

Berawal dari obrolan berkelas dua maestro tafsir Indonesia Gus Baha’ dan Prof. Quraish Shihab dalam acara Shihab & Shihab. Dua sosok yang hafiz, begitu luas keilmuan dan tafsir Al-Qur’an,

Tapi yang manarik bagi saya, ya maklum jomlo, ketika Gus Baha’ menjawab persoalanl cinta, asmara dan jodoh dari nitizen yang biasanya bagi Gus Baha’ kadang dianggap pertanyaan nakal.

Hal itu dimulai dari pertanyaan nitizen seperti ini “Gus bolehkah kita menyelawati seseorang supaya bisa berjodoh?😁😆

Gus Baha’ dengan logat ceramah dan pengajiannya yang cukup unik, rileks dan santai, dan sering dibawakan dengan dengan gelak tawa yang hampir tak berkesudahan dan penuh candaan. Tentu beliau ketawa mendengar pertanyaan itu, ya memang kenyataannya ketawa sampe nunduk-nunduk. Hehe

Tapi begitulah Gus Baha’ senakal apapun pertanyaan mesti dijawab dengan cukup logis, ilmiah berdasarkan keilmuan. Lah, bagiamana tidak, beliau langsung masuk pada menjawab substansi pertanyaan.

“Ya klo harapan terus kepada Allah, ya bagus lah. Terus yang dipakek shalawat. Yang nggak bagus kan memaksakan kehendak, klo harapan ya kan bagus ya” jawab Gus Baha’

Gus Baha’ kembali menerangkan di antara sarana قضاء الحوائج (supaya hajat kesampaian) memperbanyak shalawat, apalagi calon yang diidamkan karena kesalehannya dan kebaikannya.

Selanjutnya ada pertanyaan lagi yang menyinggung soal asmara yang tak kunjung membaik “ketika kita sudah berusaha mencari calon istri tapi belum berhasil, dapat putus, dapat putus, apakah kita harus pasrah Gus?

Kembali lagi Gus Baha’ tertawa sembari memunculkan senyum khasnya mendengar pertanyaan yang mungkin juga agak nakal tapi penting untuk mendapatkan pencerahan dari seorang mubaligh kondang ini.

“Harusnya mulai usaha sudah sambil pasrah, berhubung saya bukan dukun yang tak bisa memberikan aji-aji. Jadi ya nasehat saya sabar aja” begitu kira-kira jawaban Gus Baha’ yang tak kalah pasrah dengan nitizen yang bertanya.

Dan ini pertanyaan terakhir ” bagaimana cara ta’aruf yang benar menurut agama Gus?

“Ya yang nggak ada pelanggaran syariat jawabannya” sambil tertawa sembari menundukkan kepala. Intinya selama masih proses yang baik dan untuk hal yang baik masih ditoleransi oleh syariat. Yang jadi pantangannya khulwah (di tempat sepi berduaan dengan lawan jenis).

Sederet pertanyaan di atas seperti angin segar bagi para pejuang cinta yang asmaranya kandas di tengah jalan. Udah lama menjalin hubungan tiba-tiba dihadapkan dengan permasalahan yang tak terpikirkan. Pernah? Shalawatin aja. Yak….😁😆 Atau jangan-jangan pernah merasakan asmaranya ditolak. Ya sabar kata Gus Baha’.

Belum lagi pertanyaan nikah yang sering muncul dari arah yang tak disangka-sangka. Wajar sih, tentu mereka ingin kita bisa bersatu dong, berharap kita tetap satu atap selamanya. Sellow aja. Lagi-lagi shalawatin aja. Hehe

Gus Baha’ tidak hanya sesekali menerangkan cinta. Suatu waktu Gus Baha’ pernah juga menjelaskan tentang orang bisa mati syahid karena dilanda cinta. Mati syahid bukan hanya milik mereka yang berjihad perang dengan senjata. Bagi Gus Baha’ memperjuangkan cinta atau jihad dalam cinta juga masuk kategori mati syahid, mendapatkan tempat syahid tersendiri di sisi Allah.

Namun demikian, Gus Baha’ memberikan catatan-catatan dengan kondisi tertentu kapan orang mati yang dirundung asmara itu masuk kategori mati syahid. Tentu menahan diri agar tidak terjadi perzinahan atau yang mendekati zina sampai mati. Inilah yang dimaksud memendam perasaan dalam diam, mencintai dalam sunyi dengan tetap menjaga kesucian diri.

Di negara demokrasi ini belum ada undang-undang yang mengatur urusan cinta, jadi bebas mau cinta apa tidak. Sebab perasaan cinta itu manusiawi. Berapa juta ummat yang memilih memendam perasaannya dalam diam. Dan berapa banyak juga yang memilih mengekspresikan cintanya, mengungkapkan langsung perasaannya. Ya sah-sah saja, namanya juga negara demokrasi. Semua punya pertimbangan masing-masing yang tak perlu saling intervensi satu sama lain.

Bagi sebagian orang menyatakan cinta itu bukan perkara mudah. Tapi agama menganjurkan untuk menyampaikan perasaannya langsung dengan maksud untuk menikahinya.

Bagi saya, memang selayaknya cinta itu diungkapkan, namun tak semua orang punya nyali. Ya risikonya memang antara ditolak atau diterima. Itu sudah pasti dan itu bagian dari konsekuensi hidup dalam cinta. Sekali menyatakan dengan berani di hadapannya itu sebuah kelegaan luar biasa. Ya lega, ditolak lega, diterima juga lega. Jika sudah benar-benar cinta apapun kondisinya, mengungkapkan cinta memang layak dicoba.

komentar

Related Posts