IKutilah Juga Imam Syafi'i Dalam Tasawwufnya - Atorcator

IKutilah Juga Imam Syafi’i Dalam Tasawwufnya

Beberapa ustadz Wahabi Indonesia selalu mempertanyakan, mengapa kita yang bermazhab Syafi’i dalam Fiqih ikut Imam Asy’ari dalam akidah. Menurut Ustadz Ma’ruf Khozin (Direktur Aswaja NU Center Jatim), itu adalah sebuah pertanyaan jebakan yang sebenarnya mudah jawabannya. Beliau mengcounter mereka dengan gamblang dalam tulisan bernasnya berjudul: Mengapa Madzhab Fikih Syafi’i Tetapi Akidahnya Asy’ari ??

Tulisan ini tidak akan membahas propaganda Wahabi tersebut, tetapi berupa ajakan bagi kita mengikuti Imam Syafi’i (dan para imam mazhab Fikih yang lain) dalam Tasawuf-nya juga agar kita mendapatkan keutamaan yang agung karena derajat yang mulia di sisi Allah tidak hanya dengan ilmu zhahir (Fikih), tetapi juga dengan ilmu batin (Tasawuf).

Berikut adalah seri kehidupan Imam Syafi’i yang harus kita teladani:

Pertama, ahli ibadah. Beliau membagi aktivitas malamnya dalam tiga perkara; ilmu, ibadah dan tidur. Imam Rabi’ bercerita, Imam Syafi’i mengkhatamkan al-Quran sebanyak enam puluh kali sebulan. Itu dilaksanakan dalam shalat. Syaikh Hasan al-Karabisi berkisah: Saya tidak hanya sekali bermalam bersama Imam Syafi’i. Beliau mengisi sepertiga malamnya dengan shalat seraya membaca lima puluh ayat. Jika lebih, maka sampai seratus. Setiap membaca ayat rahmat, beliau berdoa untuk dirinya dan seluruh umat Islam. Jika bertemu ayat azab, beliau memohon keselamatan bagi dirinya serta umat Islam yang lain.

Lihatlah, bagaimana beliau hanya membatasi lima puluh ayat karena tabahur dan tadabburnya beliau pada al-Qur’an.

Imam Syafi’i berkata: Saya tidak pernah kenyang selama enam belas tahun karena kenyang, badan jadi berat, hati jadi keras, kepintaran jadi sirna, mata tidur dan mengendurkan ibadah.

Renungkanlah, kalam hikmah beliau terkait sisi negatif kenyang karena ingin maksimal dalam beribadah. Sedangkan modal ibadah adalah sedikitnya makanan.

Imam Syafi’i berkata: Saya tidak pernah bersumpah, baik dalam jujur atau dusta.

Lihatlah cara beliau memuliakan Allah. Tentunya, hal itu berdasarkan pengetahuan beliau akan keagungan Tuhan.

Suatu ketika, beliau ditanya suatu masalah. Beliau diam. ‘Apa engkau akan menjawabnya, wahai Syaikh ??’ tanya seseorang. Beliau menjawab ‘Sampai saya tau, apa sebaiknya diam atau menjawab.’

Lihatlah bagaimana beliau menjaga lisannya meski sesungguhnya lisan paling sulit dijaga. Oleh karenanya, itu menjadi bukti bahwa beliau tidak berkomentar atau diam kecuali mencari keutamaan serta pahala.

Kedua, zuhud. Imam Syafi’i berkata: Sesiapa yang mengaku dapat mencintai dunia beserta Penciptanya maka dia telah berdusta.

Syaikh Humaidi berkisah: Suatu hari, Imam Syafi’i pergi ke Yaman, lalu ke Mekah dengan membawa sepuluh ribu dirham. Masyarakat berbondong-bondong menyambut dan membuatkannya tenda di luar Mekah. Kemudian, Imam Syafi’i membagikan dirhamnya sampai habis.

Kedermawanan beliau sangat masyhur, karena pondasi zuhud adalah dermawan. Seseorang yang mencintai harta sudah pasti menggenggam dan tak akan melepasnya kecuali bagi orang-orang yang melihat kecil dunia. Inilah yang dinamakan zuhud.

Ketiga, alim dalam rahasia hati dan ilmu akhirat. Hal ini bisa dibaca dari banyak kalam hikmah beliau. Diantara dawuh beliau: Riya’ adalah fitnah yang diikat oleh hawa nafsu pada mata batin Ulama’ maka mereka memandangnya dengan sebelah mata hingga membuat amal kebaikannya tergerus. Sesiapa yang tidak menjaga diri maka ilmunya tidak bermanfaat. Setiap orang pasti ada yang suka dan membenci maka bersamalah dengan orang yang taat pada Allah.

Semua kalam hikmah beliau menunjukkan tabahurnya pada rahasia al-Qur’an serta basirah beliau pada maqam salik yang merupakan ilmu akhirat.

Keempat dan kelima, keikhlasan dalam Fikih dan berdiskusi. Hal itu tampak dalam dawuh beliau ‘Saya ingin manusia mengambil manfaat dengan ilmu (Fikih) ini dan tidak menisbatkannya padaku.’ Lihatlah bagaimana beliau memandang petaka ilmu serta keengganannya namanya disebut.

Beliau juga dawuh: Meski berdiskusi dengan seseorang, saya tidak mengharapkannya keliru. Ini merupakan tanda keikhlasan beliau dalam Fikih dan berdiskusi.

Setidaknya, dalam lima perkara itulah kita sebagai pengikut madzhab Syafi’i meneladani Imam Syafi’i, bukan hanya dalam Fikihnya saja. Imam Abu Tsaur berkata ‘Kami tidak melihat seseorang seumpama Imam Syafi’i.’

Pendiri Madzhab Hanbali, Imam Ahmad bin Hanbal, menjelaskan sosok Imam Syafi’i pada putranya ‘Beliau ibarat matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia.’

Syaikh Yahya bin Said al-Qatthan berkisah ‘Selama empat puluh tahun, saat shalat saya selalu mendoakan Imam Syafi’i karena nikmat Allah yang diberikan kepadanya berupa ilmu dan kebenaran.’

Wallahu a’lam

komentar

Related Posts